The Fed Pangkas Suku Bunga, Akankah Sejarah Pelemahan Dolar Terulang?
Jakarta, CNBC Indonesia - Data historis membuktikan setiap kali periode penurunan suku bunga the Fed bergulir, dalam jangka waktu beberapa bulan setelah-nya kekuatan dolar Amerika Serikat (AS) selalu kehilangan tenaga.
Sejarah menunjukkan bahwa meskipun dolar bisa terlihat stabil di awal, kekuatannya sering kali memudar seiring berjalannya waktu. Pola ini terlihat jelas dalam tiga siklus pelonggaran moneter besar terakhir, mulai dari awal 2000-an, krisis keuangan global 2008, hingga periode pandemi 2020.
Pada fase awal penurunan suku bunga, dolar memang belum langsung melemah signifikan. Bahkan dalam tiga bulan pertama, pergerakannya relatif datar dan dalam beberapa kasus masih mencatat penguatan tipis. Namun, ketika waktu berjalan dan suku bunga terus dipangkas, arah pergerakan dolar mulai berubah.
Jika melihat data historis, enam bulan setelah The Fed mulai memangkas suku bunga, dolar rata-rata sudah turun sekitar 6%. Pelemahan ini berlanjut menjadi hampir 9% setelah satu tahun, dan meskipun fluktuatif, posisi dolar umumnya tetap lebih lemah bahkan hingga dua tahun setelah siklus pemangkasan dimulai.
Pelemahan paling dalam terjadi saat krisis keuangan global 2008, ketika tekanan ekonomi sangat berat dan kepercayaan pasar terhadap aset berisiko menurun tajam.
Meski begitu, pola pelemahan dolar tidak hanya terjadi pada periode krisis ekstrem. Bahkan pada siklus lain yang relatif lebih ringan, tren yang sama tetap terlihat. Artinya, ada hubungan yang cukup konsisten antara penurunan suku bunga The Fed dan melemahnya dolar AS.
Meski kebijakan The Fed sangat berpengaruh, pergerakan dolar tidak ditentukan oleh AS saja. Siklus pemangkasan suku bunga biasanya terjadi saat kondisi ekonomi global sedang melambat. Dalam situasi seperti ini, bank sentral negara lain juga cenderung mengambil langkah serupa.
Pada awal 2000-an dan saat krisis 2007-2008, misalnya, Bank of Canada, Bank of England, dan European Central Bank turut memangkas suku bunga hampir bersamaan dengan The Fed.
Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga sangat rendah dalam waktu lama, bahkan masuk ke wilayah negatif pada periode setelah 2016. Perbedaan dan keselarasan kebijakan antarnegara inilah yang membentuk selisih suku bunga global, yang kemudian sangat memengaruhi arus modal dan nilai tukar dolar.
Jika negara lain memangkas suku bunga dengan agresivitas yang sama, pelemahan dolar bisa lebih terbatas. Namun jika The Fed lebih dovish dibanding bank sentral lain, tekanan terhadap dolar biasanya menjadi lebih besar.
Memasuki 2026, perhatian pasar tertuju pada satu pertanyaan besar. Apakah dolar AS akan kembali mengikuti pola lama dan melemah jika The Fed benar-benar masuk ke fase pemangkasan suku bunga, atau justru dinamika global yang berbeda akan mengubah cerita?
Dengan kondisi ekonomi global yang masih rapuh dan kebijakan moneter berbagai negara yang belum sepenuhnya sejalan, arah dolar ke depan tidak hanya bergantung pada keputusan The Fed. Namun jika sejarah kembali berulang, pemangkasan suku bunga berpotensi menjadi fase yang menantang bagi kekuatan greenback di pasar global.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)