MARKET DATA

Demam Zootopia: Ular RI Jadi Buruan Warga China - Negara Arab

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
06 January 2026 18:20
Ilustrasi ular piton. (Freepik)
Foto: Ilustrasi ular piton. (Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia- Lonjakan minat terhadap ular berbisa di China pada akhir 2025 bukan datang dari kebun binatang, melainkan dari layar bioskop. Bukan dari film action yang membuat deg-degan, tapi dari film animasi anak-anak.

Karakter Gary De'Snake dalam Zootopia 2 membuat satu spesies yang selama ini hidup di hutan tropis Asia Tenggara tiba-tiba menjadi objek konsumsi kelas menengah urban.

Melansir CNN Internasional, ular yang ditiru desainnya adalah blue pit viper, kelompok Trimeresurus, dikenal di perdagangan internasional sebagai island bamboo pit viper, ular berbisa arboreal yang hidup di Indonesia, Malaysia, dan beberapa pulau di Asia Tenggara.

Spesies ini berasal dari wilayah berhutan lembap, hidup di kanopi rendah, dan aktif pada malam hari. Dalam perdagangan internasional, pit viper jenis ini masuk kategori reptil hidup dengan kode HS 010620. Ia diperdagangkan sebagai hewan koleksi, riset, hingga breeding.

Di China, jenis ini populer karena warna biru kehijauan yang tidak umum pada ular berbisa. Desain Gary di Zootopia 2 secara visual mengikuti ciri itu. kepala segitiga, mata tajam, dan warna biru metalik.

Permintaan yang melonjak di China setelah film rilis langsung tercermin pada pasar e-commerce.

Gary De'SnakeFoto: Disney
Gary De'Snake

Harga naik, stok menipis, lalu regulator turun tangan. Mekanismenya eksposur pop culture mendorong permintaan spesifik terhadap satu jenis satwa, sementara pasokannya bersumber dari negara habitat alami. Pada titik inilah Indonesia masuk ke dalam rantai nilai global tersebut.

Menurut Satu Data Kementerian Perdagangan, ekspor Indonesia untuk HS 010620 - Reptiles; live (including snakes and turtles) sepanjang Januari-Oktober 2025 mencapai US$ 2,625 juta. Angka ini turun 7,987% secara tahunan, namun struktur pasarnya menunjukkan pergeseran geografis yang relevan dengan tren di Asia.

Amerika Serikat masih menjadi tujuan terbesar dengan nilai US$ 0,902 juta, diikuti Jepang US$ 0,497 juta, dan Singapura US$ 0,293 juta. Setelah itu muncul India US$ 0,183 juta, Korea US$ 0,133 juta, Jerman US$ 0,133 juta, Ceko US$ 0,097 juta, Taiwan US$ 0,088 juta, Kanada US$ 0,084 juta, dan Inggris US$ 0,066 juta. Asia Timur dan Asia Selatan menyerap lebih dari separuh ekspor Indonesia untuk kategori ini.

Data pertumbuhan menguatkan arah itu. India mencatat lonjakan 191,66% yoy dengan nilai US$ 0,183 juta. Kanada tumbuh 108,29%, Jerman 93,41%, Afrika Selatan 342,59%, dan Pakistan 275%, meski dari basis kecil.

Qatar mencatat pertumbuhan ekstrem 1.200,75%, menunjukkan masuknya pasar Timur Tengah dalam perdagangan reptil hidup. China tidak muncul sebagai tujuan resmi besar dalam dashboard, namun lonjakan permintaan domestik yang diberitakan media mereka menjelaskan mengapa platform e-commerce kehabisan stok dari Asia Tenggara.

Dari sisi volume fisik, BPS menunjukkan pola yang berbeda dari nilai. Ekspor ular Indonesia dalam HS 010620 pada 2021-2025 cenderung turun dalam kilogram, naik dalam nilai. Tahun 2021 Indonesia mengekspor 163.923 kg dengan nilai US$ 3,27 juta. Tahun 2025 volumenya turun menjadi 137.709 kg, sementara nilainya naik ke US$ 2,97 juta. Harga rata-rata per kilogram meningkat. Ini berarti yang keluar dari Indonesia semakin terkonsentrasi pada spesimen bernilai tinggi, bukan volume massal.

Di sinilah fenomena Gary menjadi relevan. Pasar global tidak mencari ular generik. Pasar mencari spesies tertentu dengan atribut visual spesifik. Pit viper biru masuk kategori itu. Dalam struktur perdagangan satwa, spesies langka atau unik selalu memerintah harga lebih tinggi, dan fluktuasi tren bisa memicu lonjakan permintaan yang tidak tercermin di agregat total.

Konsekuensinya bagi Indonesia bukan soal film, melainkan posisi negara ini sebagai sumber pasokan biologis dunia.

Ketika karakter fiksi mengangkat satu spesies ke panggung global, negara habitat menjadi pemasok tanpa pernah ikut dalam ekonomi IP-nya. Nilai ekspor HS 010620 stagnan, sementara risiko ekologis dan pengawasan satwa meningkat.

China sudah merasakan dampaknya. Otoritas menurunkan listing ular berbisa setelah lonjakan penjualan. Bagi Indonesia, fase berikutnya adalah lebih teknis: apakah ekspor ular bernilai tinggi akan terus naik meski total nilai turun, dan apakah struktur HS 010620 akan semakin didorong oleh spesies yang viral secara global.

Gary De'Snake menunjukkan satu hal yang keras dalam perdagangan modern, narasi budaya bisa memindahkan arus ekspor lebih cepat daripada kebijakan dagang. Dalam kasus ini, arus itu mengarah dari hutan Indonesia ke apartemen Gen Z di Shanghai.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular