MARKET DATA

Ini Perusahaan Senjata AS yang Pesta Pora Karena Krisis Venezuela

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
07 January 2026 15:35
Personel Angkatan Udara AS sedang menguji kendaraan udara nirawak (UAV) MQ-9 Reaper di landasan Bandara Rafael Hernandez di Aguadilla, Puerto Riko, 15 Oktober 2025. (REUTERS/Ricardo Arduengo)
Foto: Personel Angkatan Udara AS sedang menguji kendaraan udara nirawak (UAV) MQ-9 Reaper di landasan Bandara Rafael Hernandez di Aguadilla, Puerto Riko, 15 Oktober 2025. (REUTERS/Ricardo Arduengo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Respons pasar modal Amerika Serikat terhadap operasi militer di Venezuela pada awal Januari 2026 menunjukkan pola yang sangat ekstrem. Berdasarkan data perdagangan terbaru hingga Selasa (6/1/2026), terjadi divergensi yang tajam antara saham pertahanan konvensional dengan saham teknologi taktis.

Investor institusi terlihat agresif memburu emiten yang menyediakan solusi perang asimetris dan mobilitas tinggi, sementara kontraktor pertahanan raksasa cenderung bergerak konservatif.

Fenomena ini mengonfirmasi tesis bahwa operasi pengamanan di wilayah Venezuela lebih membutuhkan kecepatan dan pengawasan nirawak (drone) dibandingkan kekuatan daya gempur berat.

Berikut adalah analisis kinerja lima emiten senjata utama yang menjadi sorotan pasar.

AeroVironment (AVAV)

Kinerja AeroVironment adalah yang paling fenomenal dalam periode ini. Harga saham produsen drone taktis asal AS ini tercatat meroket hingga 43% hanya dalam satu hari perdagangan pasca-berita (2-5 Januari), dan melanjutkan tren bullish hingga mengakumulasi kenaikan total 63,9% pada penutupan Selasa (6/1).

Pasar menilai produk andalan mereka, Switchblade (drone kamikaze), sebagai aset paling relevan untuk operasi infanteri di medan sulit seperti hutan Venezuela. Lonjakan harga ini mencerminkan ekspektasi adanya kontrak pengadaan darurat dalam jumlah masif dari Pentagon.

10 Negara yang Punya Drone Tempur Terbanyak di Dunia, Ada Indonesia?Foto: Infografis/ 10 Negara yang Punya Drone Tempur Terbanyak di Dunia, Ada Indonesia?/ Ilham Restu

Textron (TXT)

Kejutan terbesar datang dari Textron. Induk perusahaan Bell Helicopter asal AS ini mencatatkan kenaikan 17,2% di awal pekan dan terus mendaki hingga total 26,7% pada hari Selasa. Kenaikan ini jauh melampaui ekspektasi awal analis.

Faktor pendorong utamanya adalah kebutuhan mobilitas udara. Mengingat topografi Venezuela yang didominasi pegunungan dan hutan tropis, helikopter serbu dan angkut taktis buatan Bell dinilai lebih krusial untuk pergerakan pasukan dibandingkan tank berat, menjadikan Textron penerima manfaat strategis yang signifikan.

Kratos Defense (KTOS)

Senada dengan AeroVironment, Kratos Defense yang berfokus pada drone tempur berbiaya efisien juga mencatatkan lonjakan tajam. Saham KTOS naik 20,5% pada respons awal dan menggenapkan kenaikan menjadi 24,4% di hari kedua.

Investor menyukai model bisnis perusahaan AS yang menawarkan sistem tanpa awak "attritable" (murah dan bisa dikorbankan). Dalam skenario pengawasan wilayah udara yang luas dan berisiko, penggunaan drone Kratos dianggap jauh lebih ekonomis dan aman secara politik dibandingkan mengirim jet tempur berawak.

RTX Corporation (RTX)

Berbeda dengan euforia pada saham drone, pergerakan RTX Corporation cenderung lebih stabil dan moderat. Produsen rudal Patriot dan Tomahawk asal AS ini "hanya" mencatatkan kenaikan sekitar 1,4% di awal pekan, dengan akumulasi 4,4% hingga Selasa.

Meskipun produk rudal presisi mereka tetap vital, pasar melihat RTX sebagai saham defensif jangka panjang (blue chip) yang tidak akan mengalami lonjakan spekulatif setinggi saham teknologi. Kenaikan ini mencerminkan kepastian arus kas dari kontrak yang sudah ada, namun bukan ledakan pertumbuhan baru yang drastis.

Personnel work on a U.S. Air Force F-35 Lightning II fighter jet parked on the tarmac at the former Roosevelt Roads naval base, amid tensions between the administration of U.S. President Donald Trump and the government of Venezuelan President Nicolas Maduro, in Ceiba, Puerto Rico, January 2, 2026. REUTERS/Eva Marie UzcateguiFoto: REUTERS/Eva Marie Uzcategui
Personnel work on a U.S. Air Force F-35 Lightning II fighter jet parked on the tarmac at the former Roosevelt Roads naval base, amid tensions between the administration of U.S. President Donald Trump and the government of Venezuelan President Nicolas Maduro, in Ceiba, Puerto Rico, January 2, 2026. REUTERS/Eva Marie Uzcategui

Boeing Defense (BA)

Boeing menjadi emiten dengan pergerakan paling lambat di antara kelimanya. Saham raksasa dirgantara asal AS ini bergerak tipis 0,6% pada respons awal dan naik moderat 3,6% di hari berikutnya.

Meskipun Boeing menyediakan jet tempur F-15EX dan helikopter Apache yang mendominasi langit, sentimen positif dari sektor pertahanan tampaknya tertahan oleh beban kinerja divisi komersial mereka.

Investor menilai bahwa untuk operasi spesifik ini, kebutuhan akan armada pesawat tempur baru tidak semendesak kebutuhan akan drone taktis dan helikopter angkut ringan.

Ringkasan Data Kinerja Pasar

Berikut adalah tabel rekapitulasi persentase kenaikan harga saham emiten pertahanan terpilih, membandingkan harga penutupan Jumat (2/1/2026) dengan posisi terakhir pada Selasa (6/1/2026):

Data di atas menunjukkan bahwa emiten dengan kapitalisasi pasar lebih kecil namun memiliki spesialisasi teknologi taktis (AVAV, KTOS, TXT) terbukti memberikan imbal hasil jauh lebih tinggi dibandingkan raksasa industri (RTX, BA) dalam merespons isu geopolitik modern.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular