Tanpa Energi, Bonus Demografi Hanyalah Angka

Feiral Rizky Batubara,  CNBC Indonesia
21 September 2026 05:05
Feiral Rizky Batubara
Feiral Rizky Batubara
Feiral Rizky Batubara merupakan pemerhati kebijakan publik dan praktisi ketahanan energi. Feiral telah lama berkiprah dalam perumusan kebijakan energi nasional, mengawal transisi menuju ketahanan energi yang berkelanjutan. Ia juga merupakan Ketua Dewan Pem.. Selengkapnya
Dok Pertamina
Foto: Ilustrasi salah satu fasilitas milik Pertamina. (Dokumentasi Pertamina)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Indonesia sering berbicara tentang bonus demografi seolah olah jumlah manusia produktif dengan sendirinya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Kita menghitung berapa banyak penduduk usia kerja yang akan dimiliki, berapa besar kelas menengah yang akan tumbuh dan berapa besar pasar domestik yang akan terbentuk.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang ditempatkan di pusat pembicaraan: dengan apa mereka akan menjadi produktif? Seorang pekerja membutuhkan listrik untuk bekerja, industri membutuhkan energi untuk menciptakan pekerjaan, kota membutuhkan energi untuk bergerak, data center membutuhkan listrik untuk menopang ekonomi digital dan hampir setiap aktivitas ekonomi modern membutuhkan energi dalam satu bentuk atau lainnya.

Karena itu, bonus demografi sesungguhnya bukan hanya persoalan jumlah manusia. Ia adalah persoalan kapasitas sebuah negara untuk menyediakan energi, infrastruktur dan sistem ekonomi yang memungkinkan manusia tersebut menjadi produktif. Tanpa energi, bonus demografi hanya angka.

Setiap generasi dalam sejarah manusia tumbuh bersama sistem energi yang berbeda. Masyarakat agraris sangat bergantung pada tenaga manusia, hewan, air dan biomassa. Revolusi Industri kemudian memperkenalkan batu bara sebagai sumber energi yang mampu mengubah kemampuan produksi manusia secara drastis.

Minyak dan gas selanjutnya memungkinkan lahirnya transportasi massal, manufaktur modern, petrokimia dan perdagangan global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Generasi hari ini hidup dalam sistem yang semakin bergantung pada listrik.

Dan generasi berikutnya kemungkinan besar akan hidup dalam ekonomi yang jauh lebih digital, otomatis dan berbasis kecerdasan buatan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa energi bukan sekadar mengikuti perkembangan ekonomi. Energi ikut menentukan bentuk ekonomi yang dapat dibangun oleh setiap generasi.

Karena itu, bonus demografi Indonesia seharusnya tidak hanya dibaca melalui grafik piramida penduduk. Angka penduduk usia produktif memang penting, tetapi angka tersebut baru menjadi kekuatan apabila manusia di dalamnya memiliki akses terhadap pekerjaan, pendidikan, teknologi, transportasi, kesehatan, perumahan dan infrastruktur yang memungkinkan mereka menghasilkan nilai.

Hampir seluruhnya membutuhkan energi. Seorang petani modern membutuhkan listrik untuk irigasi dan pengolahan. Sebuah pabrik membutuhkan listrik untuk menjalankan mesin. Rumah sakit membutuhkan energi tanpa boleh berhenti.

Sekolah membutuhkan listrik dan konektivitas digital. Transportasi publik membutuhkan energi. Bahkan seorang pekerja yang bekerja dari rumah melalui laptop tetap bergantung pada jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi. Dengan demikian, energi sesungguhnya berada di belakang hampir setiap aktivitas yang membuat penduduk menjadi produktif.

Di sinilah terdapat hubungan yang sangat erat antara demografi dan energi yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar dalam kebijakan pembangunan nasional. Ketika jumlah penduduk usia produktif meningkat, permintaan terhadap aktivitas ekonomi juga meningkat. Lebih banyak orang berarti lebih banyak rumah, lebih banyak perjalanan, lebih banyak tempat kerja, lebih banyak konsumsi, lebih banyak industri dan lebih banyak layanan. Semua itu menciptakan permintaan energi.

Tetapi hubungan tersebut tidak berhenti pada konsumsi. Jika energi tersedia secara cukup, terjangkau dan andal, ia dapat meningkatkan produktivitas manusia. Teknologi dapat digunakan lebih luas, mesin dapat menggantikan pekerjaan fisik yang tidak produktif, industri dapat berkembang, usaha kecil dapat meningkatkan kapasitas dan konektivitas digital dapat membuka akses terhadap pasar yang lebih luas. Energi mengubah jumlah manusia menjadi kapasitas ekonomi.

Sebaliknya, apabila pertumbuhan penduduk tidak diikuti oleh pertumbuhan kapasitas energi dan ekonomi, bonus demografi dapat berubah menjadi tekanan. Jutaan manusia usia produktif membutuhkan pekerjaan. Pekerjaan membutuhkan aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi membutuhkan industri dan investasi. Industri membutuhkan energi.

Jika biaya energi terlalu tinggi, pasokan tidak andal atau infrastruktur energi tidak tersedia di wilayah tempat tenaga kerja dan industri berkembang, maka kemampuan ekonomi untuk menyerap tenaga kerja akan terbatas. Dalam situasi seperti itu, persoalannya bukan bahwa Indonesia memiliki terlalu banyak manusia produktif. Persoalannya adalah kita belum membangun kapasitas produktif yang cukup untuk memanfaatkan manusia tersebut.

Pengalaman negara negara Asia memberikan pelajaran penting. Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan kemudian China mengalami fase transformasi ekonomi ketika tenaga kerja dalam jumlah besar bertemu dengan industrialisasi, infrastruktur dan peningkatan produktivitas.

Energi menjadi bagian dari fondasi transformasi tersebut. Pabrik membutuhkan listrik. Pelabuhan membutuhkan energi. Kereta api membutuhkan energi. Industri baja, petrokimia, elektronik dan manufaktur membutuhkan energi dalam skala besar. Pertumbuhan tenaga kerja baru menjadi kekuatan ekonomi ketika terdapat sistem yang memungkinkan mereka masuk ke dalam aktivitas produksi yang semakin produktif.

Indonesia sekarang berada dalam fase yang berbeda, tetapi prinsipnya tetap sama. Kita memasuki era ketika pekerjaan masa depan tidak hanya berada di pabrik konvensional. Ekonomi digital, artificial intelligence, data center, manufaktur berteknologi tinggi, kendaraan listrik, industri baterai dan berbagai bentuk jasa modern akan menjadi bagian semakin penting dari perekonomian.

Namun hampir semuanya memiliki satu fondasi yang sama: listrik yang stabil, kompetitif dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Ini berarti bonus demografi Indonesia akan berlangsung bersamaan dengan electrification of the economy.

Konsekuensinya besar. Jika generasi muda Indonesia akan menjadi generasi yang hidup dalam ekonomi digital dan AI, maka energi yang mereka butuhkan tidak dapat direncanakan dengan asumsi ekonomi masa lalu. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Artificial intelligence membutuhkan pusat komputasi. Robotika membutuhkan manufaktur yang semakin terotomatisasi. Kendaraan listrik membutuhkan infrastruktur pengisian. Industri modern membutuhkan kualitas listrik yang semakin tinggi. Artinya, pertumbuhan ekonomi generasi berikutnya tidak hanya akan meningkatkan permintaan energi. Ia juga akan meningkatkan standar terhadap kualitas energi.

Karena itu, Indonesia perlu mulai melihat pembangunan energi sebagai bagian dari pembangunan manusia. Selama ini energi sering ditempatkan sebagai sektor infrastruktur yang berdiri sendiri. Demografi berada di kementerian lain.

Pendidikan berada di sektor lain. Industri berada di sektor lain. Transportasi berada di sektor lain. Padahal semuanya saling terkait. Tidak ada gunanya memiliki tenaga kerja produktif dalam jumlah besar jika kawasan industri tidak memiliki listrik yang cukup.

Tidak cukup membangun universitas jika mahasiswa dan peneliti tidak memiliki akses terhadap infrastruktur digital dan energi yang andal. Tidak cukup membangun kota baru jika sistem transportasi dan kelistrikannya tidak mampu mengikuti pertumbuhan penduduk.

Karena itu, perencanaan energi harus mulai mengikuti geografi demografi Indonesia. Di mana penduduk usia produktif akan terkonsentrasi? Di mana kota kota baru akan berkembang? Di mana kawasan industri akan dibangun? Di mana pusat data akan muncul? Di mana pelabuhan dan pusat logistik akan tumbuh? Di mana produktivitas pertanian akan meningkat? Jawaban atas pertanyaan tersebut seharusnya berhubungan dengan bagaimana jaringan energi dibangun.

Transmisi listrik dalam konteks ini memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar infrastruktur teknis. Ia dapat menjadi salah satu instrumen pemerataan kesempatan ekonomi. Ketika energi dapat mengalir dari wilayah dengan potensi energi besar menuju wilayah dengan kebutuhan ekonomi tinggi, maka pusat pertumbuhan baru dapat muncul.

Wilayah yang sebelumnya jauh dari pusat ekonomi dapat menjadi lokasi industri. Energi dapat membawa aktivitas ekonomi mendekati sumber daya, sementara jaringan membawa energi tersebut menuju manusia dan industri.

Penyimpanan energi juga akan menjadi semakin penting. Generasi masa depan akan membutuhkan sistem energi yang bukan hanya menghasilkan listrik, tetapi mampu menyediakan listrik ketika dibutuhkan.

Baterai, pumped hydro dan teknologi penyimpanan lainnya dapat meningkatkan fleksibilitas sistem dan memungkinkan energi terbarukan dimanfaatkan secara lebih optimal. Bagi ekonomi yang semakin bergantung pada teknologi digital, fleksibilitas tersebut bukan sekadar persoalan teknis. Ia merupakan bagian dari produktivitas nasional.

Ada pula dimensi yang lebih dalam. Bonus demografi sering dibicarakan sebagai window of opportunity. Tetapi sebuah jendela hanya berguna jika sebuah negara mampu melewatinya. Jumlah penduduk usia produktif tidak akan selamanya berada pada tingkat yang sama.

Ketika struktur penduduk berubah dan masyarakat semakin menua, kesempatan tersebut akan semakin sempit. Karena itu, Indonesia harus menggunakan periode produktif ini untuk meningkatkan produktivitas per orang. Dan peningkatan produktivitas membutuhkan modal, teknologi, pendidikan, infrastruktur dan energi.

Dalam konteks tersebut, energi bukan hanya persoalan berapa banyak listrik yang tersedia. Energi juga menentukan berapa tinggi produktivitas yang dapat dicapai oleh seorang pekerja. Seorang petani dengan akses terhadap mekanisasi, irigasi dan cold storage dapat menghasilkan nilai yang jauh lebih besar daripada petani yang hanya mengandalkan tenaga fisik.

Sebuah pabrik dengan mesin otomatis dapat menghasilkan lebih banyak dengan jumlah tenaga kerja yang sama. Sebuah perusahaan kecil dengan konektivitas digital dapat menjangkau pasar nasional dan global. Semua transformasi tersebut memiliki satu fondasi yang sering tidak terlihat: energi.

Karena itu, kita perlu berhenti melihat bonus demografi hanya sebagai keunggulan jumlah. Yang lebih penting adalah demographic productivity. Berapa besar output yang dapat dihasilkan oleh setiap orang Indonesia? Berapa banyak pekerjaan bernilai tambah tinggi yang dapat kita ciptakan? Berapa banyak tenaga kerja yang dapat masuk ke industri modern? Berapa banyak perusahaan baru yang dapat tumbuh? Dan berapa besar energi yang tersedia untuk memungkinkan semua itu?

Pertanyaan tersebut juga mengubah cara kita memandang target pembangunan energi. Kita tentu membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit. Tetapi kita harus memastikan bahwa kapasitas tersebut datang bersamaan dengan jaringan, storage, industri dan investasi yang mampu menggunakannya. Kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak megawatt. Kita membutuhkan lebih banyak produktivitas per megawatt.

Indonesia memiliki kesempatan yang sangat besar karena bonus demografi dan transformasi energi terjadi pada saat yang hampir bersamaan dengan transformasi teknologi global. Kita memiliki pasar domestik yang besar, populasi produktif, sumber daya energi yang beragam, mineral strategis dan posisi geografis yang penting.

Jika semua kekuatan tersebut dapat diintegrasikan, Indonesia bukan hanya akan memiliki tenaga kerja yang besar. Kita dapat memiliki productive population supported by abundant and reliable energy.

Namun kesempatan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Bonus demografi harus dipersiapkan dengan infrastruktur. Infrastruktur harus didukung energi. Energi harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas. Produktivitas harus menciptakan industri dan pekerjaan. Dan industri harus menghasilkan nilai tambah yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, manusia adalah sumber daya paling penting yang dimiliki sebuah negara. Tetapi manusia tidak menjadi produktif hanya karena berada dalam usia produktif. Mereka membutuhkan sistem yang memungkinkan kemampuan mereka berkembang.

Energi adalah salah satu sistem tersebut. Karena itu, ketika Indonesia berbicara tentang bonus demografi, kita tidak boleh hanya menghitung berapa banyak orang yang akan bekerja.

Kita harus bertanya: Dengan energi seperti apa mereka akan bekerja? Dengan industri apa mereka akan bekerja? Dengan teknologi apa mereka akan menghasilkan nilai? Dan dengan infrastruktur seperti apa mereka akan membangun masa depan Indonesia?

Sebab pada akhirnya, bonus demografi bukanlah hadiah yang otomatis diterima sebuah negara. Bonus demografi adalah kesempatan yang harus diberi energi. Dan tanpa energi, bonus demografi hanya angka.


(miq/miq)
Next Article Negara Masa Depan Adalah Negara yang Menguasai Surplus Energi