Urip Iku Urup di Pagi yang Tak Pernah Sama

Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.,  CNBC Indonesia
15 October 2026 09:08
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A. adalah seorang sosiolog, praktisi pekerjaan sosial, dan manajer pengembangan program strategis di sektor kemanusiaan serta filantropi. Maulana memadukan analisis sosiologis terapan dengan kerangka metodologis yang didapat.. Selengkapnya
Ilustrasi amil zakat. (Dok. MUI)
Foto: Ilustrasi amil zakat Badan Amil Zakat Nasional. (Dokumentasi MUI)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pagi selalu dimulai dengan bunyi yang berulang di teras rumah. Gemeretak dingin kunci kontak motor, dengung mesin kendaraan yang dipanaskan tergesa, dan rintih
gerimis tipis yang menempel di kaca jendela. Secangkir teh tubruk melati yang lekas mendingin kerap menjadi satu-satunya jeda sebelum berkas-berkas program
kemanusiaan, angka-angka mustahik, dan tumpukan laporan verifikasi lapangan kembali menuntut pertanggungjawaban.

Namun, kita lekas paham bahwa di balik pengulangan bunyi yang tampak seragam itu, sesungguhnya kita selalu melangkah ke dalam pagi yang tak pernah sama pada persoalan kemanusiaan yang tak pernah berulang dengan watak persis serupa, dan batin kita yang menyongsongnya pun tak pernah utuh sama seperti kemarin.

Kita pun barangkali kerap mengulang pepatah Jawa nan agung itu tanpa jeda, "urip iku urup" hidup kudu menyala, memberi terang, dan menghidupkan sekitar. Namun, di ambang pagi yang selalu membawa kecemasan baru, sebuah pertanyaan seringkali lirih menyelinap, bagaimana jika seorang amil zakat menemui lelah?

Menjadi amil zakat benar-benar bukan untuk menjadi lakon heroik yang bertabur tepuk tangan di atas panggung seminar. Di meja kerja sederhana, kita lebih sering
bergulat dengan tumpukan map lusuh, deretan pesan darurat di gawai yang tak pernah tidur, dan angka-angka kemiskinan yang menolak disederhanakan menjadi diagram batang.

Selalu ada da ketegangan antara panggilan moral untuk menolong sesama dan kenyataan bahwa tubuh serta batin kita tersusun dari tulang dan daging yang bisa letih,
urat yang bisa tegang, serta pikiran yang rentan remuk.

Keseharian sering kali menjemput kita di garis batas yang muram. Suatu hari kita duduk di lantai beralas terpal tipis mendengarkan janda tua mencemaskan biaya sekolah anaknya, hari berikutnya kita berdiri di tengah lumpur bekas banjir bandang membagikan paket logistik, dan petang harinya kita dipaksa kembali ke meja komputer untuk menyusun narasi pelaporan yang rapi demi para donatur.

Dalam peralihan peran yang teramat lekas itu, "diri" kerap tertinggal di belakang, terengah-engah mengejar ritme kewajiban yang tak kenal ampun. Di titik inilah kelelahan batin menampakkan wajah aslinya, sebuah kondisi yang secara jernih didedah oleh Charles R. Figley dalam buku lawasnya Compassion Fatigue: Coping with Secondary Traumatic Stress Disorder in Those Who Treat the Traumatized (1995).

Figley mengingatkan bahwa mereka yang sehari-hari bekerja merawat luka orang lain sesungguhnya menyerap serpihan trauma tersebut ke dalam dirinya sendiri, dan ada harga emosional yang mahal dari setiap tetes empati yang dicurahkan tanpa henti.

Lelah yang merayap di tubuh pegiat kemanusiaan tidak pernah berkisah tentang tanda berkurangnya keikhlasan. Lelah yang merayap itu harus dimaknai sebagai batas
daya tampung manusiawi yang telah tersentuh. Kita kerap terjebak dalam mitos kesalehan yang menganggap rasa lelah sebagai aib atau tanda rapuhnya iman, padahal
tubuh memiliki bahasanya sendiri untuk menuntut jeda.

Ketika rasa perih orang lain terus-menerus diserap tanpa penyaring, hati perlahan berubah kaku, bukan karena kehilangan rasa asih asuh. Kakunya batin dan rasa sudah berubah menjadi mekanisme pertahanan agar tidak binasa terbakar api penderitaan.

Peringatan senada ditegaskan kembali oleh Christina Maslach dan Michael P. Leiter dalam The Truth About Burnout: How Organizations Cause Personal Stress and What to Do About It (1997). Maslach dan Leiter menegaskan bahwa kelelahan akut (burnout) itu adalah retakan relasi antara manusia dengan beban lingkungan kerjanya ketika tuntutan emosional dan idealisme moral tidak lagi seimbang dengan sumber daya psikososial yang tersedia.

Di ruang-ruang kantor lembaga filantropi dan bilik kerja kerelawanan, kita sering menyaksikan ironi yang menyedihkan. Begitu banyak orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menyejahterakan sesama justru kerap abai terhadap kesejahteraan hidupnya sendiri.

Jam kerja melar hingga larut malam, libur akhir pekan ditelan agenda darurat kemanusiaan, dan waktu makan terabaikan di sela-sela dering telepon penanganan bencana. Solidaritas sosial yang digaungkan ke luar sering kali lupa dipraktikkan ke dalam, seolah-olah amil dan relawan adalah mesin penabur berkah yang
kebal dari rasa lapar dan nestapa.

Maka, falsafah urip iku urup perlu kita baca ulang dengan kesadaran yang lebih menjejak bumi, bukan sebagai beban moral yang menuntut pengorbanan martir yang
kabur batasnya. Sebuah lentera mustahil memancarkan cahaya yang menghangatkan jika kacanya dibiarkan penuh jelaga hitam dan wadah minyaknya kering kerontang.

Menyala meniscayakan adanya bahan bakar dan waktu untuk merawat sumbu. Menjadi amil yang utuh berarti berani mengakui bahwa diri ini fana, memiliki keterbatasan langkah, dan berhak atas jeda tanpa harus diselimuti rasa bersalah.

Keberanian untuk menerima kerapuhan ini sejalan dengan gagasan Brene Brown dalam buku Daring Greatly: How the Courage to Be Vulnerable Transforms the Way We
Live, Love, Parent, and Lead (2012). Brown membongkar ilusi bahwa ketangguhan sejati lahir dari topeng kesempurnaan yang kaku. Sebaliknya, ketahanan personal yang tangguh justru berakar dari kesediaan mengakui ketakutan, batas lelah, dan kerapuhan diri di hadapan kenyataan.

Ketika seorang amil zakat dan pekerja sosial berada di pusaran ruang krisis, entah itu pos bencana alam, pendampingan kelompok rentan yang terancam penggusuran,
atau penanganan kemiskinan ekstrem, ruang batin seorang amil zakat membutuhkan strategi penyelamatan yang taktis dan membumi.

Coping pertama yang mutlak dihadirkan adalah jeda mikro (micro-break) dengan melangkah keluar sepuluh menit dari hiruk-pikuk tangisan dan instruksi darurat, melepas sepatu boot yang berat, membasuh wajah dengan air dingin, lalu menyadari kembali hembusan semilir angin di bawah naungan pohon rindang.

Langkah berikutnya adalah membangun batas emosi (emotional boundaries) yang sehat, membedakan secara tegas antara rasa peduli (caring) dan tanggung jawab mutlak atas takdir orang lain. Seorang amil bertugas mengulurkan tangan dan menyalurkan amanah sebaik mungkin, tetapi sejatinya ia bukan penentu satu-satunya dari seluruh nasib kehidupan dunia.

Meletakkan beban penyelamat dari pundak seorang amil zakat adalah bentuk kerendahan hati spiritual yang membebaskan batin dari sindrom mesias (messiah complex). Selain penataan batin seorang amil zakat, ruang krisis membutuhkan ritual berkala yang egaliter di antara sesama tim lapangan.

Setiap senja sebelum rehat malam tiba, sediakan lingkaran kecil tanpa catatan administrasi atau evaluasi kinerja teknis, di mana setiap pekerja boleh berkata jujur, "hari ini aku merasa khawatir," "aku trenyuh melihat anak kecil di Kali Code tadi siang," atau "pikiranku buntu."

Kata-kata yang diucapkan secara terbuka di hadapan kawan seperjuangan akan melarutkan trauma sebelum mengendap menjadi keputusasaan yang membatu. Kita juga memerlukan coping melalui ritual keseharian yang bersahaja di luar jam penugasan.

Menyeruput kopi di warmindo sambil memperhatikan pedagang pasar menata sayur, mencuci kendaraan yang berdebu sendirian, membaca beberapa bait puisi lama, atau sekadar memandangi gerak daun yang diterpa angin sore. Hal-hal remeh ini mengembalikan rasa kemanusiaan ke bumi, membuktikan bahwa di luar krisis dan
derita yang kita tangani, roda kehidupan biasa yang tenang masih terus berputar.

Saya pribadi, sejak empat belas tahun yang dilewati sebagai amil zakat selalu menuliskan esai kemanusiaan atas peristiwa kemanusiaan yang dilalui, untuk kemudian menjadi refleksi atas kejadian di lapangan dan jalan keluar melepas rasa prihatin.

Secara organisasi, ekosistem lembaga zakat dan kemanusiaan harus berani merancang sistem mitigasi psikososial yang melembaga, bukan malah menyerahkan
nasib kesehatan mental pekerja pada ketahanan individu semata. Harus ada rotasi tugas yang disiplin di garis depan, hak cuti pascapenugasan darurat, serta akses konseling rekan sebaya (peer counseling) tanpa stigma bahwa mereka yang berkonsultasi adalah pribadi yang lemah atau cacat dedikasi.

Solidaritas antar amil zakat menjadi lapisan kemanusiaan terakhir yang paling kokoh dalam organisasi dan di lapangan. Ketika seorang rekan mulai tampak kehilangan
nafsu makan, bicaranya kian sinis, atau tatapannya nanar menatap kejauhan, kawan di sebelahnya harus hadir dengan menyodorkan sepiring nasi hangat seraya berbisik, "makan aja dulu, sisa kerjaannya biar kugantikan sejenak."

Kita belajar dari para pengrajin gerabah di pelosok desa misalnya. Tanah liat yang dibakar terlalu tergesa dalam tungku yang menyala ganas akan retak berkeping-keping, namun tanah yang dipanggang dengan sabar, diselingi jeda pendinginan yang tepat, akan menjelma bejana yang kokoh menampung air yang menghidupi di banyak rumah. Begitulah semestinya jiwa seorang amil dirawat dari waktu ke waktu, dibiarkan dingin sejenak agar tak lekas pecah oleh panasnya persoalan manusia dan zaman.

Menatap masa depan gerakan filantropi dan dinamika sosial yang kian kompleks, ketangguhan amil zakat sudah tidak relevan lagi diukur dari seberapa keras kita menolak tumbang. Amil zakat dan organisasinya harus menjadi lentur di depan masalah dan lelah.

Supaya kita selalu menyadari bahwa prinsip urip iku urup harus ada di hadapan pagi yang tak pernah sama karena lanskap krisis yang berganti rupa dan luka-luka batin yang selalu menuntut penawar baru. Amil zakat harus terus menjaga nyala untuk tetap merawat bara dan menghangatkan sesama dalam bentangan waktu yang panjang, tabah, dan bermartabat. Begitu.


(miq/miq)
Next Article Kapal Virgo & Mereka yang Bertaruh Nyawa demi Sebuah Kepulangan