Antara Beijing & Chongqing: Dua Kota Percontohan Bagi Indonesia
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Pesawat China Southern Airlines CZ 8354 yang kami tumpangi pada Jumat (10/10/2026) dini hari akhirnya mendarat mulus di Bandara Internasional Bao An, Kota Shenzhen, China. Namun pendaratan tersebut hanya sementara, sekadar transit lalu kami beralih pesawat lain guna melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Kota Beijing. Kira-kira masih tersisa tiga jam perjalanan untuk sampai di Ibu Kota China itu.
Siang harinya, tepat pukul 12:40 waktu setempat, barulah kami tiba di Beijing. Disambut langit kota yang kelabu dan angin sejuk musim gugur seketika meresap di antara pori-pori kulit kami. Aroma khas udara China begitu familiar dalam rongga penciuman kami. Wangi kota menyeruak, menghidupkan kembali imajinasi tentang memori dan kenangan China pada masa-masa belajar tempo dulu.
China memang tidak asing bagi kami. Kami merupakan alumni perguruan tinggi setempat yang hendak melakukan kegiatan pertukaran budaya dan akademik selama enam hari lamanya, tepatnya tanggal 10-16 Oktober. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kedutaan Besar China untuk Indonesia, guna menyempurnakan pengalaman dan pengetahuan kami soal negeri ini, tempat kami menimba ilmu di masa lalu.
Rombongan yang saya ikuti, keseluruhan terdiri dari 20 partisipan. Semuanya berasal dari beragam profesi, mayoritas dosen, dan tersebar di seluruh Indonesia. Bersama-sama kami melakukan napak tilas akademik, menyusuri perkembangan sejarah China di masa lalu dan melakukan observasi atas pencapaian China di masa kini.
Dalam lawatan kali ini, kami mencoba memahami China secara lebih utuh. Lewat pengamatan langsung pada tempat-tempat yang sebelumnya belum sempat kami jamah. Dan perjalanan itu dimulai dari Beijing, sebuah kota besar dengan sejarah panjang dan elite-elite penting tinggal di dalamnya.
Entah untuk kali ke berapa sebenarnya kami menginjakkan kaki kembali di Beijing. Atau mungkin, ini adalah kali pertama salah satu dari kami datang ke kota ini. Mengingat begitu luasnya China. Dan dulu, saat belajar, kami tersebar di berbagai wilayah yang amat jauh.
Bagi saya pribadi, ini adalah kali ketiga saya berkunjung ke Beijing. Kunjungan kali ini bisa dibilang yang paling mengesankan dibanding sebelum-sebelumnya. Alasannya, bukan saja lantaran banyak dan beragamnya tempat yang kini dikunjungi, melainkan karena hadirnya pendamping lokal yang selalu siap menjelaskan seluk beluk kota secara lebih utuh. Teka-teki yang selama ini masih membuat penasaran, terbayar lewat jawaban dan observasi langsung di lapangan.
Kedatangan kami memang bukan sekadar wisata private. Bersama 19 teman-teman lainnya, saya mengunjungi dua kota penting: Beijing dan Chongqing. Dari dua kota ini, kami bukan hanya menikmati pengalaman baru melihat tempat-tempat yang dulu - ketika menjadi mahasiswa hanya bisa kami lihat foto-fotonya di internet. Tapi kali ini, kami merasakan langsung gairah, spirit sejarah, kemegahan situs, dan paling terpenting: substansi pengetahuan dari setiap tempat yang dikunjungi.
Yang membuat perjalanan ini menarik, kunjungan ini meliputi lawatan yang beragam. Tidak berhenti hanya di situs-situs wisata sejarah. Kami juga menapaki beberapa pabrik dan industri, mendatangi lembaga dan institusi pemerintahan, serta berkunjung ke salah satu universitas terbesar di Kota Chongqing, Southwest University.
Pelajaran Berharga Dari Beijing dan Chongqing
Kesimpulan saya atas safari ini, jika dirangkum dalam kalimat sederhana: 'Di antara Beijing dan Chongqing, ada pelajaran istimewa bagi Indonesia'.
Dua kota ini memang menjadi salah satu kota penting dalam geliat pembangunan dan kemajuan China modern. Beijing merupakan pusat pemerintahan. Letaknya berada di bagian utara China. Elite partai dan keputusan politik krusial terpusat di kota ini.
Sementara Chongqing menjadi pusat kota di bagian barat daya China. Lanskap kota ini perbukitan dengan dua sungai besar mengalir di dalamnya: Yangtze dan Jialing. Tak ayal, kota ini menyuguhkan panorama menawan. Jembatan-jembatan megah berdiri kokoh, dan bangunan-bangunan tinggi menjorok ke atas awan.
Terlepas dari kemegahan infrastruktur yang disuguhkan Beijing dan Chongqing - yang sebenarnya amat lazim di berbagai kota di China - ada dua hal yang sebenarnya penting untuk dipetik Indonesia dari kota ini. Dari Beijing dan Chongqing kita belajar bahwa kemajuan China berjalan beriringan dengan kecintaannya pada masa lalu (sejarah) dan komitmennya pada pembangunan berkelanjutan untuk masa depan.
