Pecunia Non Olet: Uang Tak Lagi Berbau dan Nurani yang Mati Rasa

Febry Silaban,  CNBC Indonesia
22 October 2026 08:32
Febry Silaban
Febry Silaban
Febry Silaban, S.Fil., M.E. adalah mantan wartawan yang kini bekerja di salah satu perusahaan minyak dan gas di Indonesia. Ia merupakan alumni program S2 bidang kebijakan publik dari Universitas Indonesia. Febry juga merupakan seorang pemerhati bahasa... Selengkapnya
Vila Romawi Ditemukan di Lahan Pertanian Inggris. (University of Leicester Archaeological Services via AP)
Foto: Ilustrasi Situs Romawi. (University of Leicester Archaeological Services via AP)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Di tengah forum megah yang dikelilingi tiang-tiang marmer, seorang kaisar menggenggam sekeping koin emas yang berkilau di bawah sinar matahari. Di hadapannya, sang putra menatap dengan wajah jijik, karena ia tahu dari mana uang itu berasal: dari air kencing.

Kaisar itu bernama Vespasianus, penguasa Romawi abad pertama Masehi. Ia baru saja menerapkan pajak dari penjualan urine masyarakat. Ketika putranya, Titus, memprotes bahwa pajak semacam itu menjijikkan, sang ayah mengangkat sekeping koin dan bertanya, "Apakah kau mencium baunya?"

Titus menjawab, "Tidak."

Dan dengan tenang Vespasianus berkata, "Pecunia non olet." Artinya, uang tidak berbau.

Dari Urine ke Kekayaan Kekaisaran
Kisah itu bukan mitos. Pajak urine atau vectigal urinae benar-benar ada. Urine pada masa Romawi Kuno ternyata sangat berharga. Ia digunakan dalam industri penyamakan kulit, pemrosesan wol, hingga sebagai bahan pemutih toga, karena kandungan amonianya tinggi. Orang Romawi kelas bawah buang air di pispot, dan hasilnya dikumpulkan untuk dijual.

Kaisar Nero sempat memberlakukan pajak ini, lalu dihapus. Namun Vespasianus menghidupkannya kembali pada tahun 70 Masehi demi menambah pemasukan negara.

Urine yang dikumpulkan dari toilet umum dijual kepada para pengrajin dan penatu, dan para pengumpulnya wajib membayar pajak. Ironisnya, kebijakan ini tidak hanya memperkuat ekonomi Roma, tapi juga melahirkan toilet umum berbayar pertama di dunia.

Nama Vespasianus bahkan diabadikan hingga kini: di Italia, urinoar publik disebut vespasiano, di Prancis vespasienne, dan di Rumania vespasiene.

Maka benarlah, dari air kencing pun kekaisaran bisa berdiri tegak. Vespasianus mungkin pragmatis, tapi dia jujur pada satu hal: uang tetap uang. Tidak peduli dari mana asalnya, nilai tukarnya tetap sama di pasar.

Ketika Bau Tak Lagi Tercium
Ungkapan "Pecunia non olet" kini melampaui sejarah Romawi. Ia menjelma menjadi simbol universal dari pandangan dunia yang sangat modern: bahwa uang adalah netral, dan moral adalah urusan pribadi.

Di zaman postmodern seperti sekarang, pepatah itu menemukan panggung barunya, bukan lagi di forum Romawi, tapi di gedung-gedung tinggi tempat kekuasaan dipertontonkan.

Kita hidup di era ketika uang bisa mencuci apa pun: dosa, reputasi, bahkan sejarah. Ketika bisnis hitam dibungkus dengan istilah "investasi strategis." Ketika gratifikasi disebut "tanda terima kasih," dan suap dikemas rapi sebagai "biaya koordinasi."

Kata filsuf Latin, corruptio optimi pessimal, "kebusukan yang paling parah adalah ketika datang dari yang terbaik." Dan hari ini, kebusukan itu bukan dari toilet umum, melainkan dari ruang-ruang yang mestinya harum oleh integritas: kantor pejabat, ruang rapat BUMN, hingga lembaga legislatif yang dibangun dengan uang rakyat.

Kita seolah tak lagi heran saat mendengar korupsi triliunan rupiah. Publik menanggapinya dengan tawa pahit karena sudah terlalu sering. Begitu uang berbicara, bau busuk pun lenyap, seolah semuanya bisa dimaklumi selama ekonomi tetap berputar.

Cermin Bagi Zaman
Di sinilah paradoksnya. Vespasianus berkata, "Uang tidak berbau," tapi barangkali ia tidak menyangka pepatah itu akan hidup begitu lama, bahkan di dunia di mana nilai moral kerap ditukar dengan angka nol di rekening bank. Zaman berubah, tapi logika uang tetap sama. Nilainya memang netral, tapi tangan yang memegangnyalah yang menentukan maknanya.

Pepatah Latin lain mengatakan, homo homini lupus, artinya manusia adalah serigala bagi sesamanya. Ketika moral tergerus dan kekuasaan menjadi tujuan, manusia akan membenarkan segala cara demi uang, bahkan bila harus mengorbankan martabat.

Kita mungkin tak lagi memungut pajak dari urine seperti Romawi, tapi kita masih punya "pajak-pajakan" modern: pungli, komisi gelap, hingga proyek fiktif. Semua dilakukan dengan satu pembenaran klasik, "demi pembangunan."

Padahal, bangsa besar bukan dibangun dari uang yang tak berbau, tapi dari nurani yang tak bisa dibeli.

Aroma Nurani
Mungkin benar, uang tidak berbau. Tapi moral manusia punya aroma yang tak bisa ditutupi oleh parfum kekuasaan atau cologne kemakmuran. Dan ironinya, dalam dunia yang semakin halus menutupi bau busuk dengan wangi semu, hidung nurani kita justru makin kehilangan daya cium.

Vespasianus mungkin akan tersenyum puas bila melihat logika pecunia non olet masih bertahan dua milenium kemudian. Tapi bila ia hidup di Indonesia hari ini, menyaksikan politik uang, korupsi berjamaah, dan keserakahan berjubah pembangunan, barangkali ia akan bertanya balik kepada kita: "Jika uang memang tidak berbau, mengapa moral kalian yang kini membusuk?"

Sejarah Romawi mengajarkan kita banyak hal. Bahwa ekonomi butuh pajak, negara butuh pemasukan, dan uang memang netral. Tapi ada satu hal yang tak boleh ikut dinetralkan: hati nurani.

Sebab pada akhirnya, uang memang tak berbau, tapi bangsa yang kehilangan moralnya akan mengeluarkan bau busuk yang bisa tercium lintas zaman.


(miq/miq)
Next Article Memahami Korupsi Kepala Daerah Dari Perspektif Teori Principal-Agent