MARKET DATA

Prahara Baru: Bunga Kartu Kredit & Matinya Mesin Uang Amerika

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
26 January 2026 13:35
(FILES) In this file photo taken on May 15, 2012 people walk past the JP Morgan Chase  Building on Park Avenue in New York. - Major US banks reported mixed fourth-quarter results Friday as executives pointed to the rising odds of a
Foto: AFP/TIMOTHY A. CLARY

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) kembali mengalami volatilitas tinggi pada perdagangan minggu lalu Rabu (21/1/2026). Sektor perbankan yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung indeks S&P 500 mendadak mengalami aksi jual masif.

Pemicu utama kepanikan ini bermula dari postingan media sosial Presiden Donald Trump di platform Truth Social pada Jumat malam lalu. Dalam langkah mengejutkan, Trump mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal di angka 10% selama satu tahun. Angka ini jauh di bawah rata-rata pasar saat ini, memicu kekhawatiran akan hancurnya profitabilitas industri perbankan AS secara struktural.

Mesin Pencetak Uang Terancam Mogok

Kepanikan investor bukan tanpa alasan. Secara fundamental, bisnis kartu kredit adalah segmen dengan risiko tinggi namun imbal hasil yang sangat tinggi (High Risk, High Reward).

Pinjaman kartu kredit bersifat tanpa agunan, sehingga bank mematok bunga tinggi untuk mengkompensasi risiko nasabah gagal bayar. Data The Federal Reserve menunjukkan rata-rata suku bunga kartu kredit saat ini berada di kisaran 23%, angka tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Bagi perbankan, selisih bunga ini adalah kesempatan. Data dari Biro Perlindungan Konsumen Keuangan AS (CFPB) mencatat bahwa industri perbankan meraup keuntungan sebesar US$ 160 miliar dari bunga dan biaya kartu kredit sepanjang tahun 2024.

Angka ini bahkan jauh melampaui keuntungan yang didapat bank-bank besar dari aktivitas perdagangan saham yang tercatat sebesar US$ 133 miliar. Jika batas bunga dipangkas paksa menjadi 10%, mesin pencetak uang utama perbankan ini praktis akan sangat terhambat.

Jalan Terjal di Capitol Hill

Meskipun Trump memiliki ambisi besar, realisasi kebijakan ini menghadapi tembok tebal di Washington. Ketua DPR AS, Mike Johnson, telah memberikan sinyal skeptis dan memperingatkan adanya efek samping negatif bagi ketersediaan kredit.

Secara hukum, Trump juga tidak bisa serta-merta menggunakan perintah eksekutif karena UU Dodd-Frank melarang penetapan batas suku bunga tanpa persetujuan Kongres.

Ironisnya, usulan Trump ini justru mendapat dukungan dari rival politiknya di Partai Demokrat, seperti Senator Elizabeth Warren dan Bernie Sanders, yang selama ini vokal menentang keserakahan Wall Street.

Namun, tanpa dukungan penuh dari Partai Republik di Senat, pasar menilai probabilitas aturan ini lolos menjadi undang-undang masih sangat kecil. Meski demikian, ketidakpastian regulasi ini diprediksi akan terus menekan harga saham perbankan dalam beberapa pekan ke depan.

CEO JPMorgan Sebut Ini Sebagai Bencana Ekonomi

Dalam pemaparannya di Davos, Dimon memaparkan proyeksi kelam jika Kongres meloloskan aturan tersebut. Ia memperkirakan bahwa pembatasan bunga di angka 10% akan melenyapkan sekitar 80% dari total bisnis kartu kredit di pasar Amerika Serikat.

"Ini akan menghilangkan 80% bisnis kartu kredit di Amerika dan menghilangkan konsumer yang menggunakan kartu kredit sebagai kredit cadangan yang selama ini menjadi jaring pengaman bagi masyarakat," tegas Dimon.

Menurutnya, jika bank dipaksa beroperasi dengan margin yang tidak menutupi risiko gagal bayar, mereka tidak memiliki pilihan selain menarik fasilitas kredit secara massal. Hal ini akan meninggalkan konsumen tanpa akses pendanaan jangka pendek yang krusial.

