MARKET DATA

Rontok Jelang KMSCI, Bagaimana Nasib Saham BUMI & DEWA Selanjutnya?

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
23 January 2026 08:50
Tambang batu bara Asam-Asam yang dikelola PT Arutmin, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Foto: Tambang batu bara Asam-Asam yang dikelola PT Arutmin, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) kompak terjun nyaris 10% pada perdagangan kemarin Kamis (22/1/2026). Kira-kira ada sentimen apa? apakah masih menarik dilirik saham-nya?

Pada Kamis kemarin, saham Bumi Resources (BUMI) anjlok 9,8% ke level 348. Saham ini juga terpantau paling banyak ditransaksikan sampai terkena net sell Rp 1,01 triliun.

Mengutip Refinitiv, BUMI menjadi pemberat utama indeks kemarin dengan bobot 9,86 indeks poin.

Hal serupa juga terjadi pada saham emiten Bakrie lain-nya, DEWA yang membukukan net sell Rp 266,1 miliar dan turun 9,5% kemarin ke level 665. DEWA menyeret IHSG turun dengan bobot 4,4 indeks poin.

Saham BUMI dan DEWA meskipun mengalami penurunan, kedua-nya masih dinilai potensial masuk menjadi kandidat MSCI pada edisi Februari 2026. BUMI sejauh ini sudah masuk kategori small cap, sementara DEWA digadang masuk kategori small cap dulu.

Namun, semakin dekat pengumuman ketidakpastian datang, apalagi MSCI akan menerapkan aturan free float yang lebih ketat. Saat ini masih dalam periode menerima masukan dulu dari pelaku pasar dengan batas sampai akhir bulan ini.

Pada 30 Januari 2026, MSCI akan mengumukan aturan baru yang akan mulai diberlakukan pada rebalancing Mei 2026. Hal ini dipandang menjadi faktor yang menahan minat beli, karena bisa berdampak pada kelayakan saham terhadap kriteria indeks global.

Menariknya, penurunan harga saham BUMI dan DEWA akhir-akhir ini juga terjadi bersamaan dengan aksi jual oleh pemegang saham besar (di atas 5%), yang biasanya dianggap sebagai sentimen negatif.

Untuk BUMI, salah satu pemegang saham besar, Chengdong Investment Corporation, tercatat telah melakukan penjualan saham secara bertahap sepanjang Desember 2025, dengan total lebih dari 3,7 miliar saham yang dilepas, sehingga kepemilikannya di BUMI turun dari sekitar 6,99% menjadi sekitar 5,99%.

Sementara itu pada DEWA, pemegang saham utama seperti PT Andhesti Tungkas Pratama dikabarkan juga mengurangi porsi kepemilikan mereka, meskipun dalam proporsi yang lebih kecil dibanding BUMI

Namun jika ditelisik lebih jauh, aksi jual tersebut sebenarnya juga bisa dimaknai sebagai strategi untuk meningkatkan free float jelang keputusan MSCI yang baru, terutama ketika aturan free float menjadi sorotan dan porsi saham yang diperdagangkan secara publik menjadi tolok ukur penting bagi kriteria masuknya saham di indeks global tersebut.

Dengan meningkatnya jumlah saham yang beredar di pasar, emiten berpeluang lebih memenuhi syarat investability di mata manajer indeks internasional.

Di tengah tekanan harga saham yang terjadi menjelang agenda rebalancing MSCI, BUMI dan DEWA masih punya story transformasi bisnis yang cukup kuat.

BUMI

BUMI tengah menjalankan strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan terhadap batubara, dengan memperluas portofolio ke sektor energi baru terbarukan (EBT), mineral, dan logam. Langkah ini menjadi bagian dari upaya reposisi BUMI agar lebih relevan dengan arah transisi energi global dan preferensi investor institusional.

