Belle Epoque: Ketika Dunia Berpesta
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.
Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.
Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.
---
Belle Époque, dalam bahasa Prancis, ia berarti Zaman Indah. Menariknya, dia dimulai dari kekurangajaran. Pada Januari 1871, Otto von Bismarck tidak cukup puas melihat Prancis kalah perang. Sebuah Jerman yang selama berabad-abad hanya hadir sebagai kumpulan kerajaan, kadipaten dan kota, akhirnya dipersatukan. Tetapi tempat kelahirannya dipilih dengan selera humor geopolitik yang kejam: Istana Versailles.
Di Hall of Mirrors, jantung kemegahan Prancis, Wilhelm I diproklamasikan sebagai Kaisar Jerman. Prancis dipermalukan dan Jerman lahir. Anehnya, dari luka itulah Eropa memasuki salah satu masa paling indah dalam ingatan.
Bismarck pulang, Republik Ketiga Prancis lahir. Perang di antara kekuatan-kekuatan besar Eropa mereda dan Belle Époque dimulai. Paris bangkit menjadi ibu kota kehidupan modern. Di sana, seni, mode, café, listrik, kereta bawah tanah, dan segala kesenangan mengajarkan dunia bagaimana abad baru seharusnya terasa.
Berlin pun berubah. Kota garnisun yang dahulu sepi tumbuh menjadi metropolis dunia, sebuah Weltstadt, dipenuhi pabrik, universitas, bank, stasiun, teater, dan manusia-manusia baru yang percaya bahwa kerja keras serta ilmu pengetahuan dapat mengalahkan masa lalu. Optimisme merebak cepat, inovasi baru, sains dan penjelajahan menjadi cerita sehari-hari.
Namun Paris-lah yang paling pandai mengubah kemajuan menjadi pertunjukan. Pada 1889, di Champ de Mars, sebuah menara besi setinggi tiga ratus meter berdiri menantang langit. Banyak seniman Paris membencinya. Mereka menganggapnya cerobong pabrik raksasa yang merusak keanggunan kota.
Tetapi Gustave Eiffel tidak menyembunyikan kerangka menaranya. Besi-besi itu dibiarkan terbuka, seolah zaman baru tidak lagi merasa perlu menutupi tulangnya. Menara itu semula direncanakan hanya berdiri sementara. Barangkali masa depan memang selalu datang seperti itu. Mula-mula dianggap mengganggu pemandangan, kemudian menjadi pemandangan itu sendiri.
Sebelas tahun kemudian, Paris mengadakan pesta yang sangat besar. Pada April 1900, Exposition Universelle dibuka. Selama tujuh bulan, lebih dari lima puluh juta kunjungan memenuhi kota. Orang-orang datang bukan hanya untuk melihat Prancis, melainkan untuk menyaksikan seperti apa masa depan dipercaya akan terlihat.
Paris seperti kota yang menolak tidur. Grand Palais berdiri di bawah atap kaca raksasanya, Petit Palais membuka pintunya. Pont Alexandre III membentangkan patung, lampu, kuda bersayap, dan kemegahan di atas Sungai Seine. Gare d'Orsay menerima kereta-kereta yang membawa pengunjung langsung ke jantung pesta.
Jalur pertama Métro Paris mulai beroperasi. Pintu masuknya dibuat berlekuk-lekuk seperti batang tanaman, seolah-olah bahkan lubang menuju bawah tanah pun harus terlihat indah. Pada malam hari, Palais de l'Électricite menyala seperti istana yang tidak lagi memerlukan matahari. Ribuan lampu memantul di air. Generator-generator berdengung di balik dinding. Untuk pertama kalinya, banyak orang mulai percaya bahwa malam bukan lagi batas alam. Malam hanyalah persoalan teknik.
Di bagian lain terdapat trottoir roulant, jalan Masa Depan, sebuah trotoar yang dapat bergerak. Orang-orang berdiri di atasnya, kehilangan keseimbangan, berpegangan kepada orang asing, lalu tertawa bersama. Mereka dapat berpindah tempat tanpa perlu melangkahkan kaki. Kelak benda seperti itu akan menjadi pemandangan biasa di bandar udara, namun pada 1900, tanah yang bergerak di bawah kaki terasa seperti sihir.