Ilmu pengetahuan dan kemajuan tidak serta merta menjadikan China angkuh sehingga menganggap peninggalan sejarah sebagai hal remeh belaka. Mereka juga tidak bebal, sehingga mengaplikasikan kecakapan tekhnologinya secara sembarangan. Teknologi bukan alat untuk memuaskan dahaga eksploitatifnya terhadap alam. Semua ini terbukti dari berbagai peninggalan sejarah dan inovasi yang terus berkembang di dua kota itu.
Di Beijing, kita masih menemukan berbagai situs sejarah yang masih terjaga dengan baik. Terbentang dari Tembok Besar China yang masyhur, Temple of Heaven, hingga sekadar Pabrik Besi dan Baja yang strukturnya masih utuh.
Bayangkan, sebuah pabrik baja kuno awet berdiri kokoh di tengah riuh masyarakat Beijing. Pabrik kuno ini bernama Shougang, dibangun pada tahun 1919 dan terletak di distrik Shijingshan. Di masa lampau Shougang menjadi salah satu pabrik termegah di masanya. Dalam bahasa mandarin, namanya mengandung arti "ibu kota baja" (Xinhua, 2023).
Apa yang dilakukan pemerintah China terhadap pabrik peninggalan ini sungguh unik. Mereka menyulap pabrik tersebut menjadi taman kota. Pabrik kuno tidak dilenyapkan, tapi diubah menjadi arena berlibur warga dengan hotel mewah dan taman bermain dibangun menyatu dengan struktur pabrik. Kawasan itu kini dikenal dengan Shougang Industrial Park (Xinhua, 2023).
Sepintas, apa gunanya mempertahankan pabrik baja tua yang sudah lama berhenti beroperasi? Jangan salah sangka, di balik semua itu ada hal kasat mata yang jarang kita sadari. Situs sejarah, apa pun bentuknya, penting dijaga supaya nasionalisme rakyat dapat bertahan dan terus lestari.
Kenangan masa lalu tidak hanya soal estetik infrastrukturnya, namun juga tentang nilai moral yang melatarbelakanginya. Buktinya, tekad dan kerja keras yang diwariskan kepada masyarakat China masa kini, masih tergenggam kokoh, sekokoh pabrik lama itu berdiri.
Sementara di belahan kota lainnya, Chongqing, pemerintah China membangun kota berkelanjutan yang asri dan terintegrasi dengan lanskap alam setempat. Alih-alih mengeruk perbukitan yang menghambat ekspansi pembangunan kota, dan membiarkan sungai-sungai besar menghalangi mobilitas kehidupan warga yang terbelah akibat struktur geografis, pemerintah China malah asyik melakukan adaptasi dengan rintangan yang ada.
Ilmu pengetahuan, sekali lagi, menjadi pedoman teknis sekaligus moral bagi arah pembangunan berkelanjutan di Chongqing. Pemerintah China tidak melakukan ekspansi pembangunan membabi buta dengan melenyapkan kontur alam sekitar.
Sebaliknya, mereka membangun terowongan-terowongan panjang yang menembus pegunungan, menciptakan rusun-rusun tinggi menjulang yang menempel langsung dengan bukit curam di antara sisi-sisinya, serta mendirikan jembatan-jembatan megah nan kokoh di antara sungai-sungai besar. Pembangunan berjalan harmoni dengan eksistensi alam lokal.
Semua itu didasarkan pada satu keyakinan bahwa profil alam yang kompleks bukanlah hambatan yang mesti ditaklukkan, tapi diharmonisasikan dengan kebutuhan manusia. Manusia butuh alam bukan barang setahun dua tahun, namun kekal selamanya. Alam adalah rumah abadi bagi mereka.
Karenanya, dari Beijing dan Chongqing kita mengambil dua ibrah penting bagi arah pembangunan Indonesia ke depan.
Pertama, situs sejarah, bagaimana pun remehnya, seperti pabrik baja lama, menyimpan makna berharga bagi pelestarian nasionalisme dan cinta tanah air. Tekad membangun bangsa tidak akan pernah muncul tanpa spirit nasionalis di belakangnya. Dan nasionalisme bukan sekadar melahirkan semangat bagi kesungguhan membangun bangsa, melainkan menjaga kita dari degradasi moral seperti pragmatisme sempit dan korup.
Kedua, tentang bagaimana China modern memperlakukan alam. Gunung, sungai, hutan, laut, adalah anugerah tuhan yang mesti dijaga. Eksistensinya bukan sekadar untuk dikeruk, dikotori, dibakar, dan dieksploitasi tanpa henti. Alam adalah bagian dari semesta kehidupan yang telah lebih dulu ada sebelum umat manusia. Cara terbaik memperlakukan alam adalah dengan hidup berdampingan dengannya, bukan meluluhlantakkan keberadaannya.
Dari Beijing dan Chongqing kita akan selalu ingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjalanan sejarahnya dan eksistensi alamnya.
(miq/miq)