Pelajaran dari Daluang, Kertas Warisan Nusantara untuk Mushaf Alquran
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Di sebuah ruang koleksi di Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tersimpan sebuah mushaf Alquran berusia lebih dari tiga abad. Kertasnya bukan kertas Eropa, melainkan daluang-kertas tradisional asli Indonesia yang dibuat dari serat kulit pohon.
Bagi pembaca hari ini, mushaf itu bukan sekadar benda antik. Ia adalah bukti hidup bahwa peradaban Islam di Nusantara tumbuh di atas kearifan lokal, dan bahwa merawat warisan itu menuntut pengetahuan yang juga berakar pada lokalitas.
Baca:Yafqahu Qauli |
Jejak daluang di Nusantara
Daluang telah lama menjadi bagian dari sejarah tulis-menulis Nusantara. Kata "daluang" disebut dalam Kakawin Ramayana pada abad ke-9. Kertas ini dibuat dari serat kulit pohon saeh atau mulberry (Broussonetia papyrifera).
Pada masa awal, daluang digunakan sebagai bahan pakaian para pendeta. Kini, daluang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014 dengan nomor register 2010000609.
Kekuatan yang tak tertandingi?
Daluang dikenal kuat. Seratnya panjang dan saling mengikat, dengan kandungan pH yang cenderung lebih netral dibandingkan kertas Eropa. Kertas Eropa yang berasal dari kain perca-katun, linen, dan rami-cenderung bersifat asam sehingga lebih mudah rusak. Perbedaan sifat kimia ini membuat metode konservasi keduanya tidak bisa disamakan.
Kekuatan daluang inilah yang membuat para ulama Nusantara memilihnya sebagai media penyalinan manuskrip keislaman. Di DPKI BRIN, selain mushaf Al-Qur'an dari awal abad ke-18, tersimpan pula kitab fikih, tauhid, dan akidah yang berbahan daluang. Mushaf tersebut merupakan hibah dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang.
Pilihan para ulama terhadap daluang bukan tanpa alasan. Kertas Eropa pada masa itu langka dan mahal, sementara bahan baku daluang tersedia melimpah di alam Nusantara dan mudah dibuat. Harga daluang pun jauh lebih murah. Akulturasi teknologi lokal dengan kebutuhan penyebaran Islam inilah yang menjadikan daluang berperan penting dalam tradisi intelektual pesantren.
Media ulama, penanda tradisi pesantren
Penggunaan daluang sebagai alat tulis di Nusantara telah umum sebelum Islam masuk. Ketika Islam mulai menyebar, para ulama mengadopsi dan mengakulturasi teknologi lokal ini untuk menyalin naskah-naskah keislaman: Al-Qur'an, kitab fikih, dan doa-doa. Tradisi ini berlanjut di lingkungan pesantren dan menjadi bagian tak terpisahkan dari penyebaran agama Islam di Nusantara.
Daluang-lembaran tradisional dari kulit kayu pohon saeh yang dibuat dengan memukul, memeram, menjemur, dan menghaluskan serat-berperan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara sebagai media penulisan Al-Qur'an dan karya-karya intelektual keislaman. Daluang juga menjadi pengganti lontar sejak berabad-abad lalu.
Dalam tradisi pesantren, daluang berfungsi sebagai penanda sosial karena distribusinya lazim berada di lingkungan pesantren, bukan keraton. Hal ini antara lain terlihat dari mushaf dengan makna gandul, naskah Tafsir al-Jalalayn di Tegalsari, Ponorogo (abad ke-18-19), serta mushaf dengan hiasan sederhana di Subang, Garut, Cangkuang, dan Mandailing Natal.
Ciri fisik naskah atau kodikologis mushaf daluang adalah seratnya yang kasar dan tebal, warna cokelat muda alami, serta tidak adanya cap air. Karena itu, penanggalannya sulit ditentukan tanpa uji radiokarbon. Sayangnya, tradisi pembuatannya sempat nyaris punah sekitar tahun 1960.
Kini upaya pelestarian dilakukan di Tegalsari (Ponorogo), Bandung, dan Sukoharjo. Pelestarian pengetahuan membuat daluang pun menjadi sama pentingnya dengan pelestarian naskah-naskah mushafnya (Iswanto, n.d.).
Perawatan yang tidak bisa disamakan
Kondisi manuskrip daluang di ruang koleksi DPKI saat ini dalam keadaan baik dan masih dapat dibaca. Perawatan yang dilakukan masih bersifat preservasi pasif: membersihkan debu dan kotoran secara rutin. Untuk manuskrip yang berlubang atau pinggirannya rusak, perbaikan dilakukan menggunakan tisu Jepang. Namun, keterbatasan bahan preservasi menjadi kendala karena pengadaan tisu Jepang belum terealisasi.
DPKI terbuka bagi para periset yang ingin melakukan penelitian di lokasi. Mekanismenya cukup dengan mengajukan permohonan melalui web resmi DPKI. Sayangnya, hingga kini belum ada layanan khusus yang dapat diakses selain prosedur standar tersebut.
Tantangan terbesar dalam merawat manuskrip daluang adalah iklim tropis Indonesia. Daluang sangat rentan terhadap pertumbuhan jamur dan degradasi akibat kelembapan. Manuskrip yang disimpan di lingkungan tertutup dengan ventilasi buruk biasanya terkena jamur di bagian lipatan dan tepi halaman. Oleh karena itu, kondisi penyimpanan yang stabil dan tidak lembap menjadi perhatian utama.
Pendekatan konservasi yang tepat untuk daluang tidak bisa disamakan dengan kertas Eropa. Dasar pembuatan kertasnya berbeda, sehingga pH yang dikandung pun berbeda. Menerapkan metode Eropa pada daluang justru berisiko merusak. Diperlukan pendekatan yang lebih spesifik dan berbasis lokal.
Upaya penyelamatan manuskrip daluang melalui digitalisasi juga memerlukan peralatan yang mumpuni. Banyak naskah yang tersebar dalam keadaan rusak berat, sehingga perlu penanganan serius dari berbagai pihak.
Informasi berharga yang menanti diungkap
Naskah-naskah yang ditulis menggunakan daluang menyimpan kekayaan informasi yang berharga untuk merekonstruksi situasi dan kondisi masyarakat Nusantara pada masa lampau. Koleksi daluang di DPKI mengandung informasi tentang ajaran dan praktik keagamaan. Penelitian terhadap naskah-naskah ini dapat mengungkap bagaimana ajaran Islam disebarkan, diinterpretasikan, dan diakulturasi dengan tradisi lokal.
Daluang bukan sekadar kertas. Ia adalah saksi perjalanan intelektual Nusantara, jembatan antara kearifan lokal dan nilai-nilai keislaman. Merawatnya berarti merawat identitas dan sejarah bangsa.
Namun, merawat daluang tidak cukup dengan mengaguminya. Diperlukan langkah nyata: riset naskah dan sejarah kertas, digitalisasi yang aman, penyediaan bahan konservasi, serta pelestarian keterampilan membuat daluang. Di tengah derasnya digitalisasi, manuskrip-manuskrip daluang menanti untuk dibaca, diteliti, dan diwariskan kepada generasi berikutnya-bukan sebagai kenangan yang membeku, melainkan sebagai pengetahuan yang terus hidup.
(miq/miq)