Salah satu langkah konkret yang sudah direalisasikan adalah akuisisi 100% saham Wolfram Limited di Australia, yang rampung pada November 2025. Melalui akuisisi ini, BUMI memperoleh eksposur ke tambang emas dan tembaga, dua komoditas yang dinilai memiliki prospek jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan logam untuk elektrifikasi dan pengembangan energi bersih.

Aksi korporasi ini menandai masuknya BUMI ke segmen logam bernilai tambah yang lebih stabil dibanding batubara.

Selain itu, BUMI juga memperkuat pijakan di sektor mineral dengan mengakuisisi 45% saham PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit. Investasi ini membuka peluang bagi BUMI untuk terlibat lebih jauh dalam rantai pasok aluminium, yang memiliki permintaan struktural kuat, terutama dari sektor kendaraan listrik dan infrastruktur energi.

Di sisi internal, BUMI juga masih berada dalam fase restrukturisasi dan reorganisasi korporasi yang bertujuan memperbaiki struktur keuangan, efisiensi operasional, serta fleksibilitas pendanaan.

Reorganisasi ini menjadi fondasi penting bagi BUMI untuk melanjutkan agenda ekspansi dan akuisisi ke depan, termasuk memanfaatkan ruang pendanaan dari pasar obligasi yang disebut-sebut akan digunakan untuk mendukung aksi korporasi lanjutan.

Dari sisi pendanaan, BUMI telah menerbitkan tiga tahap obligasi di tahun 2025 dan tahap IV sedang bergulir pada Januari 2026, yang merupakan bagian dari Obligasi Berkelanjutan I BUMI dengan target dana keseluruhan Rp5 triliun. Rincian-nya sebagai berikut :

  • Tahap I Tahun 2025: Diterbitkan senilai Rp350 miliar pada Juli 2025.

  • Tahap II Tahun 2025: Diterbitkan senilai Rp721,61 miliar pada September 2025.

  • Tahap III Tahun 2025: Diterbitkan senilai Rp780 miliar pada Desember 2025, dengan bunga tetap 9% per tahun dan tenor 5 tahun.

Total nominal yang telah diterbitkan dari ketiga tahap tersebut adalah sekitar Rp1,85 triliun. BUMI masih memiliki sisa plafon dari program obligasi berkelanjutan senilai sekitar Rp3,15 triliun yang berpotensi diterbitkan di masa mendatang, termasuk kemungkinan IV pada Januari 2026 yang sedang berlangsung dengan target pendanaan Rp345 miliar.

Pendanaan yang besar tersebut diharapkan dapat menjadi modal strategis bagi BUMI untuk melanjutkan aksi akuisisi selanjutnya, sekaligus memperkuat portofolio usaha di luar batubara.

DEWA

Sementara itu, DEWA juga menguatkan struktur keuangannya dengan fasilitas kredit dari bank besar, seperti kredit modal kerja dan investasi senilai sekitar Rp1 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang ditandatangani pada akhir Desember 2025.

Fasilitas ini ditujukan untuk mendukung pembelian alat berat baru, peningkatan kapasitas armada, serta mendorong kenaikan volume pekerjaan di proyek-proyek utama.

Pendanaan tersebut menjadi krusial mengingat DEWA baru-baru ini berhasil mengamankan kontrak jasa pertambangan bernilai sekitar Rp10,5 triliun dengan PT Arutmin Indonesia.

Lebih dari sekadar nilai kontraknya, perjanjian ini bersifat life of mine, artinya kontrak akan berlaku hingga masa operasional tambang tersebut selesai ditambang, sehingga memberikan kepastian pendapatan dan visibilitas arus kas jangka panjang bagi perusahaan.

 

DEWA juga menjalankan program buyback saham sebagai bentuk komitmen manajemen dalam menjaga nilai pemegang saham di tengah volatilitas pasar.

Tantangan bagi DEWA saat ini kemungkinan lebih fokus pada restrukturisasi internal terutama untuk penghapusan aset tidak produktif dan akumulasi kerugian dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat DEWA terlambat melaporkan kinerja keuangan kuartal III/2025, sehingga mendapatkan notasi L oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)



Most Popular