Ada roda raksasa, eskalator, mobil listrik, mesin diesel, alat perekam suara, dan gambar-gambar yang mulai bergerak. Setiap benda membawa janji yang sama: apa pun yang hari ini dianggap mustahil, mungkin hanya belum mendapatkan insinyurnya.
Selepas melihat mesin, orang-orang memenuhi café, restoran, taman, dan teater. Perempuan berjalan mengenakan gaun terbaik dan topi-topi lebar. Poster berwarna memenuhi dinding kota. Sepeda melintas di boulevard. Musik terdengar dari café-concert. Di Montmartre, Moulin Rouge membuat malam terasa lebih pendek daripada siang.
Pelukis, penyanyi, pedagang, bangsawan, turis, penemu, dan penipu bercampur dalam keramaian yang sama. Semua orang ingin melihat dan mereka juga ingin dilihat.
Lalu, manusia modern menemukan tempat ibadahnya yang baru: department store.
Di Le Bon Marché, Printemps, lalu kemudian Galeries Lafayette dan toko-toko besar Paris, barang tidak lagi disembunyikan di belakang meja. Semuanya dipajang di bawah cahaya, di balik kaca, dalam susunan yang membuat kebutuhan dan keinginan semakin sulit dibedakan.
Orang boleh masuk tanpa berjanji akan membeli. Harga tidak lagi dibisikkan seperti rahasia keluarga. Perempuan kelas menengah dapat berjalan sendiri di antara kain, parfum, payung, mainan, dan pakaian dari negeri-negeri yang belum pernah mereka kunjungi. Belle Époque tidak hanya menciptakan lebih banyak barang. Ia menciptakan lebih banyak alasan untuk menginginkannya.
Namun kemegahan itu bukan hanya milik Eropa. Di sepanjang Seine berdiri paviliun-paviliun dari seluruh dunia. Hindia Belanda hadir dengan candi, ukiran Jawa, hasil bumi tropis, dan rumah gadang. Bagi orang Paris, Hindia Belanda adalah negeri jauh yang dapat dikunjungi setelah makan siang dan ditinggalkan sebelum makan malam.
Pada waktu hampir bersamaan, di tanah yang sedang dipamerkan itu, seorang pemuda Jawa justru sedang berusaha memasuki Eropa. Namanya Minke, ia bersekolah di HBS, membaca buku-buku Eropa, berbicara bahasa Belanda, dan percaya pada satu kata yang memenuhi zamannya: modern. Bahwa manusia dapat berpikir sendiri dan tidak harus menjadi tawanan dari tempat ia dilahirkan.
Di bawah bantalnya tersimpan foto Wilhelmina, Putri muda Belanda itu dipandangnya seperti bidadari. Robert Suurhof, kawannya yang Indo, mengetahuinya dan tertawa: "Ahoi, si philogynik, mata keranjang kita, buaya kita! Bulan mana yang sedang kau rindukan?" Minke malu, Seperti anak muda mana pun yang ketahuan menyimpan foto perempuan di bawah bantal.
Hanya saja perempuan itu adalah calon Ratu Belanda, dan Minke adalah seorang pribumi dari negeri yang diperintahnya. Di situlah keganjilan Belle Époque mulai terlihat, Minke mencintai dunia modern, tapi belum tentu dunia modern mencintainya kembali.
Sementara Minke sedang berusaha memasuki dunia modern, di Eropa imajinasi manusia bergerak jauh lebih liar. Jules Verne membawa mereka ke dasar laut. Dalam Twenty Thousand Leagues Under the Seas, Kapten Nemo menembus samudra dengan Nautilus, menyusuri dunia bawah laut yang sebelumnya hanya hadir sebagai gelap, legenda, dan ketakutan.
Laut tidak lagi sekadar batas, ia menjadi wilayah untuk dijelajahi. Gunung, kutub, dasar samudra, gurun, langit, satu demi satu berubah dari sesuatu yang jauh menjadi sesuatu yang mungkin dicapai. Penjelajahan dan penemuan seakan memberi pesan yang sama: dunia masih penuh rahasia, tetapi tidak ada rahasia yang selamanya tertutup bagi manusia. Belle Époque hidup dari keyakinan semacam itu.
Bahwa dengan ilmu pengetahuan, keberanian, mesin, dan sedikit kegilaan, manusia dapat menembus batas-batas lama. Dan jika alam dapat ditaklukkan, mengapa jarak antar-manusia tidak? Di sinilah mimpi Jules Verne bertemu dengan mimpi yang lebih tua: mimpi teknokrat lawas bernama Henri de Saint-Simon.
Saint-Simon membayangkan sebuah dunia yang tidak lagi dibentuk terutama oleh perang dan penaklukan, tetapi oleh insinyur, ilmuwan, pengusaha, bankir, dan pembangun. Bukan lagi siapa yang paling pandai merebut wilayah. Melainkan siapa yang paling mampu menghubungkannya.
Rel kereta yang terhubung seantero dunia, kanal, pelabuhan, bank, jaringan perdagangan, semuanya kemudian menjadi bagian dari satu keyakinan besar: bahwa manusia yang semakin terhubung akan semakin sulit saling menghancurkan. Untuk sementara waktu, dunia benar-benar percaya demikian.
Namun Belle Époque tidak hanya ingin menghubungkan dunia, Ia juga ingin memahami apa yang sebenarnya menggerakkannya. Marie Curie menemukan bahwa materi dapat memancarkan energi dari dalam dirinya sendiri. Dia bersama banyak ilmuwan di masanya sedang membuka pintu menuju dunia yang sama sekali baru.
Belle Époque seakan mencapai puncak keyakinannya. Manusia telah menembus laut bersama Jules Verne, menghubungkan benua dalam mimpi Saint-Simon, dan sekarang mulai membongkar ruang, waktu, dan materi itu sendiri. Untuk sesaat, rasanya tidak ada lagi wilayah yang benar-benar tertutup bagi pikiran manusia.
Dan untuk sementara, keyakinan itu tampak benar. Perdagangan dunia tumbuh cepat. Kapal-kapal membawa gandum dari Amerika, wol dari Australia, teh dari Asia, mesin dari Eropa. Modal bergerak dari London ke Buenos Aires, dari Paris ke St. Petersburg, dari Berlin ke jalur-jalur kereta di negeri yang bahkan belum pernah dilihat para investornya.
Kemakmuran mulai terasa seperti hasil kerja sama yang terlalu mahal untuk dihancurkan. Norman Angell kemudian membawa keyakinan itu lebih jauh. Dalam The Great Illusion, ia mengatakan sesuatu yang terdengar sangat masuk akal: di dunia modern, menaklukkan negeri lain tidak lagi otomatis membuat sebuah bangsa lebih kaya.
Kekayaan telah berubah bentuk, Ia tidak hanya tinggal di tanah, emas, atau wilayah. Ia berada dalam kredit, perdagangan, bank, pabrik, jaringan, kepercayaan, dan hubungan yang melintasi perbatasan. Menghancurkan musuh berarti ikut menghancurkan sistem yang membuat pemenang sendiri kaya. Maka perang besar, pikir Angell, semakin tidak masuk akal.
Dan sulit menyalahkannya, pada malam hari Paris menyala, kapal memenuhi pelabuhan, bursa memperdagangkan surat berharga dari negeri-negeri jauh, dan Orang mengirim telegram melintasi samudra. Belle Époque tidak hanya membuat orang percaya pada kemajuan. Ia membuat mereka percaya bahwa kemajuan telah menjadi keadaan alamiah manusia.
Namun kemajuan tidak bergerak dengan kecepatan yang sama bagi semua bangsa. Jerman tumbuh lebih cepat, industrinya membesar, ekspornya melonjak, dan perlahan membuat Inggris menoleh ke belakang. Prancis semakin banyak menanamkan modal ke Rusia. Amerika mulai naik, Kekaisaran-kekaisaran tua masih berdiri, tetapi tidak lagi merasa setenang sebelumnya.
