MARKET DATA

Iran Chaos: Ini 10 Komoditas Ekspor RI ke Negeri Mullah, Buah - Kayu

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
14 January 2026 16:25
Bendera Iran. (REUTERS/Raheb Homavandi/File Photo)
Foto: Bendera Iran. (REUTERS/Raheb Homavandi/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Hubungan dagang Iran dan Indonesia terus meningkat.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan sepanjang Januari-November 2025, Indonesia membukukan ekspor ke Iran sebesar US$225 juta atau sekitar Rp3,8 triliun (US$ 1=Rp 16.870) , naik 9,11% (secara tahunan/year on year). Pada periode yang sama, impor dari Iran hanya US$8 juta dan turun 30,75%. Neraca perdagangan Indonesia terhadap Iran mencatat surplus US$217 juta, meningkat 11,36% dibanding tahun sebelumnya.

Angka ini menempatkan Iran sebagai salah satu pasar penyerapan bagi produk Indonesia.

Struktur ekspornya terkonsentrasi. Buah dan buah bertempurung (HS 08) mencatat nilai US$78,7 juta, atau lebih dari sepertiga total ekspor Indonesia ke Iran.

Di bawahnya, kendaraan dan suku cadang (HS 87) bernilai US$27,9 juta, disusul minyak dan lemak nabati (HS 15) sebesar US$21,0 juta, kayu dan produk kayu (HS 44) US$19,7 juta, serta kopi, teh, dan rempah (HS 09) US$17,9 juta.

 

Lima kelompok ini menyerap sebagian besar arus dagang Indonesia ke Iran. Di luar itu, nilai ekspor langsung turun ke skala satu digit juta dolar.

Arah perubahannya juga sejalan dengan struktur tersebut. Berdasarkan pertumbuhan, ekspor kopi, teh, dan rempah tumbuh 67,6%, buah naik 36,2%, kayu 20,7%, kendaraan 16,7%, dan minyak nabati 14,4%.

Pertumbuhan ini terjadi pada kelompok yang memang sudah menjadi tulang punggung.

Di lapisan bawah, memang ada lonjakan tajam dalam persentase. Pesawat dan bagiannya (HS 88) tercatat tumbuh hampir 4.000%, kaca 253%, dan kertas 147%. Namun secara nilai, masing-masing hanya sekitar US$0,5 juta. Kenaikan ini berasal dari basis yang sangat kecil dan tidak mengubah peta ekspor secara keseluruhan.

Mekanismenya mengikuti kebutuhan pasar Iran.

Negara itu menyerap produk Indonesia yang relatif mudah diperdagangkan dan cepat dikonsumsi, buah tropis, minyak nabati, kopi, rempah, serta produk kayu. Pada saat yang sama, ada ruang untuk barang jadi seperti kendaraan, yang masuk dalam volume terbatas tetapi stabil.

 

Barang industri berat dan produk teknologi tidak muncul sebagai arus utama karena keterbatasan pembiayaan, risiko pembayaran, dan rantai pasok yang sempit. Perdagangan bergerak pada komoditas yang bisa diputar cepat dan tidak menuntut skema pembiayaan kompleks.

Di lapisan bawah, memang ada lonjakan tajam dalam persentase. Pesawat dan bagiannya (HS 88) tercatat tumbuh hampir 4.000%, kaca 253%, dan kertas 147%. Namun secara nilai, masing-masing hanya sekitar US$0,5 juta. Kenaikan ini berasal dari basis yang sangat kecil dan tidak mengubah peta ekspor secara keseluruhan.

Mekanismenya mengikuti kebutuhan pasar Iran.

Negara itu menyerap produk Indonesia yang relatif mudah diperdagangkan dan cepat dikonsumsi, buah tropis, minyak nabati, kopi, rempah, serta produk kayu. Pada saat yang sama, ada ruang untuk barang jadi seperti kendaraan, yang masuk dalam volume terbatas tetapi stabil.

Barang industri berat dan produk teknologi tidak muncul sebagai arus utama karena keterbatasan pembiayaan, risiko pembayaran, dan rantai pasok yang sempit. Perdagangan bergerak pada komoditas yang bisa diputar cepat dan tidak menuntut skema pembiayaan kompleks.

Iran Bergejolak

Seperti diketahui, Iran tengah bergejolak karena dihantam krisis ekonomi hingga politik. Kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada hubungan dagang Indonesia dan Iran.


Gelombang demonstrasi yang melanda Iran memasuki fase paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir. Di tengah pemadaman komunikasi dan pengerahan besar-besaran aparat keamanan, kelompok pemantau hak asasi melaporkan jumlah korban tewas telah menembus angka 2.000 orang, sementara warga untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir kembali bisa menghubungi dunia luar.
Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, hingga Selasa (13/1/2026), jumlah korban jiwa akibat protes nasional di Iran mencapai sedikitnya 2.003 orang. Angka ini jauh melampaui korban dalam setiap putaran unjuk rasa atau kerusuhan lain di Iran selama puluhan tahun, bahkan mengingatkan pada kekacauan yang menyertai Revolusi Islam 1979.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular