Kesadaran Pancasila dan Sumpah Pemuda untuk Kedaulatan Indonesia
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Oktober bagi Indonesia bukan sekadar lembaran kalender yang berulang. Ia adalah bulan yang menuntut kita untuk menelisik lebih dalam dan lebih sunyi. Dalam kesunyian itulah, dua peristiwa kesadaran besar bangsa ini menemukan momentumnya, yaitu Kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober dan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober.
Keduanya adalah landasan filosofis dan ikatan batin yang sulit dilepaskan, dua kutub kesadaran yang harus kita amplifikasi dalam konteks kekinian yang penuh disrupsi, fragmentasi, dan krisis makna.
Jika kita jujur menatap Indonesia hari ini, kedaulatan dan kemandirian yang kita cita-citakan apakah sepenuhnya hadir sebagai kenyataan yang utuh. Kita berdaulat secara politik, tetapi apakah sepenuhnya berdaulat secara ekonomi, pangan, energi, teknologi, dan yang paling dalam, berdaulat dalam kesadaran.
Di sinilah peran Sumber Daya Manusia (SDM) dan organisasi yang berkesadaran mesti dihadirkan. Bukan sekadar SDM yang kompeten secara teknis, melainkan SDM yang memiliki dasar yang kokoh secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi kumpulan individu-individu yang bekerja, bukan bangsa yang sedang menjadi.
Oktober Sebagai Ruang Sunyi Kesadaran Bangsa
Sejarah yang besar selalu lahir dari kesunyian perenungan, Oktober memberikan ruangnya. Satu Oktober, kita diingatkan bahwa Pancasila pernah berada di titik nadir untuk disingkirkan, dan bangsa ini memilih untuk mempertahankannya sebagai kesaktian. Kata sakti di sini bukan mistis, melainkan filosofis. Ia sakti karena ia hidup, karena ia mampu menjaga bangsa ini dari perpecahan, dari ideologi impor yang tidak berakar pada bumi Indonesia.
Lalu pada 28 Oktober, 98 tahun yang lalu, para pemuda dari berbagai suku, bahasa, dan latar belakang yang berbeda memutuskan untuk melebur menjadi satu. Mereka tidak sedang membuat organisasi baru. Mereka sedang membuat sebuah keputusan eksistensial, bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia. Sumpah Pemuda adalah momen ketika ke-Indonesia-an ditemukan bukan sebagai pemberian kolonial, tetapi sebagai kesadaran yang lahir dari dalam.
Dua peristiwa ini adalah satu tarikan napas. Pancasila adalah landasan filosofis tentang apa itu Indonesia, sedangkan Sumpah Pemuda adalah sumpah keterhubungan tentang siapa yang menjadi Indonesia. Satu menjawab pertanyaan tentang dasar, satu menjawab pertanyaan tentang siapa yang berdiri di atas dasar itu.
Maka, ketika Oktober datang, kita tidak hanya diminta mengingat, tetapi diminta untuk kembali menelisik ke dalam untuk menjawab dengan penuh kesadaran dengan segala kelekatannya.
Menjawab Pertanyaan Tentang Keberadaan Kita
Untuk membangun SDM dan organisasi yang berkesadaran, kita harus memulai dari pertanyaan paling dasar, yaitu pertanyaan ontologis, apa hakikat keberadaan kita sebagai bangsa dan sebagai manusia Indonesia.
Pancasila memberikan jawaban yang sangat mendalam atas pertanyaan ini. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan bahwa manusia Indonesia bukanlah manusia yang tercerabut dari langit. Kita adalah makhluk spiritual yang menyadari adanya sumber yang transenden.
Ini adalah antitesis dari SDM yang sekuler-materialistis, yang melihat manusia hanya sebagai alat produksi. SDM berkesadaran memahami bahwa kerja bukan sekadar mencari upah, melainkan ibadah, panggilan, dan pertanggungjawaban.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menegaskan bahwa kita ada untuk memanusiakan manusia. Di tengah dunia kerja hari ini yang sering kali mendehumanisasi, di mana manusia direduksi menjadi angka, target, dan KPI, Pancasila memanggil kita untuk kembali melihat manusia sebagai sesama.
Organisasi yang berkesadaran bukanlah organisasi yang mengeksploitasi manusia demi profit, melainkan organisasi yang memuliakan manusia agar mampu mencapai potensinya yang paling tinggi.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, adalah jawaban ontologis tentang relasi. Kita ada bukan sebagai individu yang terisolasi, melainkan sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Inilah yang hilang dalam budaya kerja yang sangat individualistis dan kompetitif. Persatuan bukan berarti penyeragaman, melainkan kesadaran bahwa perbedaan suku, agama, profesi, dari petani di sawah hingga engineer di kawasan industri, adalah kekayaan yang harus dirajut dalam satu tenunan kebangsaan.
Sila keempat dan kelima, Kerakyatan dan Keadilan Sosial, menegaskan tujuan keberadaan kita, menciptakan tata kehidupan bersama yang adil, bijaksana, dan bermusyawarah. Inilah ontologi Pancasila. Ia tidak hanya mengajarkan kita untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi ada secara utuh sebagai manusia Indonesia. Tanpa ontologi ini, SDM kita akan kehilangan jangkar, mudah terombang-ambing oleh tren global yang belum tentu sesuai dengan jiwa kita.
Cara Kita Mengetahui dan Menjadi Indonesia
Jika Pancasila menjawab apa hakikat kita, maka Sumpah Pemuda menjawab bagaimana kita mengetahui dan bagaimana kita menjadi Indonesia. Ini adalah wilayah epistemologis. Sumpah Pemuda adalah metode pengetahuan yang khas Indonesia. Ia tidak lahir dari laboratorium atau dari perpustakaan Barat.