Semua orang memang menjadi lebih kaya, tetapi tidak semua orang merasa lebih aman. Karena semakin dunia saling terhubung, semakin jelas pula ketergantungannya. Jalur laut, bahan baku, pasar ekspor, kredit, dan modal yang sebelumnya tampak sebagai sumber kemakmuran mulai terlihat juga sebagai sumber kelemahan.
Negara-negara mulai bertanya bukan hanya: seberapa jauh kita bisa maju? Tetapi juga: bagaimana jika orang lain maju lebih cepat daripada kita? Di situlah Belle Époque mulai berubah, kemajuan tidak lagi hanya memberi harapan. Ia mulai melahirkan perbandingan, yang kemudian melahirkan kecemasan.
Dan kecemasan, apabila dipelihara cukup lama, hampir selalu mencari nama. Kadang namanya nasionalisme, Kadang keamanan, Kadang kepentingan nasional. Belle Époque tidak mulai retak ketika dunia berhenti maju. Ia mulai retak ketika kemajuan bangsa lain terasa seperti ancaman bagi kemajuan sendiri.
Kecemasan juga datang dari dalam negeri, masyarakat Eropa juga berubah terlalu cepat. Kota-kota membesar. Buruh semakin terorganisir. Partai-partai sosialis masuk parlemen. Mogok tidak lagi menjadi kejadian kecil, tetapi mulai menjadi bahasa politik. Kelas menengah tumbuh, namun bersama itu tumbuh pula ketakutan kehilangan tempat.
Di kekaisaran-kekaisaran tua, masalahnya lebih rumit lagi. Ceko, Serbia, Polandia, Hungaria, Kroasia dan banyak bangsa lain tidak lagi puas hanya menjadi bagian dari kekaisaran yang besar. Modernitas memberi mereka sekolah, surat kabar, kereta, dan bahasa politik.
Negara pun menghadapi tekanan dari segala arah. Dari buruh, kaum sosialis, kelas menengah, bangsa-bangsa kecil, utang dan biaya membangun negara modern itu sendiri. Dan ketika terlalu banyak persoalan menumpuk di dalam rumah, politik sering menemukan satu jalan keluar yang sangat tua: mencari sesuatu di luar rumah untuk ditakuti bersama.
Nasionalisme lalu memberi kecemasan itu sebuah bendera. Negara-negara mulai berbicara tentang kehormatan, keamanan, wilayah, bangsa, dan masa depan. Pers ikut mengeraskan nada. Politikus menemukan bahwa ketakutan kepada musuh di luar sering lebih mudah dijual daripada jawaban atas masalah di dalam.
Lalu datanglah perlombaan persenjataan. Inggris membangun kapal perang, Jerman membangun lebih banyak. Tentara diperbesar. Rel kereta dipetakan sampai ke perbatasan. Jadwal mobilisasi disusun dengan ketelitian yang hampir indah.
Mimpi Saint-Simon akhirnya benar-benar terwujud, Rel kereta akhirnya telah menghubungkan Eropa. Hanya saja sekarang para jenderal mulai bertanya berapa banyak tentara yang dapat dibawanya dalam dua puluh empat jam, bukan tentang mobilitas barang dan jasa.
Di laut, mimpi Jules Verne juga berubah bentuk. Nautilus dahulu adalah kendaraan Kapten Nemo, manusia yang justru ingin melarikan diri dari negara, bendera, dan kekuasaan. Ia menyelam ke dasar laut untuk mencari dunia yang belum disentuh politik manusia.
Pada Belle Epoque, kapal selam benar-benar lahir. Tetapi Nemo tidak ikut bersamanya, yang tersisa hanya Nautilus yang lebih agresif. Kapal yang dahulu dibayangkan untuk membebaskan manusia dari batas-batas dunia, kini menjadi U-Boat dipakai negara untuk menunggu musuh dalam gelap.
