Tender Offer 3 Emiten Ini Mau Selesai, Sahamnua Menarik?
Jakarta, CNBC Indonesia - Ada tiga emiten dengan story backdoor listing yang sebentar lagi menyelesaikan proses tender offer. Mereka adalah PT Futura Energi Global Tbk (FUTR), PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE), dan PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA).
Perlu dipahami dulu, dalam hal backdoor listing, tender offer diperlukan sebagai bagian dari proses untuk melindungi kepentingan pemegang saham publik. Ketika terjadi perubahan pengendali melalui aksi akuisisi atau pengambilalihan, regulasi mewajibkan pihak pengendali baru melakukan tender offer kepada pemegang saham publik sebagai bentuk exit option yang adil.
Lewat tender offer ini, investor publik diberi kesempatan untuk menjual sahamnya pada harga yang wajar sebelum arah bisnis, struktur kepemilikan, hingga profil risiko emiten berubah signifikan.
Selain itu, mekanisme ini juga menjadi alat pengawasan agar backdoor listing tidak digunakan semata-mata untuk menghindari proses IPO reguler yang lebih ketat, baik dari sisi keterbukaan informasi maupun tata kelola.
Beralih lagi ke tiga emiten yang sedang dalam proses tender offer ini dikabarkan akan segera rampung pada akhir bulan ini. Paling dekat FUTR dan NINE dijadwalkan dibayarkan bersamaan pada 27 Januari mendatang, sementara tender offer PIPA akan dibayarkan pada 13 Februari 2026.
FUTR
Setelah diakuisisi dan menyelesaikan tender offer oleh PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara), FUTR akan resmi berubah haluan menjadi holding company energi hijau yang fokus pada proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT).
Menurut Direktur Utama FUTR, pengendali baru Ardhantara menargetkan transformasi FUTR sebagai induk usaha yang menaungi berbagai inisiatif EBT, termasuk integrasi dengan entitas-entitas operasional yang akan menjadi anak usaha di bawahnya.
Sebagai bagian dari strategi transformasi, FUTR sedang menyiapkan studi kelayakan bisnis (feasibility study) untuk rencana perubahan kegiatan usaha dan rights issue di 2026 sebagai modal awal pengembangan proyek EBT.
Proyek panas bumi ini merupakan salah satu proyek utama yang akan dimasukkan ke dalam portofolio FUTR. Konsesi ini sudah memasuki tahap eksplorasi aktif dengan geosurvey, pengeboran sumur eksplorasi tahap awal, serta pembangunan infrastruktur utama di Gunung Slamet.
Proyek tersebut sudah memiliki Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN untuk kapasitas 220 MW dengan masa kontrak 30 tahun setelah COD. Targetnya, pembangunan pembangkit hingga COD pada 2027, dengan tahap awal kapasitas 20 MW mulai pengeboran lanjutan di 2026.
NINE
Proses tender offer NINE juga sudah makin jelas titik terangnya. Poh Grup masuk sebagai pengendali, setelah itu akan fokus beralih ke rencana inbreng aset tambang di Mongolia.
Nilai aset tersebut masih menunggu penilaian independen, dengan estimasi indikatif di kisaran ratusan juta dolar AS, dan ditargetkan masuk melalui aksi korporasi lanjutan.
Skema yang disiapkan adalah rights issue, di mana aset tambang akan disetor sebagai modal non-tunai. Langkah ini bertujuan memperbesar basis aset NINE, sementara dana tunai dari investor publik akan digunakan untuk kebutuhan pengembangan dan operasional.
Namun, aset tambang yang akan diintegrasikan masih berada pada tahap eksplorasi dan belum berproduksi komersial. Artinya, potensi cuan dari tambang tersebut masih bergantung pada keberhasilan pengembangan dan realisasi produksi ke depan.
Secara keseluruhan, tender offer NINE menjadi pintu masuk transformasi besar dari emiten teknologi ke sektor tambang.
Meski story-nya menarik, pasar juga masih menunggu kepastian realisasi aset, struktur rights issue, serta progres operasional sebelum menilai valuasi barunya secara lebih solid.
PIPA
Terakhir ada PIPA, saham ini juga sempat menjadi sorotan pasr karena story backdoor listing membuat harga saham-nya terbang dari posisi di bawah 10 perak sampai menjulan ke atas 600. Adapun saat ini harganya kembali ke level sekitar 200-an.
Beralih ke proses tender offer saham PIPA ini juga masih berlangsung dan dijadwalkan pembayaran-nya selesai pada pertengahan Februari nanti.
PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pengendali baru PIPA, sekaligus menjadi bagian dari strategi transformasi PIPA dari produsen material PVC menjadi entitas yang fokus pada sektor energi dan logistik, termasuk perdagangan bahan bakar minyak (BBM), fasilitas penyimpanan, serta jaringan distribusi darat-laut terintegrasi yang lebih efisien.
MCI menegaskan bahwa mereka tidak berencana untuk melikuidasi atau delisting PIPA, serta mempertahankan kebijakan dividen, menunjukkan niat untuk menjaga stabilitas operasional dan posisi perusahaan di bursa sambil mengembangkan bisnisnya ke arah energi nasional yang lebih besar.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)