Jepang Perkasa, Tapi India-Malaysia Bertekuk Lutut Vs Dolar AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia pada Jumat (16/1/2026) berlangsung beragam di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Yen Jepang terpantau jadi yang paling kuat, tetapi rupiah sampai ringgit masih menghadapi tekanan.
Yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia, naik sekitar 0,26%. Penguatan yen didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Bank of Japan yang dinilai semakin terbuka terhadap normalisasi suku bunga.
Selain itu, kekhawatiran potensi intervensi otoritas Jepang ketika yen mendekati level ekstrem turut mendorong aksi beli, membuat yen kembali berfungsi sebagai aset defensif di tengah ketidakpastian global.
Di kawasan Asia Timur, dolar Taiwan menguat sekitar 0,14%, ditopang oleh sentimen positif di sektor teknologi dan semikonduktor. Optimisme terhadap permintaan chip global dan belanja terkait AI membuat arus modal asing tetap masuk ke pasar Taiwan.
Baht Thailand dan peso Filipina juga mencatat penguatan moderat, masing-masing sekitar 0,10% dan 0,08%, seiring membaiknya risk appetite investor serta stabilnya aliran modal ke pasar negara berkembang Asia.
Sementara itu, dolar Singapura naik tipis 0,02%, mencerminkan karakter mata uang yang relatif stabil dan defensif di tengah pergerakan regional yang tidak terlalu agresif.
Beranjak ke sisi pelemahan, yuan China relatif stagnan. Pergerakan yang datar ini mencerminkan sikap pasar yang masih menunggu arah kebijakan lanjutan dari otoritas China, khususnya terkait stimulus moneter dan fiskal.
Di satu sisi ada ekspektasi pelonggaran kebijakan, namun di sisi lain kekhawatiran perlambatan ekonomi menahan ruang penguatan yuan.
Tekanan lebih terasa pada mata uang Asia Selatan dan Asia Tenggara lainnya. Rupee India melemah sekitar 0,05%, dipengaruhi oleh kekhawatiran inflasi dan ruang kebijakan moneter yang terbatas, di tengah tingginya kebutuhan pembiayaan domestik. Dong Vietnam dan rupiah Indonesia masing-masing terdepresiasi sekitar 0,15%.
Untuk rupiah, pelemahan terjadi pada perdagangan terakhir sebelum libur memperingat Isra Miraj, di mana sentimen kehati-hatian masih mendominasi akibat faktor global seperti ketidakpastian arah suku bunga global serta sensitivitas pasar terhadap arus modal asing. Liburnya pasar domestik membuat rupiah belum mencerminkan penyesuaian sentimen terbaru secara penuh.
Sebagai catatan, pekan ini rupiah menyentuh level terendah sepanjang masa dan sedikit lagi diperkirakan bisa mencapai Rp17.000 terhadap dolar AS.
Beralih ke negara berikutnya, pelemahan terdalam tercatat pada won Korea Selatan yang turun sekitar 0,17% dan ringgit Malaysia yang melemah hingga 0,20%.
Won tertekan oleh volatilitas pasar global serta sensitivitas tinggi terhadap pergerakan sektor teknologi dan perdagangan internasional. Sementara itu, ringgit Malaysia masih dibayangi oleh faktor eksternal, termasuk dinamika harga komoditas energi dan kehati-hatian investor terhadap prospek fiskal dan neraca berjalan.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)