Negara-negara kemudian mencari cara agar semua persiapan itu justru tidak pernah perlu digunakan, mereka mencari teman. Jerman semakin dekat dengan Austria-Hongaria. Prancis mengikat dirinya pada Rusia. Inggris perlahan mendekat kepada Prancis. Semuanya dilakukan atas nama keamanan.
Logikanya terdengar masuk akal. Jika biaya menyerang satu negara adalah menghadapi beberapa negara sekaligus, siapa yang cukup bodoh untuk memulai perang?
Tetapi aliansi mempunyai sifat yang ganjil. Ia membuat seseorang merasa aman ketika sendirian, sekaligus membuat pertengkaran kecil semakin sulit tetap kecil.
Eropa pun memasuki musim panas 1914 dalam keadaan yang aneh. Semua orang menginginkan perdamaian, tetapi hampir semuanya telah membuat persiapan apabila perdamaian gagal. Lalu pada 28 Juni, di Sarajevo, Gavrilo Princip menembak Franz Ferdinand. Dua peluru, tidak ada yang istimewa dari ukurannya. Tetapi ia mengenai sebuah Eropa yang sudah penuh kecemasan, utang, persaingan, nasionalisme, senjata, jadwal mobilisasi, dan janji untuk membela satu sama lain.
Semua orang mempunyai alasan. Dan barangkali itulah yang paling menakutkan. Tidak perlu ada satu orang gila yang ingin menghancurkan dunia. Cukup banyak orang masuk akal yang masing-masing merasa tidak mempunyai pilihan lain.
Dalam hitungan minggu, mesin itu bergerak, Rel kereta impian Saint-Simon mulai membawa tentara, Nautilus kehilangan Nemo dan menjadi U-Boat. Pabrik-pabrik yang sebelumnya memenuhi department store dengan barang mulai menerima pesanan yang berbeda.
Belle Époque tidak berhenti karena mesin-mesinnya gagal. Mesin-mesin itu bekerja dengan sangat baik. Tetapi dunia yang dahulu percaya bahwa semua kemajuan pasti membawa manusia ke tempat yang lebih baik telah berakhir.
Marie Curie pun meninggalkan laboratoriumnya. Ia membawa mesin X-ray bergerak menuju rumah sakit-rumah sakit lapangan, mencari peluru dan pecahan logam di dalam tubuh para prajurit agar dokter dapat menyelamatkan mereka.
Ada sesuatu yang sangat Belle Époque dalam pemandangan itu. Ilmu pengetahuan yang lahir dari keinginan memahami alam kini berjalan menuju medan perang untuk memperbaiki tubuh manusia yang dihancurkan oleh pencapaian zaman yang sama.
Empat puluh tiga tahun sebelumnya, Belle Époque lahir setelah sebuah perang di Versailles. Ia berakhir ketika Eropa kembali berperang. Di antaranya manusia telah menerangi malam, menembus dasar laut, menghubungkan benua, membongkar rahasia materi, dan membuat dunia lebih dekat daripada yang pernah dibayangkan Saint-Simon. Hampir semua mimpi itu berhasil, barangkali justru di situlah tragedinya. Puncaknya terlihat di Verdun.
Di sana, pada 1916, Prancis dan Jerman berhadapan dalam pertempuran yang berlangsung berbulan-bulan. Meriam menyalak tanpa henti. Tanah berubah menjadi lumpur, kawah dan besi. Generasi yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan akan menaklukkan alam kini bersembunyi di dalam parit, berusaha sekadar bertahan hidup.
Paris masih berdiri, Menara Eiffel masih menjulang, café masih buka, Lampu listrik masih dapat dinyalakan. Tetapi dunia yang melahirkannya telah hilang. Empat puluh lima tahun sebelumnya, Belle Époque lahir dari kekalahan Prancis. Kini semuanya seperti kembali ke tanah Prancis. Bukan lagi di Hall of Mirrors,tetapi di parit-parit Verdun.
Di sanalah sebuah zaman yang percaya bahwa manusia dapat menaklukkan malam, laut, jarak, dan materi akhirnya menemukan sesuatu yang belum berhasil ditaklukkannya: dirinya sendiri. Begitulah Belle Époque berakhir.
(miq/miq)