Bias Konfirmasi dan Kebenaran yang Terbaikan

Firman Kurniawan S,  CNBC Indonesia
22 October 2026 11:05
Firman Kurniawan S
Firman Kurniawan S
Firman Kurniawan S merupakan pendiri literos.org. Beliau juga dikenal sebagai pemerhati budaya dan komunikasi digital... Selengkapnya
Infografis, Sosial Media Terpopuler 2020
Foto: Ilustrasi pengguna media sosial. (CNBC Indonesia/Edward Ricardo)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Apa yang menyebabkan klarifikasi dari satu pihak, misalnya dalam perseteruan antara toko mainan di Brooklyn dengan penyanyi Kelly Clarkson, lebih tak didengar, dibanding unggahan media sosial yang viral?

Sebuah media Australia, abc.net.au, pada tanggal 11 Oktober 2026, memberitakan lewat "A Complete Timeline of Singer Kelly Clarkson's Feud with a Brooklyn Toy Store", soal perseteruan itu. Disebutkannya, kejadian bermula saat sang penyanyi masuk ke Art of Play di Brooklyn.

Di tempat yang menjual barang antik kelas atas, kartu remi unik, patung kinetik dan kotak berisi teka-teki, juga aneka mainan yang tak biasa, Clarkson tertarik pada mainan burung kuning mekanik. Namanya Molly. Dan di sekitarnya terserak label harga US$15.000, diduganya sebagai harga untuk mendapatkan Molly.

Lantaran tertarik, Clarkson bertanya soal barang yang diincarnya itu. Namun pembicaraan tampaknya tak memuaskan. Ini terlihat dari unggahan di akun X-nya, tak lama setelah meninggalkan toko. Ia menuduh toko memperlakukannya seolah-olah tak mampu membeli Molly. Diterimanya sebagai layanan yang tak disukainya.

Ketaksukaan ini, lantas diluapkan lewat akun media sosialnya dengan 8,8 juta followers. Ia mengidentikkan dirinya mengalami kejadian seperti karakter Julia Robert dalam Film Pretty Woman. Karakter ini meminati gaun dari sebuah butik yang semula memperkerjakannya, namun dianggap tak mampu membelinya. Kekesalan Clarkson terungkap tajam, "You're an idiot and just lost a huge sale."

Atas unggahan Clarkson, Art of Play mengklarifikasi. Toko ini membantah tindakan yang menimpa calon konsumennya dan terkejut, ketika tiba-tiba diserang oleh delapan juta orang, diduga sebagai follower Clarkson, yang belum pernah mengunjungi tokonya.

Pernyataannya juga menyebut: Molly sebenarnya tak pernah dijual, karena difungsikan sebagai maskot dan menjadi bagian tak terpisahkan dari toko. Tentu saja, silang pendapatnya tak segera berhenti. Unggahan masing-masing pihak saling bersambut di media sosial. Bahkan menghadirkan investigasi, yang tervisualisasi dari kamera pengawas toko.

Khalayak media sosial terbelah. Sebagian membela Art of Play, dengan bercerita pengalaman baiknya saat mengunjungi toko tersebut. Di antaranya juga ada pesohor, Michelle Monaghan, yang memuji Art of Play sebagai tempat istimewa yang pernah dikunjunginya. Tempat ini mengajaknya terus bermain, dan menikmati keajaiban.

Sedangkan khalayak yang lain, justru mengonfirmasi pengalaman Kelly Clarkson. Dinyatakan kurang lebih, "Toko Anda sangat tertata rapi, tetapi beberapa kali saya berkunjung, selalu mendapat perlakuan kasar atau tidak menyenangkan dari staf Anda, baik kepada kami maupun kepada pelanggan lain."

Keterbelahannya tak terkuantifikasi pasti, namun salah satu pemilik Art of Play, Adam Rubin, merasa tempatnya berbisnis ada dalam bahaya. Itu dinyatakan Rubin pada USA Today, yang menyebut reaksi negatif di internet telah mengkhawatirkannya.

Keamanan para penjaga toko juga terancam. "Bukan hanya orang-orang yang datang langsung, tetapi tetangga kami juga menjadi korban doxxing dan review bombing. Orang-orang diancam di jalan. Dan bagian terburuknya adalah, kami tidak tahu ini akan terjadi. Tetapi Kelly Clarkson mengetahuinya."

Peristiwa soal unggahan dan klarifikasi, juga pernah meramaikan Indonesia. Seorang penumpang commuter line jurusan Tanah Abang-Rawa Buntu, Anita, melaporkan kehilangan cooler bag miliknya. Tas ini berisi tumbler yang harganya cukup mahal.

Namun tak terlalu lama lenyap, Cooler bag ditemukan Argi, petugas yang menyertai perjalanan KRL. Itu diambil Anita, sehari setelah laporannya. Namun Anita masih kecewa: tumbler tak ditemukan dalam cooler bag yang diterimanya. Ini mendorongnya membuat unggahan bernada kecewa, "TUMBLER TUKU-ku GONE ATAS KE-TIDAK TANGGUNG JAWAB PETUGAS PT KAI".

Kekecewaan Anita memantik PT KAI, melakukan pemeriksaan internal. Sayang, belum juga tuntas pemeriksaannya sudah diganggu unggahan sepihak Argi. Ia menyebut telah dipecat dan kehilangan pekerjaan gara-gara laporan Anita.

Walaupun Argi mengaku telah lalai tak memeriksa isi cooler bag, saat serah terimanya di stasiun yang sedang ramai. Dalam perkembangan berikutnya, persilangan pendapat itu dimenangkan Argi. Khalayak berpihak kepadanya dan menyalahkan Anita.

Anita dianggap teledor menjaga bawaannya sendiri, namun menyebabkan orang lain dipecat. Hujatan pada Anita, bersamaan dengan klarifikasi KAI: tak ada pemeratan pada Argi. Namun kemarahan terlanjur terbentuk, sulit diredakan lewat klarifikasi.

Tampak dari dua kasus di atas: khalayak lebih mempercayai narasi awal yang viral, dibanding klarifikasi yang mendudukkannya pada keadaan benar. Klarifikasi tak digubris. Tiadanya kemungkinan mempertimbangkan keadaan sebenarnya dibanding keadaan yang lebih dulu diterima, sering terbentuk oleh bias konfirmasi. Di masa pandemi Covid-19, bias konfirmasi memancing polarisasi khalayak, yang lazim disebut Social Media Induced Polarisation (SMIP).

Sachin Modgil, Rohit Kumar Singh, Shivam Gupta & Denis Dennehy, 2021, dalam "A Confirmation Bias View on Social Media Induced Polarisation During Covid-19" menguraikan keadaan itu. Disebutkannya, bias konfirmasi, sebagai bagian bias kognitif, adalah kecenderungan yang kerap diinduksi oleh media sosial. Kecenderungan berupa: lebih dipercayainya informasi yang sesuai keyakinan atau opini awal, sambil mengabaikan klarifikasi atau bukti yang bertentangan, dengan keyakinan khalayak.

Ketika informasi makin dihadirkan lewat media sosial, realitas jadi makin terdistorsi. Algoritma memperkuat bias, lewat kurasi unggahan yang didasarkan konsumsi informasi khalayak sebelumnya. Juga pertimbangan keuntungan ekonomis, platform media sosialnya.

Seluruhnya tercermin dari derasnya komentar, maupun unggahan yang mendukung. Klarifikasi maupun fakta yang menentangnya, diabaikan. Narasinya dianggap tak sesuai, dengan narasi awal yang sudah terlanjur dipercaya.

Dalam perseteruan antara Kelly Clarkson vs Art of Play misalnya: pernyataan toko bahwa label harga yang terserak bukanlah harga untuk mendapatkan Molly, melainkan biaya untuk memesan burung serupa dari senimannya Bliss Kolb tak diigubris. Khalayak nyaman dengan narasi, adanya toko sombong yang menganggap pembelinya tak mampu. Lalu dihujat.

Selain adanya peluang berpihaknya khalayak pada realitas sebenarnya, dalam polarisasi akibat bias konfirmasi, kemungkinan reputasi yang tiba-tiba runtuh oleh narasi salah namun viral, sangat mengkhawatirkan entitas apa pun. Pesohor dunia hiburan, atlet, aktitivis sosial, perusahaan komersial, hingga pelaku politik, yang seluruhnya membutuhkan dukungan khalayak media sosial, bisa tiba-tiba diserang narasi sesat macam itu.

Serangannya tiba-tiba, namun menyebabkan dukungan yang semula membuncah langsung sirna. Setidaknya tergerus, sulit dikembalikan ke keadaan semula. Namun persoalan terbesar dari bias konfirmasi yang menjangkiti khalayak, yang hidupnya hari ini sangat dipandu algoritma maupun manipulasi berbasis artificial intelligence (AI), adalah kekacauan pemaknaan terhadap realitas. Realitas tak jelas lagi pijakannya, dan berbahaya saat digunakan sebagai acuan menyusun tindakan.

Deepak Ouseph, 2022, dalam "The Danger of Confirmation Bias in Society and Social Media" menguraikan bahaya itu. Disebutkannya kurang lebih: hari ini terjadi percepatan penyebaran berita palsu maupun materi yang salah dan menyesatkan.

Percepatannya mengandalkan peran media sosial yang mengubahnya menjadi berita yang sah. Seakan-akan berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Lalu khalayak dengan mudah berbagi informasi maupun artikel berita itu.

Lantaran dikonfirmasi sebagai ide-ide yang dikembangkan berdasarkan kepercayaan yang telah ada sebelumnya. Sebagai taktik, digunakan judul penarik perhatian untuk mengemas lontaran berbagai tuduhan yang tak berdasar. Status faktanya tak jarang sebatas opini yang bias, sebagai gambaran keyakinan pembaca sendiri.

Bias makin dikonfirmasi. Pernyataan yang tak ada bukti kebenarannya dterima sebagai fakta, hanya karena relevan dengan keyakinan saat mencerna informasi. Lalu disebarkan luas oleh khalayak, dengan menunggangi keyakinan kolektif yang sudah terbentuk.

Bias konfirmasi makin menggelembung sebagai echo chamber. Suara sendiri makin nyaring didengar sebagai ilusi kebenaran, disertai terbentuknya filter bubble. Seluruhnya ini mengisolasi informasi khalayak pada ragam informasi yang senada, dengan informasi yang pernah dikonsumsinya.

Maka dapat dipastikan: bias konfirmasi menyebabkan media sosial jadi pengamplifikasi hadirnya realitas yang tak utuh. Dan ketika ketakutuhan ini digunakan untuk merumuskan tindakan, yang dalam relasi biner pilihannya: berpihak atau memusuhi, dapat menghasilkan pilihan yang bias.

Tanpa keutuhan realitas, jadi salah memihak. Berteman dengan kesalahan dan memusuhi kebenaran. Maka yang primer dan perlu, adalah mengacu pada realitas nyata sebagai pijakan. Bukan yang didistorsi bias konfirmasi maupun manipulasi algoritma. Atau tak usah ikut dalam keberpihakan, yang tak selalu jadi urusan semua orang. Agar dunia makin tak runyam bukan?


(miq/miq)
Next Article Menyepelekan yang Penting dan Mementingkan yang Sepele