MARKET DATA

Kinerja Saham Emiten Danantara: Ada yang Terbang 200%

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
06 January 2026 14:10
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pemerintah membuka opsi Kementerian BUMN dilebur ke Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Foto: CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2025 mencatatkan dinamika pasar yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya bagi emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam holding Danantara.

Data perdagangan sepanjang tahun menunjukkan terjadinya divergensi kinerja yang tajam antara sektor perbankan dan sektor riil. Terjadi pergeseran alokasi aset (asset allocation) yang signifikan, di mana investor cenderung mengurangi eksposur pada sektor finansial dan mengalihkannya ke sektor industri dasar serta komoditas.

Dominasi Industri Dasar dan Pertambangan

Apresiasi harga saham tertinggi pada tahun 2025 didominasi oleh emiten yang bergerak di sektor industri dasar dan pertambangan. Kenaikan ini didorong oleh fundamental permintaan dan sentimen harga komoditas global.

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mencatatkan kinerja paling impresif dengan kenaikan harga saham mencapai 222,64%. Apresiasi ini didasari oleh keberhasilan restrukturisasi perseroan dan peningkatan volume permintaan baja domestik untuk menunjang proyek infrastruktur nasional. Pasar merespons positif perbaikan neraca keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan.

Pada sektor pertambangan, PT Timah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 186,64% dan 103,88%. Katalis utama bagi kedua emiten ini adalah tren kenaikan harga acuan komoditas di pasar global.

Selain itu, kebijakan hilirisasi mineral yang konsisten telah berhasil meningkatkan nilai tambah produk ekspor, yang berdampak langsung pada marjin keuntungan perusahaan. Investor menilai sektor ini sebagai instrumen lindung nilai (hedging) yang efektif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sektor transportasi dan telekomunikasi juga menunjukkan kinerja positif. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengalami pemulihan harga sebesar 81,48%, yang mengindikasikan kembalinya kepercayaan pasar terhadap prospek operasional maskapai.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan kenaikan 28,89%, mengukuhkan posisinya sebagai saham defensif yang stabil di tengah volatilitas pasar.

Berikut adalah tabel rincian emiten yang mencatatkan kinerja positif (apresiasi harga) sepanjang tahun 2025:

Tekanan pada Sektor Perbankan dan Konstruksi

Sebaliknya, sektor perbankan yang secara historis menjadi penopang utama indeks, mengalami tekanan jual (selling pressure) yang cukup dalam sepanjang tahun 2025. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal.

Emiten perbankan berkapitalisasi pasar besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami koreksi harga masing-masing sebesar 13,06% dan 12,82%. Penurunan juga terjadi pada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 4,79%.

Faktor utama yang memicu koreksi ini adalah kekhawatiran investor terhadap perlambatan pertumbuhan kredit (loan growth) di tengah daya beli masyarakat yang stagnan. Pasar mengantisipasi potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang dapat menggerus profitabilitas bank.

Selain itu, kondisi makroekonomi global, khususnya kebijakan suku bunga tinggi di negara maju, memicu arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berdampak langsung pada likuiditas saham perbankan.

Sektor konstruksi induk (BUMN Karya) dan pendukung infrastruktur jalan tol juga masih menghadapi tantangan. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatatkan penurunan harga saham di atas 20%. Hal ini mencerminkan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap beban keuangan dan siklus pembayaran proyek pada sektor konstruksi.

Berikut adalah tabel rincian emiten yang mencatatkan kinerja negatif (depresiasi harga) sepanjang tahun 2025:

Pentingnya Analisis Makroekonomi dalam Keputusan Investasi

Data kinerja tahun 2025 memberikan gambaran jelas mengenai rotasi sektoral yang dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi. Penurunan sektor perbankan berkorelasi langsung dengan siklus kredit yang melambat dan ketidakpastian arus modal global.

Di sisi lain, kenaikan sektor komoditas dan industri dasar merupakan respons pasar terhadap dinamika harga global dan peningkatan produktivitas industri dalam negeri.

Bagi investor, fenomena ini menegaskan bahwa strategi investasi tidak dapat bersifat statis. Keputusan alokasi aset harus didasarkan pada analisis mendalam terhadap indikator makroekonomi dan fundamental sektoral. Diversifikasi portofolio ke berbagai sektor menjadi langkah mitigasi risiko yang krusial untuk menghadapi volatilitas pasar yang dinamis.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular