MARKET DATA

Pasar Kripto "Gemetar" Menanti Sabda The Fed, Bitcoin Cs Tak Berkutik

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
26 January 2026 10:05
Bitcoin. (REUTERS/Benoit Tessier/Illustration/File Photo)
Foto: Bitcoin. (REUTERS/Benoit Tessier/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar aset kripto pada awal pekan ini, Senin (26/01/2026), masih cenderung berada di bawah tekanan. Meskipun terdapat sejumlah pernyataan positif dari para tokoh global di Forum Ekonomi Dunia (WEF), Davos, harga mayoritas aset kripto utama belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Bitcoin (BTC) dan sebagian besar altcoin berkapitalisasi besar masih mencatatkan penurunan dalam rentang waktu mingguan. Pelaku pasar tampaknya lebih merespons data likuiditas dan kebijakan moneter dibandingkan sentimen naratif jangka panjang. Berikut adalah analisis pergerakan pasar hari ini.

Rebound dari Level Terendah

Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level $87.394, mencatatkan penurunan harian sebesar -1,90%. Secara mingguan, nilai Bitcoin terkoreksi sebesar -5,50%.

Pada sesi perdagangan dini hari tadi, harga Bitcoin sempat mengalami tekanan jual hingga menyentuh level $86.000. Namun, harga berhasil mengalami pemulihan (rebound) teknikal kembali ke kisaran $87.400.

Level $88.000, yang sebelumnya merupakan titik dukungan (support), kini menjadi level resistensi terdekat yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi stabilitas harga jangka pendek.

Respons Pasar Terhadap Pidato Trump dan CZ di Davos

Terdapat perbedaan yang mencolok antara sentimen berita dan reaksi harga pasar. Di Forum Ekonomi Dunia (WEF), Davos, Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali komitmennya untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai pusat industri kripto dunia (Crypto Powerhouse).

Senada dengan hal tersebut, pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ), juga menyampaikan pandangan optimis mengenai potensi siklus kenaikan besar (Supercycle) pada tahun ini.

Meskipun narasi tersebut bersifat positif, pasar aset kripto justru bergerak stagnan dan cenderung melemah. Hal ini mengindikasikan bahwa investor saat ini lebih berhati-hati dan tidak serta-merta melakukan akumulasi aset hanya berdasarkan pernyataan politis atau prediksi jangka panjang, melainkan menunggu konfirmasi dari data ekonomi makro.

Changpeng Zhao, Co-Founder & CEO, Binance. (Pedro Fiúza/NurPhoto via Getty Images)Foto: Changpeng Zhao, Co-Founder & CEO, Binance. (NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)

The Fed dan Arus Keluar ETF

Faktor fundamental yang menahan laju pasar adalah kondisi likuiditas. Laporan pasar menunjukkan adanya arus keluar modal (capital outflow) dari produk ETF Bitcoin Spot yang mencapai US$ 1,8 miliar dalam satu pekan terakhir. Angka ini mencerminkan sikap defensif dari investor institusi.

Selain itu, pelaku pasar juga mengantisipasi The Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS The Fed mendatang pada Selasa dan Rabu waktu AS atau Rabu Kamis dini hari waktu Indonesia (29/1/2026) dini hari yang memproyeksikan untuk menahan suku  bunganya.

Kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi membuat instrumen berpendapatan tetap menjadi lebih menarik dibandingkan aset berisiko. Kombinasi antara outflow ETF dan ketidakpastian kebijakan moneter ini menjadi pemberat utama bagi pergerakan harga Bitcoin.

Koreksi pada Ethereum dan Altcoin

Dampak dari tekanan pasar ini juga terlihat pada Ethereum (ETH) yang diperdagangkan di level $2.869, turun -2,81% dalam 24 jam terakhir. Dalam sepekan, Ethereum telah mengalami koreksi sebesar -10,43%, membawa harganya menjauh dari level psikologis $3.000.

Penurunan juga terjadi pada aset kripto lainnya seperti Solana (SOL) yang turun -4,23% dan Cardano (ADA) yang melemah -3,01%. TRON (TRX) tercatat relatif stabil dengan kenaikan tipis, namun tren mingguannya masih berada di zona negatif.

Outlook Pasar

Dalam jangka pendek, pasar diproyeksikan masih akan bergerak dengan volatilitas terbatas. Fokus utama pelaku pasar tertuju pada kemampuan Bitcoin untuk bertahan di atas level $87.000 dan mencoba menembus kembali level $88.000.

Jika tekanan jual dari pasar institusi berlanjut, level $86.000 akan kembali diuji sebagai batas bawah pertahanan harga. Investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan data ekonomi makro AS sebagai penunjuk arah tren selanjutnya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular