Kabar Baik! Warga RI Mulai Kurangi Minuman Beralkohol
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar duka datang dari selebgram Lula Lahfah yang ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan. Polisi mengungkapkan bahwa sebelum ditemukan meninggal, Lula diketahui sedang dalam kondisi kurang sehat dan tidak ada indikasi overdosis obat terlarang maupun alkohol.
"Kami perlu tegaskan berdasarkan data klinis dan hasil laboratorium, tidak ditemukan indikasi intoksikasi obat atau zat terlarang. Penyebab utamanya adalah gangguan irama jantung fatal yang dipicu oleh kondisi fisik yang sangat drop," ujar dr. Haryanto, Sp.JP, dalam konferensi pers singkat di Jakarta dikutip Minggu (25/1/2026).
Terlepas dari tragedi tersebut, alkohol memang sering dikaitkan dengan gaya hidup anak muda masa kini. Faktanya, data menunjukkan bahwa tingkat konsumsi alkohol usia 15 tahun ke atas menurun di Indonesia.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi alkohol tercatat sebesar 0,30 liter per kapita, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Tren ini memperpanjang penurunan bertahap yang telah berlangsung sejak 2023.
Indikator konsumsi alkohol digunakan sebagai bagian dari pengukuran capaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3, yakni menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk.
Secara khusus, indikator ini berkaitan dengan target 3.5 yang menekankan pencegahan dan penanganan penyalahgunaan zat adiktif, termasuk alkohol.
Konsumsi alkohol juga dipakai sebagai indikator proksi untuk melihat potensi penggunaan alkohol berbahaya yang berisiko memicu kriminalitas maupun perilaku negatif.
Dalam perhitungannya, minuman beralkohol mencakup bir serta minuman keras lainnya seperti anggur, vodka, dan sejenisnya. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret, konsumsi alkohol penduduk usia ≥15 tahun secara konsisten menurun sepanjang 2023-2025.
Jika dilihat dari sisi ekonomi, rumah tangga berpengeluaran tinggi tercatat mengonsumsi alkohol lebih banyak dibandingkan kelompok dengan pengeluaran rendah. Namun anehnya, konsumsi alkohol di pedesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Meski demikian, penurunan konsumsi di pedesaan justru lebih tajam.
Dari 2024 ke 2025, konsumsi alkohol di pedesaan turun sebesar 0,08 liter per kapita, sementara penurunan di wilayah perkotaan hanya 0,01 liter per kapita. Data ini menunjukkan adanya perbedaan jenis alkohol yang dikonsumsi antarwilayah dan perubahan perilaku konsumsi yang tidak seragam.
Perbedaan paling mencolok terlihat pada aspek jenis kelamin. Pada 2025, konsumsi alkohol penduduk laki-laki usia ≥15 tahun tercatat 19 kali lebih besar dibandingkan perempuan. Meski demikian, tren penurunan terjadi pada kedua kelompok.
(ras/luc)