MARKET DATA

Kesenjangan Nasib: Ini Deretan Saham yang Masih Mini di Grup Konglo

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
26 January 2026 08:20
Intip Harta Orang Terkaya RI Dari Dividen, Sosok Ini Terbesar
Foto: Infografis/ Intip Harta Orang Terkaya RI Dari Dividen, Sosok Ini Terbesar/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham konglomerasi sejak tahun lalu selalu ikut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tak sedikit yang kapitalisasi pasar-nya ikut jadi jumbo, tapi ternyata masih ada yang market cap-nya mini, siapa saja mereka?

Jika biasanya investor langsung mengasosiasikan konglomerat dengan saham berkapitalisasi raksasa, deretan emiten ini menunjukkan cerita berbeda.

Di dalam satu grup bisnis, tidak semua entitas tumbuh merata. Ada yang sudah menjadi tulang punggung utama, tapi ada pula yang masih berada di lapis kedua atau ketiga dari sisi kontribusi dan valuasi pasar.

Pada grup Prajogo Pangestu misalnya, memang mendominasi dari sisi kapitalisasi. Namun di grup lain seperti Bakrie, Aguan, Emtek, Hashim Djojohadikusumo, hingga Happy Hapsoro, sebagian saham afiliasi masih berada di level market cap yang relatif "imut".

Mulai dari Grup Haji Isam melalui Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dan Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) dengan market cap masih di kisaran Rp2 triliun.

Pada Grup Bakrie, misalnya, Visi Media Asia Tbk (VIVA) dan Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) masih bertahan di level kapitalisasi di bawah Rp1,5 triliun. Padahal keduanya berada di bawah payung grup yang sudah puluhan tahun malang melintang di sektor media, energi, dan properti.

Situasi serupa terlihat di Grup Aguan melalui Jakarta International Hotels & Development Tbk (JIHD) dan Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP). Meski Aguan dikenal kuat di sektor properti premium, kedua saham ini masih berada di kategori small cap.

 

Dari sisi Grup Emtek, Cahaya Aero Services Tbk (CASS) dan Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK) menempati lapisan bawah struktur grup, tetapi perlu dicatat sementara ini RSGK masih berstatus suspensi.

Sementara paling buncit dari grup Arsari yang berkaitan dengan Hashim Djojohadikusumo lewat Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) hanya Rp178 miliar dan Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) kurang dari Rp2 triliun.

Berikut rincian lebih lengkap dari deretan saham konglo yang masih tertinggi di satu grupnya alias masih memiliki market cap "mini":


Kondisi market cap yang masih mini membuat saham-saham tersebut kerap dikategorikan sebagai second liner atau bahkan third liner dalam ekosistem konglomerasi masing-masing. Meski bukan bintang utama grup, justru di segmen inilah biasanya muncul cerita menarik, baik berupa potensi ekspansi bisnis, restrukturisasi, masuknya proyek baru, maupun perubahan strategi induk usaha.

Bagi pelaku pasar, saham konglo berkapitalisasi kecil sering diposisikan sebagai option value play. Risiko tentu lebih tinggi, namun imbal hasilnya juga bisa jauh lebih besar jika terjadi katalis korporasi atau perbaikan fundamental.

Tidak heran jika saham-saham seperti ini kerap menjadi radar trader dan investor agresif yang memburu peluang pertumbuhan atau skenario turnaround.

Singkatnya, meski berada dalam naungan nama besar, beberapa emiten ini masih menyimpan ruang rerating yang lebar, tinggal menunggu momentum yang tepat.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

(saw/saw)



Most Popular