MARKET DATA

Peta Kekuatan Pasar Modal RI Berubah, Asing Gak Kuat Lagi

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
22 January 2026 10:30
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (15/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (15/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peta kekuatan pasar modal Indonesia mengalami perubahan besar di awal tahun 2026. Data perdagangan tahun berjalan (Year-to-Date/YTD) menyingkap fakta yang cukup mengejutkan yaitu kontribusi investor asing dalam nilai transaksi harian merosot tajam hingga menyentuh level 26%.

Angka ini bukan sekadar statistik biasa. Level 26% merupakan titik terendah dalam lima tahun terakhir, mengulang fenomena tahun 2021 saat pasar saham dibanjiri oleh semangat investor ritel dalam negeri.

Penurunan drastis peran asing ini menjadi bukti nyata bahwa kendali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini telah berpindah tangan secara penuh ke investor domestik.

Asing Pasif, Bursa Tetap Ramai

Biasanya, menyusutnya porsi transaksi asing sering menjadi tanda awal pasar yang lesu atau turun. Namun, awal 2026 menyajikan kondisi yang berbeda.

Di saat investor global mengambil sikap menahan diri, kemungkinan besar menanti kejelasan kebijakan suku bunga global dan meredanya ketegangan geopolitik-likuiditas di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru tetap membanjir.

Kekosongan uang yang ditinggalkan asing seketika digantikan oleh agresivitas investor ritel yang sudah mencapai 50% pada penutupan perdagangan tahun 2025 silam serta manajer investasi lokal.

Hal ini menciptakan bantalan dana yang kuat, sehingga IHSG mampu bertahan bahkan mencatatkan kinerja positif meskipun minim arus dana masuk dari luar negeri sehingga IHSG masih bisa melanjutkan rally-nya mencapai titik Rabu (19/1/2026) di level 9.010,33.

Menuju Era Kemandirian Bursa

Tim Riset CNBC Indonesia menganalisis bahwa fenomena "kemandirian bursa" ini sejatinya bukan kejadian tiba-tiba, melainkan tren yang telah terbentuk sejak tahun 2025.

Pada tahun 2025, Rata-rata Nilai Transaksi Harian sukses menembus rekor tertinggi sepanjang masa di angka Rp18,06 triliun.

Uniknya, di tengah pesta transaksi tersebut, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih jumbo sebesar Rp18,36 triliun dengan porsi transaksi yang turun ke 38,3% walaupun sejak November asing sudah mulai mencatatkan inflow ke bursa hingga hari Rabu (21/1/2026).

Data ini membuktikan bahwa rekor transaksi pasar modal Indonesia kini dapat tercipta dari kekuatan uang dalam negeri semata serta didorong dengan ekspansi fiskal dalam negeri yang disokong oleh kebijakan Menteri Keuangan Pak Purbaya.

Apa Artinya Bagi Investor?

Pergeseran peta kekuatan ini mengirimkan sinyal penting bagi para pelaku pasar yaitu Kita sedang memasuki era baru, di mana hubungan antara aksi jual asing dan kejatuhan IHSG cenderung netral dan melemah.

Oleh karena itu, strategi investasi klasik yang hanya mengandalkan indikator Arus Dana Asing tidak lagi menjadi satu-satunya penunjuk arah yang akurat. Investor disarankan untuk mulai memperhitungkan pola belanja investor domestik.

Saham-saham berkapitalisasi besar (saham unggulan) mungkin akan bergerak lambat tanpa dorongan asing, namun saham lapis kedua dengan kinerja keuangan solid yang menjadi favorit institusi lokal berpotensi menjadi primadona di tahun 2026 ini.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular