Inflasi China Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun: Apa Dampaknya ke RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Laju inflasi konsumen China meningkat ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun pada Desember 2025. Namun demikian, tekanan deflasi di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut dinilai masih jauh dari selesai. Seiring inflasi tahunan sepanjang 2025 justru jatuh ke level terendah dalam 16 tahun.
Berdasarkan Data Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics/NBS) yang dirilis pada Jumat (9/1/2026) menunjukkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) China pada Desember 2025 naik 0,8% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Angka ini merupakan level tertinggi dalam 34 bulan terakhir atau sejak Februari 2023 ketika itu inflasi China sebesar 1% yoy.Â
Penyebab Inflasi Desember Naik
Kenaikan inflasi pada Desember terutama dipicu oleh lonjakan harga pangan. NBS mencatat harga sayuran segar melonjak 18,2% secara tahunan, sementara harga daging sapi naik 6,9%. Statistisi NBS, Dong Lijuan, menjelaskan bahwa peningkatan belanja menjelang libur Tahun Baru turut mendorong kenaikan harga konsumen.
Selain faktor musiman, kebijakan pendukung pemerintah juga berkontribusi terhadap penguatan harga pada akhir tahun. Meski demikian, dorongan tersebut dinilai belum mencerminkan pemulihan permintaan yang kuat secara struktural.
Meski inflasi Desember menguat, secara keseluruhan sepanjang 2025 inflasi konsumen China tercatat stagnan atau mendekati nol. Capaian ini jauh di bawah target pemerintah yang berada di kisaran sekitar 2%, mengindikasikan bahwa permintaan domestik masih lemah dan stimulus yang digelontorkan belum sepenuhnya efektif mengangkat sentimen konsumsi.
Ketidakseimbangan dalam ekonomi China senilai US$19 triliun bahkan memburuk sepanjang setahun terakhir, meskipun pertumbuhan ekonomi masih berada di jalur untuk mencapai target pemerintah "sekitar 5%" pada 2025, yang ditopang oleh stimulus kebijakan dan ketahanan ekspor barang.
Tekanan eksternal turut memperberat kondisi tersebut. Perang dagang global yang dipicu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menambah tekanan terhadap konsumsi rumah tangga, yang selama bertahun-tahun tertahan oleh krisis properti berkepanjangan.
Pemerintah China berulang kali menyatakan komitmennya untuk mendorong pemulihan harga melalui kebijakan moneter, menekan persaingan berlebihan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat guna mengoptimalkan potensi konsumsi dan menyeimbangkan sisi penawaran dan permintaan.
Para ekonom menilai penguatan inflasi tersebut belum menandakan pemulihan permintaan yang solid. Kepala Ekonom ING untuk China Raya, Lynn Song, menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka.
"Meskipun terdapat ekspektasi pemulihan, inflasi masih relatif rendah dan seharusnya tidak menghalangi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut tahun ini," kata Lynn Song.
Sementara itu, Ekonom China di Capital Economics, Zichun Huang, menegaskan bahwa kenaikan CPI utama bukan disebabkan oleh kampanye pemerintah untuk menekan praktik persaingan berlebihan atau involution.
"Tingginya CPI utama bukan disebabkan oleh kampanye pemerintah dalam menekan involution," ujar Huang dikutip dari Reuters.
Dia menambahkan, tanpa langkah yang lebih kuat dari sisi permintaan, tekanan deflasi masih akan membayangi perekonomian China.
"Masalah kelebihan kapasitas dan tekanan deflasi akan tetap berlanjut dalam beberapa tahun ke depan jika tidak ada langkah yang lebih kuat dari sisi permintaan," katanya.
Untuk keseluruhan 2025, inflasi konsumen China tercatat datar. Harga daging babi turun 14,6% secara tahunan pada Desember, sementara harga perhiasan emas melonjak tajam hingga 68,5%, menurut data NBS.
Inflasi inti, yang mengecualikan harga pangan dan energi yang bergejolak, tercatat naik 1,2% yoy pada Desember, tidak berubah dibandingkan November. Namun, ekonom Goldman Sachs memperkirakan ukuran inflasi inti yang tidak memasukkan harga emas justru melemah dibandingkan bulan sebelumnya.
Apa Pengaruhnya Bagi Indonesia?
Perkembangan inflasi China yang sempat menguat pada Desember tetapi secara tahunan tetap lemah menunjukkan bahwa pemulihan permintaan domestik Negeri Tirai Bambu belum solid.
Kondisi ini penting bagi Indonesia karena China merupakan salah satu mitra dagang terbesar, sehingga perubahan daya beli dan aktivitas industrinya berpotensi memengaruhi arus perdagangan, harga komoditas, hingga sentimen pasar.
Di sisi perdagangan, China tercatat menjadi negara penyumbang defisit nonmigas terbesar bagi Indonesia sepanjang Januari-November 2025.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke China mencapai US$58,24 miliar, sementara impor dari China sebesar US$77,52 miliar, sehingga neraca perdagangan nonmigas Indonesia terhadap China defisit US$19,28 miliar.
Defisit terdalam terutama disumbang oleh mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) sebesar -US$17,39 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar -US$16,50 miliar, serta kendaraan dan bagiannya (HS 87) sebesar -US$4,30 miliar.
Defisit yang didominasi produk mesin, peralatan listrik, hingga kendaraan menegaskan kuatnya arus masuk barang manufaktur dari China ke Indonesia. Dalam konteks ini, lemahnya permintaan di China berpotensi menekan harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia, terutama komoditas berbasis industri dan energi seperti batu bara dan nikel.
Di saat yang sama, berlanjutnya deflasi harga produsen (PPI) China mencerminkan ketatnya persaingan harga di sektor manufaktur. Kondisi ini berpotensi menekan harga barang impor sekaligus memperketat persaingan produk di pasar domestik.
Pada akhirnya, situasi tersebut dapat mendorong arus barang dari China ke Indonesia menjadi lebih deras, sehingga beban persaingan bagi produsen lokal pun semakin berat.
Dari sisi pasar keuangan, ekspektasi stimulus tambahan di China bisa menjadi faktor yang memengaruhi sentimen risiko global. Jika stimulus dipandang cukup kuat untuk menopang aktivitas ekonomi China, hal itu berpotensi mendukung selera risiko (risk appetite) dan membantu aset negara berkembang. Namun jika pasar menilai kebijakan belum cukup mengangkat permintaan, volatilitas bisa meningkat seiring kekhawatiran atas prospek pertumbuhan global.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)