Tantangan Eksperimen Bunga 10%

Menanggapi desakan Trump kepada Kongres, Dimon mengajukan tantangan terbuka. Dimon mengusulkan agar pemerintah tidak langsung menerapkan aturan ini secara nasional, melainkan melakukan uji coba paksa terlebih dahulu di dua negara bagian spesifik.

Dimon menjelaskan bahwa industri perbankan tidak bisa menarik layanan kredit dari wilayah tertentu secara sepihak karena akan terbentur undang-undang antitrust. Oleh karena itu, ia menantang pemerintah untuk memandatkan uji coba tersebut.

"Kita tidak bisa melakukan ini sendiri karena saya akan dituduh melanggar aturan antitrust. Menurut saya caranya adalah dengan memaksa seluruh bank memberlakukan kebijakan ini hanya di dua negara bagian yaitu Vermont dan Massachusetts, dan lihat apa yang terjadi" sindir Dimon kepada Senator yang mendukung keras kebijakan ini.

Ia meyakini hasil eksperimen tersebut akan membuktikan terjadinya kekacauan ekonomi, sehingga Kongres dan pemerintah federal akan berpikir ulang untuk menerapkannya di seluruh negara bagian AS.

Jamie Dimon di World Economic Forum - ReutersFoto: Jamie Dimon di World Economic Forum - Reuters
Jamie Dimon di World Economic Forum - Reuters

Efek Domino ke Sektor Riil dan Layanan Publik

Dimon juga mengingatkan bahwa dampak kebijakan ini akan merembet jauh melampaui neraca perbankan. Sektor riil yang bergantung pada transaksi kredit konsumer, seperti restoran, UMKM, perusahaan travel, dan institusi pendidikan, akan mengalami kontraksi pendapatan yang signifikan.

Lebih lanjut, Dimon memperingatkan potensi gangguan pada pembayaran layanan publik. Masyarakat yang kehilangan akses kredit cadangan berpotensi gagal membayar tagihan utilitas dasar, seperti air dan listrik, serta berbagai kewajiban pembayaran kepada pemerintah daerah.

"Ini adalah hal krusial yang perlu diperhatikan. Saya pikir mereka harus menguji cobanya saja untuk melihat dampaknya," tambah Dimon. Ia juga menyatakan kesediaannya memberikan analisis internal JPMorgan kepada Kongres terkait implikasi kebijakan ini.

Matematika Bisnis yang Tidak Masuk Akal

Kekhawatiran Dimon didukung oleh analisis fundamental dari institusi keuangan. Gerard Cassidy, analis dari RBC Capital, membedah struktur profitabilitas kartu kredit saat ini. Dengan rata-rata suku bunga pasar sekitar 21%, Cassidy mencatat bahwa bank sebenarnya hanya mendapatkan yield sekitar 3% saja.

Sebagian besar pendapatan bunga habis terserap untuk biaya dana, biaya operasional, dan pencadangan kerugian kredit. Jika suku bunga dipangkas menjadi 10% sesuai keinginan Trump, sisa margin operasional sebesar 5-7% dinilai tidak akan cukup untuk menutupi biaya risiko.

"Sisa margin ini akan membuat bank sangat sulit mendapatkan keuntungan, bahkan untuk sekadar mencapai balik modal atau break even saja pun akan sulit," jelas Cassidy.

Ancaman Resesi Belanja Konsumen

Konsekuensi logis dari kebijakan ini adalah ditinggalkannya nasabah dengan profil risiko tinggi oleh perbankan. Lembaga keuangan hanya akan melayani segmen nasabah prime atau super kaya yang memiliki risiko gagal bayar sangat rendah.

Ketika kelompok masyarakat menengah ke bawah kehilangan akses kredit, mesin utama perekonomian AS yaitu consumer spending diprediksi akan menurun sangat tajam. Penurunan ini dikhawatirkan akan memicu perlambatan ekonomi yang lebih luas, memvalidasi peringatan Dimon mengenai potensi bencana ekonomi.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular