MARKET DATA

Sell America! Sell America, Menggema!: Dolar Ambruk Terburuk 5 Bulan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 January 2026 09:55
FILE PHOTO: A U.S. Dollar note is seen in this June 22, 2017 illustration photo.   REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo
Foto: REUTERS/Thomas White

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) sedang mendapat tekanan besar dari pasar keuangan global. Salah satu tandanya terlihat dari anjloknya indeks dolar AS (DXY).

DXY merupakan indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, yakni euro, yen Jepang, poundsterling Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Pelemahan ini terjadi ketika pasar kembali ramai melakukan aksi sell America.

Mengacu data Refinitiv, indeks dolar AS (DXY) pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026) turun 0,76% ke level 98,641. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak 1 Agustus 2025, ketika DXY sempat merosot 0,83% dalam sehari.

Pelemahan pun berlanjut di perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026). Per pukul 09.07 WIB, DXY terpantau masih berada di zona merah dengan penurunan sebesar 0,15% di level 98,945.

Sell America Menguat, Ini Penyebabnya

Pelemahan dolar kali ini terjadi seiring menguatnya sentimen risk off di pasar global. Sejumlah pelaku pasar menilai pergerakan kemarin mencerminkan ungkapan "Sell America" yang kembali terbentuk yang ditandai dengan investor melepas dolar AS dan juga obligasi pemerintah AS, sementara permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas meningkat.

Ketegangan politik AS dan Eropa terkait Greenland menjadi salah satu pemicu memburuknya sentimen. Ancaman dari Gedung Putih terhadap negara negara Eropa terkait masa depan Greenland memicu aksi jual luas pada aset AS, mulai dari saham hingga obligasi pemerintah. Kondisi tersebut membuat mata uang Eropa ikut menguat, terlihat dari euro dan poundsterling Inggris yang bergerak naik terhadap dolar AS.

Pelaku pasar menilai eskalasi ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian kebijakan dan mengerek premi risiko terhadap aset aset AS, sehingga investor memilih mengurangi atau melakukan lindung nilai atas eksposur mereka.

Tony Sycamore, analis pasar di IG, menilai investor melepas aset berdenominasi dolar karena kekhawatiran ketidakpastian yang berkepanjangan, hubungan aliansi yang kian tegang, menurunnya kepercayaan terhadap kepemimpinan AS, potensi aksi balasan, hingga percepatan tren de-dolarisasi.

Krishna Guha, Head of Global Policy and Central Banking Strategy Evercore ISI dikutip dari CNBC International, juga menilai tekanan ini memperlihatkan kembalinya sell America dalam konteks risk off yang lebih luas.

Dinamika tersebut ikut memicu gejolak lintas aset. Harga obligasi pemerintah AS turun sehingga imbal hasil naik, pasar saham AS ikut tertekan, dan volatilitas meningkat. Di saat yang sama, emas dan perak menguat, mencerminkan pergeseran permintaan ke aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai dampak sell America bisa bersifat sementara.

Sejumlah analis menilai ancaman tarif dalam jangka pendek memang menjadi faktor negatif bagi dolar, terutama ketika posisi pasar masih condong besar pada dolar. Namun, jika eskalasi membesar dan merembet ke isu yang lebih sensitif bagi hubungan keamanan, risiko bagi Eropa juga dapat meningkat dan membuat respons pasar berubah.

Dalam konteks yang lebih luas, sell America menggambarkan fase ketika investor global menempatkan premi risiko lebih tinggi pada investasi di AS, terutama saat ketidakpastian kebijakan meningkat dan kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi dinilai goyah. Kondisi ini dapat menekan dolar sekaligus mendorong arus diversifikasi ke aset dan kawasan lain.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular