MARKET DATA

Harganya Naik Gila-gilaan, Kilau Emas Geser Dominasi Surat Utang AS

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
10 January 2026 15:00
Emas batangan
Foto: Zlaťáky.cz/Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada awal 2026, struktur cadangan devisa global melewati satu titik balik penting. Untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1990-an, nilai emas yang disimpan bank sentral dunia melampaui kepemilikan surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries).

Data World Gold Council menunjukkan total emas resmi bank sentral sudah mendekati 36.000-37.000 ton, dengan nilai pasar hampir US$4 triliun, sedikit di atas kepemilikan US Treasuries asing yang sekitar US$3,9 triliun.

Harga emas melonjak lebih dari 70% sepanjang 2025 dan sempat menembus US$4.500 per troy ounce di akhir Desember, sebelum bertahan di level tinggi memasuki Januari 2026. Kenaikan harga ini mengubah neraca cadangan devisa secara mekanis stok emas yang secara volume relatif stabil tiba-tiba bernilai jauh lebih besar dibanding aset utang dolar.

Namun harga bukan satu-satunya penggerak. Dari sisi arus, bank sentral membeli lebih dari 1.100 ton emas sepanjang 2025, jauh di atas rerata historis sekitar 473 ton per tahun pada dekade 2010-an.

Pembelian ini terkonsentrasi di negara berkembang Asia dan Eropa Timur, dengan China, India, Turki, dan Qatar berulang kali muncul sebagai pembeli utama.

Mekanisme di baliknya bersifat defensif. Dalam laporan yang sama disebutkan, bank sentral memandang emas sebagai aset tanpa risiko pihak lawan (no counterparty risk)-tidak bisa gagal bayar dan tidak bisa dibekukan oleh sanksi finansial.

Ini menjadi penting ketika utang pemerintah AS menembus US$38 triliun, memicu kekhawatiran atas keberlanjutan fiskal dan stabilitas kebijakan . Dalam kerangka manajemen cadangan, obligasi tetap memberi likuiditas, tetapi emas memberi kepastian nilai ketika risiko politik dan sanksi meningkat.

Faktor geopolitik mempercepat proses itu. Sepanjang 2025, eskalasi konflik Timur Tengah termasuk ketegangan Israel Iran mendorong permintaan safe haven. Awal 2026, operasi khusus AS terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro memicu lonjakan volatilitas baru di pasar aset aman.

Di saat yang sama, Iran menghadapi gejolak domestik dan tekanan inflasi. Dalam kondisi seperti ini, bank sentral cenderung menggeser porsi cadangan ke aset yang tidak bergantung pada sistem pembayaran global berbasis dolar.

Hasil akhirnya terlihat jelas di neraca global. Porsi emas kini mencapai sekitar 25-27% dari total cadangan resmi dunia, level tertinggi dalam beberapa dekade, sementara dominasi Treasuries dalam portofolio cadangan menyusut relatif.

Dolar AS masih memimpin sebagai mata uang cadangan dengan 45-58% pangsa devisa global, tetapi arah diversifikasi sudah berubah: bank sentral mengurangi ketergantungan pada instrumen utang dolar, bukan pada dolar sebagai alat tukar semata.

jika pembelian emas berlanjut dan negara berkembang menaikkan rasio emas menuju 20-25% dari total cadangan sementara banyak dari mereka masih di bawah 10% arus dana ke pasar emas akan tetap besar dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi lembaga keuangan internasional bahkan menempatkan harga emas berpotensi mendekati atau melewati US$4.800-US$5.000 per ounce bila tren ini bertahan.

Bagi pasar keuangan global, emas kembali menjadi jangkar cadangan, sementara US Treasuries berfungsi lebih sebagai instrumen likuiditas.

Struktur ini membuat permintaan terhadap utang AS lebih sensitif terhadap dinamika politik dan fiskal Washington, dan membuat emas semakin terhubung dengan strategi makro bank sentra

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)



Most Popular