Ekonomi Tumbuh Stabil, Saatnya Memperkuat Fondasi

Ana Noveria,  CNBC Indonesia
03 November 2026 18:52
Ana Noveria
Ana Noveria
Ana Noveria adalah Asisten Profesor Bidang Ekonomi di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). Ia meraih gelar PhD Ekonomi dari Newcastle University, Inggris, dan gelar MA Ekonomi dari Colorado State University. Pengajaran dan pen.. Selengkapnya
Deretan gedung bertingkat saat Ibu Kota menghadapi periode kemarau dan potensi kekeringan meteorologis terlihat di kawasan Jakarta, Kamis (17/9/2026).(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Deretan gedung bertingkat di Jakarta. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pada tahun 1966, dalam kuliah perdananya di Universitas Cambridge, ekonom Nicholas Kaldor mengajukan gagasan yang kemudian dikenal sebagai hukum Kaldor: industri pengolahan adalah mesin pertumbuhan ekonomi.

Semakin cepat sektor manufaktur tumbuh, semakin cepat pula perekonomian secara keseluruhan bergerak, sebab di sektor inilah skala ekonomi bekerja paling kuat, produktivitas meningkat paling cepat, dan keterkaitan dengan sektor lain paling luas.

Kaldor juga menunjukkan bahwa produktivitas manufaktur cenderung naik ketika produksinya bertambah, sebab semakin besar skalanya, semakin murah biaya per unitnya. Banyak studi empiris kemudian menguji gagasan ini dan, dengan berbagai catatan, umumnya mendukung peran khusus manufaktur. Gagasan ini lahir dari pengalaman negara industri maju, tetapi justru makin relevan bagi negara berkembang yang sedang membangun basis industrinya, termasuk Indonesia.

Relevansi itu terasa karena perjalanan industri kita dua dekade terakhir tidak mulus. Porsi industri pengolahan dalam PDB menurun dibandingkan awal 2000-an, gejala yang oleh banyak ekonom disebut deindustrialisasi dini, yakni ketika sebuah negara mulai mengecil sektor manufakturnya sebelum mencapai tingkat pendapatan tinggi. Karena itu, setiap tanda kebangkitan manufaktur layak dibaca dengan saksama, dan data triwulan III memberi beberapa tanda semacam itu.

Kerangka Kaldor memberi cara yang menarik untuk membaca data terbaru. Pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat ekonomi tumbuh, tetapi apakah mesin pertumbuhan yang tepat sedang menyala.

Pertanyaan ini penting karena dua perekonomian dengan laju pertumbuhan yang sama bisa memiliki fondasi yang sangat berbeda: yang satu ditopang investasi produktif, yang lain bergantung pada konsumsi atau stimulus sementara. Kualitas pertumbuhan menentukan seberapa lama laju itu bisa bertahan.

Berdasarkan sejumlah indikator awal, ekonomi triwulan III diperkirakan tumbuh sekitar 5,3 persen secara tahunan, sejalan dengan capaian triwulan II sebesar 5,29 persen. Data yang ada cukup konsisten untuk mendukung angka tersebut.Di tengah perdagangan global yang bergejolak dan risiko geopolitik yang belum reda, pertumbuhan yang stabil di kisaran ini patut diapresiasi.

Mesin itu tampak mulai panas. Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia naik menjadi 52,28 pada triwulan III dari 51,43 pada triwulan II; angka di atas 50 berarti aktivitas industri pengolahan ekspansif. Kenaikan itu didorong oleh volume produksi, volume pesanan, dan persediaan barang jadi yang sama-sama berada di zona ekspansi.

Sebagian besar subsektor juga berada dalam fase ekspansi, dipimpin industri barang galian bukan logam, makanan dan minuman, serta logam dasar. Impor bahan baku dan barang modal meningkat tajam, tanda bahwa pabrik sedang menambah kapasitas produksi.

Lingkungan global ikut membantu: sebagian besar negara G20 mencatat ekspansi manufaktur, dan Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur global mencapai 53,0 pada September menurut S&P Global. Dalam bahasa Kaldor, inilah tahap ketika akumulasi modal di sektor manufaktur mulai berjalan.

Permintaan dalam negeri ikut menopang. Konsumsi rumah tangga, komponen terbesar PDB, tampak terjaga: Mandiri Spending Index dari Mandiri Institute tumbuh 6 persen pada triwulan III, lebih tinggi dari 4,3 persen setahun sebelumnya, dengan kebutuhan pokok sebagai penopang utama.

Data GAIKINDO menunjukkan penjualan mobil baru secara retail tumbuh sekitar 25 persen, dan BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara pada Juli-Agustus naik sekitar 9 persen. Jumlah penumpang kereta api, kapal, dan angkutan penyeberangan juga bertambah. Semua ini terjadi dengan inflasi yang terkendali: data BPS menunjukkan inflasi September sebesar 3,28 persen, masih dalam sasaran pemerintah dan lebih rendah daripada beberapa negara ASEAN lain seperti Filipina dan Vietnam.

Ada pula transformasi yang berlangsung lebih senyap. Menurut Bank Indonesia, transaksi QRIS tumbuh lebih dari 75 persen sepanjang triwulan ini, sementara belanja dengan uang elektronik pada Juli-Agustus mencapai sekitar Rp226 triliun, tumbuh lebih dari 30 persen dan kini melampaui belanja lewat kartu ATM, debit, dan kredit.

