MARKET DATA

Gen AI Tembus 5 Besar Aplikasi Dunia: dari Eksperimen Jadi Mesin Uang

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
26 January 2026 15:25
10 Kota Penguasa AI di Dunia, Maaf Gak Ada Jakarta!
Foto: Infografis/ 10 Kota Penguasa AI di Dunia, Maaf Gak Ada Jakarta!/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Aplikasi berbasis generative artificial intelligence (Gen AI) mencatat pertumbuhan eksplosif dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekadar teknologi eksperimental, Gen AI kini menjelma menjadi bagian penting dalam ekosistem aplikasi mobile global, dengan jumlah unduhan, pendapatan, hingga waktu penggunaan yang terus meningkat tajam.

Namun di balik euforia tersebut, muncul pula pertanyaan krusial: apakah lonjakan ini cukup solid untuk menopang industri AI yang dikenal sangat padat modal?

Dari Chatbot hingga Asisten Kerja Harian

Gen AI apps adalah aplikasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan generatif. Bentuknya beragam, mulai dari chatbot pintar seperti Chat GPT, aplikasi pembuat gambar dan video dari teks, hingga AI yang membantu proses belajar, menulis, dan pekerjaan harian.

Karakter ini membuat Gen AI berbeda dari aplikasi konvensional. Pengguna tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga berinteraksi secara aktif untuk menghasilkan output baru.

Tumbuh Cepat, Jadi Kebiasaan Baru

Data yang dirangkum Visual Capitalist menunjukkan Gen AI apps tumbuh sangat cepat dalam waktu singkat. Aplikasi ini sudah menjadi bagian dalam keseharian banyak orang, sejajar dengan media sosial dan aplikasi produktivitas lain di ponsel.

Jumlah unduhan global diperkirakan akan menembus miliaran kali dalam beberapa tahun ke depan. Ini menjadi indikasi kuat bahwa minat terhadap AI generatif bukan sekadar tren sesaat, melainkan telah masuk ke pola penggunaan sehari-hari.

Uang Mulai Mengalir, AI Masuk Liga Atas Aplikasi Mobile

Konsumen global diperkirakan akan menghabiskan lebih dari US$10 miliar atau sekitar Rp150 triliun pada 2026 untuk penggunaan Gen AI apps, baik melalui langganan premium, pembelian dalam aplikasi, maupun fitur berbayar lainnya. Dengan angka tersebut, Gen AI diproyeksikan masuk dalam lima besar kategori aplikasi dengan pendapatan terbesar di dunia.

Data Sensor Tower menunjukkan bahwa hingga kuartal III-2025, Chat GPT telah menjadi aplikasi nomor dua secara global berdasarkan pendapatan in-app purchase di iOS dan Google Play, hanya berada di bawah TikTok. Capaian ini tergolong luar biasa mengingat teknologi AI generatif masih relatif baru.

Seiring ekspansi kompetitor seperti Google Gemini dan berbagai alat berbasis AI lainnya, momentum pertumbuhan kategori Gen AI diperkirakan akan semakin menguat ke depan.

Di Balik Euforia, Ada Risiko Over-Optimisme

Meski angka unduhan dan pendapatan terlihat menjanjikan, optimisme berlebihan terhadap industri AI juga menyimpan sejumlah risiko.

Biaya operasional AI sangat besar, mulai dari infrastruktur komputasi, energi, hingga riset dan pengembangan. Ditambah lagi banyak perusahaan aplikasi AI saat ini menggunakan teknologi AI yang sudah ada tanpa menguasai teknologi inti seperti model, chip, atau infrastruktur. Model bisnis semacam ini memiliki daya tawar harga yang rendah karena mudah ditiru. Bisnis dapat menjadi sangat rentan saat pendanaan mulai mengetat.

Selain itu, banyak orang yang lupa bahwa AI juga memiliki keterbatasan fisik. Pertumbuhan AI sangat bergantung pada ketersediaan GPU, pusat data, dan energi. Dengan GPU yang langka, biaya listrik yang mahal, dan kapasitas data center yang terbatas, ekspansi AI tidak sepenuhnya bisa mengandalkan skala software seperti internet di awal kemunculannya.

Kesimpulan: AI Bertahan, Tapi Tidak Semua Pemain

Ledakan aplikasi Gen AI menunjukkan bahwa AI generatif akan bertahan dan menjadi bagian penting dari ekonomi digital. Namun, itu tidak berarti semua pemain di dalamnya akan selamat.

Industri AI kemungkinan akan bergerak ke arah winner-takes-most. Hanya segelintir perusahaan besar yang memiliki data paling akurat dan modal paling kuat yang mampu bertahan dan mendominasi. Sementara itu, banyak pemain lain menghadapi risiko diakuisisi dengan valuasi rendah atau tersingkir dari pasar.

Dengan kata lain, tantangan utama industri AI ke depan bukan lagi soal adopsi, melainkan daya tahan bisnis dan seberapa cepat AI bisa bertransformasi dari teknologi populer menjadi mesin laba yang berkelanjutan.

 

(mae/mae)



Most Popular