MARKET DATA

Surplus Jagung Menggunung, Tapi Dunia Tergantung Dua Raksasa Ini

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
19 January 2026 15:40
Produksi jagung. (dok. Bapanas)
Foto: Produksi jagung. (dok. Bapanas)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar jagung dunia memasuki 2026 dengan surplus. Januari menunjukkan stok akhir global berada di 290,9 juta ton, nyaris setara dengan stok awal 294,7 juta ton. Produksi dunia bulan ini tercatat 1.296 juta ton, hampir sama dengan konsumsi 1.299,8 juta ton. Ini bukan pasar yang kekurangan suplai. Ini pasar yang sangat cair.

China menyimpan 180,15 juta ton stok akhir, lebih dari 62% stok dunia. Produksinya sendiri mencapai 301,24 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah menurut USDA.

Artinya, dunia tidak sedang menghadapi krisis ketersediaan, melainkan redistribusi pasokan yang sangat dipengaruhi dua negara raksasa.

Amerika Serikat sendiri memanen 432,3 juta ton pada Januari, dengan ekspor 81,3 juta ton dan stok akhir 56,6 juta ton.

Ini menciptakan pasar global yang secara struktural long supply.

Stok awal dunia tanpa China hanya 102,8 juta ton, dengan produksi 994,8 juta ton dan konsumsi 978,8 juta ton. Stok akhirnya naik ke 110,8 juta ton, berarti pasar non-China juga surplus tetapi tipis.

Kelompok Importir Besar (UE, Jepang, Meksiko, Mesir, Asia Tenggara, Korea Selatan, Kanada) mengimpor 109,15 juta ton dalam satu bulan, jauh lebih besar dari produksi domestik mereka sendiri yang hanya 120,7 juta ton. Konsumsinya mencapai 227,1 juta ton.

Artinya lebih dari 48% jagung yang mereka makan berasal dari luar negeri.

Asia Tenggara sendiri mengimpor 21,3 juta ton di Januari dengan produksi hanya 31 juta ton dan konsumsi 51,9 juta ton. Ini berarti 41% kebutuhan kawasan datang dari impor.

Surplus terkonsentrasi di satu tempat, defisit tersebar di banyak tempat.

Lima eksportir utama, Brasil, Argentina, Ukraina, Rusia, Afrika Selatan mengekspor 108,2 juta ton pada Januari. Dari produksi mereka 244 juta ton, hampir 44% langsung dikirim keluar negeri.

Brasil sendiri memproduksi 131 juta ton dan mengekspor 43 juta ton. Ukraina mengekspor 23 juta ton dari produksi 29 juta ton. Argentina mengekspor 37 juta ton dari produksi 53 juta ton.

Inilah mesin suplai dunia. Inilah alasan mengapa pasar global bisa stabil meski China menyimpan jagungnya sendiri.

Indonesia Masih Ada di Blok Importir, Bukan Eksportir

Indonesia secara struktural berada di kelompok yang sama dengan Asia Tenggara, Jepang, dan Korea Selatan kawasan konsumsi tinggi, produksi belum cukup stabil.

Zulkifli Hasan optimis Indonesia akan menghentikan impor jagung dalam dua tahun, kecuali untuk industri. Tahun 2024 impor sudah turun dari sekitar 3 juta ton ke 1,8 juta ton

"Nah jagung kita sudah nggak impor lagi, kecuali untuk bahan industri, itu pun impornya sedikit. kita impor kira2 1,8 juta, tahun lalu 3 juta lebih. garam sudah tidak impor yg konsumsi, kecuali untuk yang industri, 2 tahun ini garam tidak lagi, jagung tidak lagi tapi gula masih," tegas Zulhas di dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Menurut Zulhas target ini akan dicapai sebab pemerintah telah membentuk Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Menurut dia, adanya kementerian ini mempermudah koordinasi antar kementerian untuk menggenjot produksi pangan.

"Tentu, maka kita perlu koordinasi. Dulu kan pangan nggak ada koordinator, sekarang kan sudah ada," sebutnya.

Masalahnya ada pada struktur produksi.

BPS mencatat produktivitas jagung Indonesia hanya 59,4 kuintal per hektare. Lebih dari 79% petani masih monokultur, hanya 7,6% yang mendapat bantuan alat dan mesin. Mekanisasi rendah. Pascapanen lemah. Rantai logistik terfragmentasi.

Sementara di Brasil dan AS, jagung diproduksi dalam sistem industri, lahan luas, mesin, pengering, silo, logistik pelabuhan. Itu yang membuat mereka bisa menjadi eksportir dunia.

Ketika dunia dibanjiri jagung murah dari AS, Brasil, dan Ukraina, Indonesia berhadapan dengan pilihan keras.

Jika produksi lokal belum efisien, maka jagung impor akan selalu lebih murah dan lebih stabil bagi pabrik pakan. Ini menjelaskan kenapa nilai impor jagung Indonesia melonjak dari US$109 ribu (2020) ke US$2,64 juta (2024) meskipun produksi nasional naik.

Dengan stok dunia 290,9 juta ton dan eksportir besar terus memompa pasar, dunia berada dalam fase pembeli punya posisi tawar. Harga global cenderung lunak. Pasokan tersedia.

Dalam konteks ini, target swasembada jagung Indonesia hanya bisa tercapai jika biaya produksi per hektare turun dan hasil panen naik tajam.

Tanpa mekanisasi, tanpa pengering, tanpa gudang, tanpa logistik, jagung Indonesia akan selalu kalah dari jagung Brasil yang sudah siap ekspor bahkan sebelum benih ditanam.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular