MARKET DATA

Musim Hujan Paling Ekstrem, Badai & Banjir Hantam Asia Tenggara

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 November 2025 20:15
Ombak mendekati pantai Cua Lo, sementara Topan Kajiki mendekati provinsi Nghe An, Vietnam, 25 Agustus 2025. (REUTERS/Minh Nguyen)
Foto: Ombak mendekati pantai Cua Lo, sementara Topan Kajiki mendekati provinsi Nghe An, Vietnam, 25 Agustus 2025. (REUTERS/Minh Nguyen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asia Tenggara tengah menghadapi salah satu musim hujan paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir. Ribuan permukiman terendam, jutaan orang mengungsi, dan ratusan korban jiwa pun berjatuhan.

Hanya dalam hitungan pekan, Asia Tenggara diguyur rangkaian banjir besar, badai berturut-turut, angin kencang, dan tanah longsor yang menerjang Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, hingga Indonesia.

Para pakar menegaskan bahwa intensitas bencana tahun ini bukan lagi pola musiman biasa, tetapi hasil pertemuan dua fenomena iklim besar yang terjadi bersamaan untuk pertama kalinya dalam banyak tahun yakni La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif yang diperparah oleh pemanasan global.

Duet Langka yang Memperkuat Curah Hujan

La Nina yang mendinginkan Samudra Pasifik pusat mendorong akumulasi panas ke barat, memperkuat monsun dan memicu curah hujan ekstrem di maritim Asia Tenggara.

Pada saat bersamaan, IOD negatif menghangatkan perairan sekitar Indonesia dan menarik lebih banyak uap air ke atmosfer. Biasanya kedua fenomena ini tidak memuncak pada waktu bersamaan, namun tahun ini keduanya bertemu dan menciptakan kondisi yang sangat mendukung terbentuknya hujan dengan skala yang ekstrem.

Pemanasan global membuat situasinya semakin kompleks. Atmosfer yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air, sehingga saat hujan turun, intensitasnya jauh lebih tinggi. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat Asia mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dari rata-rata global, yang memicu peningkatan risiko banjir besar, badai intens, dan tanah longsor di wilayah-wilayah yang rentan.

Bencana Meluas di Berbagai Negara Asia Tenggara

Vietnam menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. Tahun ini, negeri itu dilanda 14 topan dalam satu musim menjadi jumlah tertinggi dalam beberapa dekade. Lebih dari 200.000 rumah terendam, hingga kawasan pariwisata seperti Danang, Hoi An, Nha Trang hingga Ho Chi Minh City pun turut lumpuh dan kerugian ekonomi mencapai ratusan juta dolar AS.

Yang paling mengejutkan kondisi di kota Hue yang mencatat curah hujan antara 1 hingga 1,7 meter hanya dalam 24 jam, sekaligus memecahkan seluruh rekor.

Banjir Vietnam. (VTV via Reuters)Foto: Banjir Vietnam. (VTV via Reuters)
Banjir Vietnam. (VTV via Reuters)

Di Filipina, situasinya tidak jauh berbeda. Dua topan kuat, KalmaegidanFung-wong menghantam wilayah tengah Filipina dalam waktu berdekatan. Total lebih dari 1,5 juta penduduk dievakuasi, menjadikannya salah satu bencana evakuasi terbesar tahun ini.

Fung-wong diklasifikasikan sebagai super typhoon, dengan radius yang oleh ilmuwan disebut "seolah menelan seluruh negara."

Sementara Thailand mengalami banjir terparah dalam tiga abad terakhir, terutama di HatYaiyang menerima lebih dari 600 mm hujan hanya dalam beberapa hari hingga menenggelamkan pusat kota, memutus konektivitas, dan memaksa evakuasi massal. Pemerintah Thailand pun menetapkan status darurat di provinsi Songkhla dan wilayah sekitarnya karena skala kerusakan yang meluas.

Di sembilan provinsi bagian selatan Thailand, sekitar 2,1 juta warga terdampak. Wisatawan asing dan domestik terjebak di hotel tanpa listrik dan pasokan makanan, menunjukkan betapa cepatnya banjir meningkat.

Malaysia juga menghadapi tekanan berat. Dengan masuknya monsun timur laut, pemerintah telah memantau lebih dari 3.000 titik rawan banjir di delapan negara bagian. Pada puncaknya, hampir 25.000 orang berada di pusat evakuasi hanya dalam satu hari.

Di Indonesia, banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah Sumatra dalam beberapa waktu terakhir. Curah hujan tinggi, membuat ketinggian muka air sungai cepat melampaui batas siaga. Rumah warga terendam, akses jalan terputus, dan ribuan penduduk terpaksa mengungsi.

Situasi ini menunjukkan bahwa gelombang cuaca ekstrem yang menyapu Asia Tenggara kini juga bergerak ke wilayah Indonesia.

Risiko Berlanjut hingga Awal 2026: Tanah Jenuh, Banjir Susulan Mengintai

La Nina diprediksi mampu bertahan hingga awal 2026. Dengan tanah yang sudah jenuh air di banyak lokasi, hujan intensitas sedang sekalipun kini berpotensi memicu banjir atau longsor baru.

ASEAN Specialised Meteorological Centre memperkirakan curah hujan di atas normal dalam beberapa bulan ke depan, termasuk di sebagian wilayah Indonesia. Tekanan terhadap sistem mitigasi, drainase kota, dan kesiapsiagaan bencana diperkirakan semakin meningkat.

Para ahli mengingatkan bahwa frekuensi serta intensitas bencana kini meningkat jauh lebih cepat dibanding kemampuan negara-negara di kawasan untuk memperkuat adaptasi iklim.

Peristiwa yang dulu dianggap hanya terjadi sekali dalam seratus tahun kini muncul dalam hitungan beberapa tahun. Di banyak negara, sistem peringatan dini, jaringan drainase, serta infrastruktur tahan banjir belum sepenuhnya siap untuk menghadapi pola cuaca yang semakin tidak menentu.

Dalam jangka panjang, Asia Tenggara membutuhkan investasi yang lebih besar dalam adaptasi pada perubahan iklim. Mulai dari perbaikan kanal, perluasan ruang hijau, peningkatan kesadaran masyarakat, hingga modernisasi sistem peringatan cuaca.

Tanpa langkah adaptasi yang lebih cepat dan pendanaan yang memadai, Asia Tenggara diperkirakan akan semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi yang makin sering terjadi.

Banjir Jadi Ancaman Global: 3 Miliar Orang Terdampak & Kerugian Capai Rp21.830 T

Banjir bukan hanya persoalan regional yang melanda Asia Tenggara, tetapi menjadi ancaman global yang dampaknya terus membesar dalam tiga dekade terakhir.

Laporan Climate Risk Index 2025 menunjukkan bahwa selama 30 tahun terakhir dunia telah menghadapi lebih dari 9.400 kejadian cuaca ekstrem, dengan banjir menjadi salah satu bencana paling merusak dari sisi jumlah penduduk yang terdampak.

Lebih dari 2,91 miliar orang atau hampir mendekati 3 miliar populasi mausia yang terdampak langsung oleh bencana banjir dalam periode 1993-2022, menjadikannya bencana hidrometeorologi dengan paparan manusia terbesar.

Dari sisi ekonomi, total kerugian akibat banjir mencapai US$1,33 triliun atau setara Rp21.830 triliun yang bahkan melebihi dampak sebagian besar bencana alam lainnya seperti kekeringan dan kebakaran hutan.

Banjir menimbulkan dampak berlapis. Mulai dari  kerusakan permukiman, hancurnya lahan pertanian, akses logistik yang terputus, hingga menurunnya produktivitas ekonomi dalam jangka panjang. Negara-negara berpendapatan menengah dan negara berkembang menjadi pihak yang paling terpukul karena kapasitas adaptasi yang terbatas serta tingginya populasi yang tinggal di wilayah rawan banjir seperti delta sungai, pesisir, dan dataran rendah.

Namun Heatwave tetap menjadi pembunuh terbesar secara global dengan lebih dari 225.600 korban jiwa sejak 1993. Meskipun dampaknya sering kali tidak terlihat secara langsung seperti banjir atau badai, heatwave memiliki efek yang lebih luas, mulai dari meningkatnya angka kematian akibat serangan jantung dan dehidrasi, terganggunya produksi pangan, hingga lonjakan permintaan listrik yang membebani infrastruktur energi.

Di Asia, kerugian akibat banjir besar hingga heatwave pun cukup besar. China menjadi salah satu negara paling terdampak, menghadapi lebih dari 600 kejadian cuaca ekstrem dalam 30 tahun terakhir dengan total kerugian mencapai lebih dari US$706 miliar.

Sementara India, yang semakin sering dilanda banjir musiman dan heatwave telah menanggung kerugian hingga US$180 miliar. Filipina juga masuk daftar negara dengan risiko tinggi, dengan lebih dari 370 badai besar menghantam wilayahnya sejak 1993 dengan kerugian lebih dari US$ 34 miliar. 

10 negara dengan dampak cuaca ekstrem terbesar sepanjang 1993-2022.Foto: Germanwatch
10 negara dengan dampak cuaca ekstrem terbesar sepanjang 1993-2022.

Di luar Asia, Italia masuk dalam daftar negara terdampak karena berulang kali mengalami heatwave mematikan, terutama pada tahun 2003 dan 2022, yang menyebabkan ribuan kematian dan kerusakan infrastruktur yang luas.

Heatwave kini menjadi ancaman yang semakin nyata dan mematikan. Pada 2022 saja, lebih dari 61.782 orang meninggal akibat suhu panas ekstrem, menjadikannya bencana paling mematikan tahun itu.

Efeknya tidak hanya terbatas pada meningkatnya angka kematian, tetapi juga mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial. Suhu yang tinggi menyebabkan gagal panen di banyak wilayah, mengancam ketahanan pangan dan meningkatkan harga bahan makanan.

(evw/evw)


Most Popular