Setiap pedagang kecil yang beralih ke pembayaran digital ikut masuk ke ekonomi formal. Dalam jangka panjang, jejak transaksi itu membuka akses pembiayaan yang lebih luas bagi usaha kecil dan memberi pembuat kebijakan data yang lebih cepat dan kaya tentang denyut ekonomi.

Angka sekitar 5,3 persen juga mencerminkan satu hal yang patut dicatat: permintaan domestik yang kuat sebagian dipenuhi lewat impor. Data BPS menunjukkan, pada Juli-Agustus impor tumbuh lebih dari tiga kali lebih cepat daripada ekspor, sehingga surplus perdagangan menyempit.

Dalam perhitungan PDB, impor mengurangi sumbangan permintaan domestik. Namun karena sebagian besar impor itu berupa bahan baku dan barang modal, impor tersebut justru merupakan investasi bagi pertumbuhan di masa depan. Dengan kata lain, angka 5,3 persen mencerminkan mesin domestik yang menyala, sementara sektor eksternal belum ikut menarik. Bila ekspor kelak menyusul, ruang pertumbuhan terbuka lebih lebar.

Kerangka Kaldor juga membantu kita melihat di mana peluang berikutnya terbuka. Setidaknya ada tiga. Ketiganya berangkat dari satu keyakinan: mesin yang sudah menyala perlu bahan bakar yang tepat.

Pertama, membawa investor dalam negeri ikut melaju. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi tumbuh sekitar 7,6 persen, dengan investasi asing naik lebih dari 27 persen. Ini cermin kepercayaan dunia terhadap prospek Indonesia.

Hampir seperempat investasi kini mengalir ke industri logam dasar, tanda hilirisasi mulai berwujud. Investasi dalam negeri memang masih tertinggal, tetapi ada sinyal menjanjikan: data Bank Indonesia menunjukkan kredit investasi tumbuh lebih dari 20 persen, yang biasanya dibaca sebagai cerminan keyakinan dunia usaha terhadap masa depan.

Pengusaha domestik tampaknya sedang bersiap ekspansi. Tugas kebijakan adalah memastikan kesiapan itu menjadi pabrik dan mesin baru, antara lain lewat kepastian regulasi, kemudahan perizinan, dan biaya logistik yang lebih rendah.

Kedua, memperluas keterkaitan industri. Albert Hirschman menekankan pentingnya keterkaitan antarsektor, atau forward dan backward linkages. Menurutnya, pembangunan jarang berjalan seimbang, dan dari ketidakseimbangan itulah dorongan berikutnya lahir. Industri hulu yang kuat menciptakan peluang bagi industri pemasok dan pengolah di sekitarnya.

Industri logam dasar yang sedang tumbuh adalah titik awal yang baik. Langkah berikutnya adalah memastikan hilirisasi menjalar ke industri barang jadi yang lebih padat karya, sehingga mesin pertumbuhan Kaldor juga menjadi mesin penciptaan lapangan kerja.

Di sinilah komponen tenaga kerja dalam PMI Bank Indonesia layak dicermati. Indeksnya masih sedikit di bawah 50, yaitu 49,58, artinya pabrik menambah produksi tetapi belum banyak menambah pekerja. Ini bukan kegagalan, melainkan tahap awal: ketika ekspansi bertahan, penyerapan tenaga kerja umumnya diharapkan menyusul, terutama bila disertai pelatihan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.

Ketiga, menjaga momentum ketika dukungan sementara mereda. Libur sekolah, diskon transportasi, insentif industri, dan program prioritas pemerintah ikut menggerakkan ekonomi triwulan ini. Dengan fondasi industri yang menguat dan inflasi yang terkendali, kini terbuka ruang untuk beralih bertahap dari dukungan sementara ke permintaan yang tumbuh dengan sendirinya.

Kredit konsumsi yang hanya tumbuh sekitar 5 persen menandakan rumah tangga masih berhati-hati, sehingga meningkatkan keyakinan konsumen menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Transisi itu perlu dikomunikasikan dengan jelas agar rumah tangga dan dunia usaha dapat merencanakan ke depan dengan percaya diri.

Enam dekade setelah Kaldor menyampaikan kuliahnya, gagasannya terasa hidup dalam data triwulan III: industri pengolahan berekspansi, kapasitas produksi bertambah, dan investasi mengalir ke sektor strategis. Hirschman, yang pandangannya sering disebut possibilisme, mengingatkan bahwa perubahan baik kerap datang dari jalur yang tidak kita duga.

Keduanya menyampaikan pesan yang sejalan: pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang membangun kapasitas untuk tumbuh lagi. Dengan cara pandang itu, kekurangan yang masih ada, seperti investasi dalam negeri yang belum secepat investasi asing, lebih tepat dibaca sebagai ruang untuk melangkah.

Tugas kita adalah menjaga mesin pertumbuhan tetap menyala, mengajak lebih banyak investor dalam negeri ikut melaju, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Dengan bekal itu, kita punya alasan kuat untuk optimistis.


(miq/miq)
Next Article Poin Utama dari Pertemuan IMF/Bank Dunia