Ia lahir dari perjumpaan. Para pemuda itu datang dengan bahasa dan identitas primordialnya masing-masing, lalu melalui dialog, perdebatan, dan empati, mereka menemukan pengetahuan baru yang lebih tinggi, yaitu Indonesia. Ini adalah epistemologi yang berbasis pada keterhubungan, bukan pada pemisahan.
Bagi SDM berkesadaran, pelajaran ini sangat fundamental. Untuk menjadi mandiri dan berdaulat, kita harus mampu melihat ke dalam, content dengan segala kelekatannya. Selama ini, kita terlalu sering melihat ke luar untuk mencari validasi.
Kita selalu mencari teori manajemen dari luar, teknologi dari luar, bahkan standar kebahagiaan dari luar. Padahal, Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa pengetahuan sejati justru ditemukan ketika kita berani menggali ke dalam diri, ke dalam tanah, ke dalam sejarah, dan ke dalam potensi lokal yang selama ini kita abaikan.
Pemuda dan Muda adalah usia sekaligus jiwa yang terus mencari potensi diri, menyempurna dan menjadi serta selalu ingin melampaui batas dirinya. Inilah semangat yang harus dihidupkan dalam setiap profesi. Petani muda yang berkesadaran tidak hanya menanam padi, ia sedang menjaga kedaulatan pangan bangsa.
Engineer muda yang berkesadaran tidak hanya merakit mesin, ia sedang merancang kemandirian teknologi bangsa. Guru, dokter, seniman, wirausahawan, semua profesi harus ditemukan kembali maknanya sebagai jalan pengabdian untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Epistemologi Sumpah Pemuda juga mengajarkan bahwa pengetahuan tidak pernah netral. Ada pengetahuan yang membebaskan dan ada pengetahuan yang menjajah.
Penjajahan hari ini tidak lagi hadir dalam bentuk fisik dengan senjata, melainkan dalam bentuk penjajahan mental, kebodohan yang dipelihara, dan pembodohan yang sistematis melalui arus informasi yang tidak berkesadaran. SDM berkesadaran adalah mereka yang mampu menyaring, mengolah, dan menciptakan pengetahuannya sendiri yang berakar pada kebutuhan bangsanya.
Panggilan Nurani untuk Bertindak
Aksiologi adalah tentang nilai dan tentang tindakan. Pengetahuan dan kesadaran itu jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Kedaulatan dan kemandirian Indonesia hari ini meniscayakan adanya panggilan nurani.
Panggilan itu tidak akan datang dari luar, melainkan dari dalam kesadaran setiap pemuda dan orang-orang yang berjiwa muda. Panggilan untuk tidak lagi menjadi penonton di negeri sendiri. Panggilan untuk tidak lagi bangga menjadi konsumen produk bangsa lain, sementara kekayaan alam dan kearifan lokal kita dibiarkan tidur.
Mengembalikan romantisme kejayaan masa lalu bukan berarti bernostalgia secara romantik dan pasif. Kejayaan Nusantara di masa lalu, ketika kita menjadi pusat peradaban maritim dunia, bukanlah dongeng. Ia adalah fakta historis yang sempat disembunyikan di lorong-lorong penjajahan fisik dan mental.
Tugas kita hari ini adalah mengembalikan kejayaan itu dengan cara yang relevan dengan zaman. Bukan dengan kapal layar, tetapi dengan penguasaan logistik dan ekonomi biru. Bukan dengan kerajaan, tetapi dengan organisasi-organisasi yang kuat, beretika, dan berdaya saing global namun berjiwa Indonesia.
Di sinilah organisasi berkesadaran memainkan peran menebar kesadaran untuk berhimpun di organisasi berupa perusahaan, serikat pekerja, komunitas, koperasi, gerakan sosial, yang dirancang bukan hanya sebagai mesin pencari keuntungan, tetapi sebagai sekolah kesadaran. Di dalamnya, setiap anggota diajak untuk melihat kembali ke dalam, menemukan potensinya yang paling otentik, dan menyalurkannya untuk tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
SDM berkesadaran yang bekerja dalam organisasi berkesadaran akan melahirkan budaya kerja yang berbeda. Budaya yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberkahan. Budaya yang tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga keadilan. Budaya yang tidak hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga membangun manusia-manusianya.
Menjadi Indonesia Sepenuhnya
Akhirnya, Oktober mengingatkan kita pada satu hal yang paling esensial, bagaimana menjadi Indonesia adalah sebuah proses yang tidak pernah selesai. Ia bukan status yang sudah jadi, melainkan sebuah laku yang harus terus diperjuangkan. Sumpah Pemuda!
Sumpah itu bukan akhir, melainkan awal. Awal dari sebuah perjalanan panjang untuk menyempurna dan menjadi. Menjadi bangsa yang berdaulat bukan karena ditakuti negara lain, tetapi karena mampu berdiri di atas kaki sendiri dengan percaya diri.
Menjadi bangsa yang adil bukan karena tidak ada perbedaan, tetapi karena mampu mengelola perbedaan dengan kebijaksanaan. Menjadi bangsa yang makmur bukan karena kekayaan alamnya melimpah, tetapi karena manusia-manusianya mampu mengolah kekayaan itu dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Jika dulu mereka bersumpah dengan darah dan air mata, hari ini kita bersumpah dengan karya, inovasi, integritas, dan keberanian untuk melihat ke dalam. Mari kita jadikan setiap tempat kerja sebagai tanah tumpah darah, setiap profesi sebagai bangsa, dan setiap karya sebagai bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia yang berkesadaran.
(miq/miq)