MARKET DATA

"Gold Finger", Investor Legendaris Asia Ini Parkir 25% Harta di Emas

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
19 January 2026 17:22
emas
Foto: emas

Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah mengejutkan datang dari salah satu investor paling disegani di Asia, Cheah Cheng Hye. Pendiri Value Partners Group Ltd. yang kini mengelola family office pribadinya, Cheah Capital, dilaporkan telah memindahkan 25% dari total kekayaannya ke dalam aset emas fisik dan instrumen terkait emas.

Keputusan ini langsung memicu diskusi hangat di kalangan manajer investasi global. Cheah, yang dijuluki "Gold Finger" karena kepiawaiannya memilih saham-saham undervalued, jarang melakukan manuver defensif seagresif ini kecuali ia melihat risiko sistemik yang nyata.

Langkah ini diambil tepat ketika harga emas dunia sedang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high), menembus level psikologis US$ 4.600 per troy ons pada perdagangan awal Januari 2026.

'Asuransi' di Tengah Badai Makro

Dalam wawancaranya, Cheah menegaskan bahwa alokasi jumbo ini bukanlah spekulasi jangka pendek untuk mencari keuntungan cepat (capital gain), melainkan sebuah "polis asuransi".

"Kita hidup di era di mana tatanan keuangan lama sedang diuji. Utang global yang tidak terkendali dan ketegangan geopolitik membuat mata uang fiat kehilangan daya tariknya sebagai penyimpan nilai (store of value)," ujar Cheah.

Ia menyoroti tiga faktor utama yang mendasari keputusannya:

  1. Debasement Mata Uang: Kekhawatiran terhadap pencetakan uang yang terus menerus oleh bank sentral utama (The Fed, ECB) untuk menopang beban utang negara.

  2. Fragmentasi Geopolitik: Konflik yang berkepanjangan di Eropa dan Timur Tengah yang mempercepat dedolarisasi oleh negara-negara berkembang.

  3. Keterbatasan Pasokan: Emas adalah satu-satunya aset moneter yang tidak memiliki risiko pihak lawan (counterparty risk) dan suplainya terbatas secara alami.

Dari Value Partners ke Cheah Capital

Langkah ini menandai babak baru dalam perjalanan investasi Cheah. Setelah pensiun sebagai Co-Chairman Value Partners pada Januari 2025-perusahaan yang ia bangun dari nol pada 1993 menjadi raksasa manajemen aset Hong Kong-Cheah kini lebih fokus mengamankan kekayaan keluarga melalui Cheah Capital.

Selama memimpin Value Partners, Cheah dikenal sebagai contrarian sejati. Ia berani masuk ke pasar saham China (A-shares) saat investor lain takut, dan strategi itu terbukti memberikan imbal hasil ribuan persen bagi para kliennya selama tiga dekade.

Kini, naluri contrarian-nya kembali berbicara. Namun, alih-alih saham murah, ia justru memburu emas di harga pucuk. Bagi sebagian analis, ini adalah sinyal bahwa valuasi pasar saham global mungkin sudah terlalu mahal (overvalued) dan rentan koreksi tajam.

Emas Menjadi Primadona 2026

Keputusan Cheah sejalan dengan tren besar di pasar komoditas. Data pasar menunjukkan emas telah menjadi aset dengan performa terbaik sepanjang 2025 dan awal 2026.

Kenaikan harga emas ke level US$ 4.600 bukan lagi didorong oleh perhiasan, melainkan oleh pembelian institusional. Bank sentral, dana pensiun, dan kini family office milik triliuner Asia, berlomba-lomba menimbun logam kuning tersebut.

Apa Artinya Bagi Investor Indonesia?

Langkah Cheah memberikan validasi kuat bagi investor yang selama ini memegang emas. Namun, bagi mereka yang belum memiliki eksposur, pertanyaannya adalah yaitu apakah sudah terlambat untuk masuk?

Cheah sendiri tidak menyarankan investor untuk mengejar harga (chasing the rally), tetapi ia menekankan pentingnya memiliki porsi portofolio yang tidak terkorosi oleh inflasi.

Dengan alokasi 25%, Cheah mengirim pesan jelas yaitu prioritas utama saat ini adalah perlindungan nilai (wealth preservation), bukan pertumbuhan agresif.

Pasar kini menanti apakah langkah investor Hong Kong ini akan diikuti oleh konglomerat Asia lainnya, yang bisa memicu gelombang pembelian emas lebih besar lagi di kuartal mendatang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular