Marriner Eccles dan Chip yang Berhenti Berputar

Fakhrul Fulvian,  CNBC Indonesia
31 July 2026 14:48
Fakhrul Fulvian
Fakhrul Fulvian
Fakhrul Fulvian adalah Chief Economist di Trimegah Sekuritas Indonesia. Titel sarjana ekonomi diraih dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 2010. Sepanjang kariernya sebagai ekonom yang berkecimpung di dunia keuangan, Fakhrul telah terlibat.. Selengkapnya
Ilustrasi Chip (Dok: Freepik)
Foto: Ilustrasi chip. (Dokumentasi Freepik)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.

Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.

Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman. Adapun Episode Ke-22 ini kami beri judul: "Marriner Eccles dan Chip yang berhenti berputar". Semoga bermanfaat, Selamat Menikmati.

---

Aku masih berusia dua puluh sembilan tahun ketika pertama kali bertemu lelaki tua itu. Orang-orang memanggilnya Marriner Eccles. Aku tidak mengenalnya sebagai mantan Ketua Federal Reserve, malam itu ia hanya tampak seperti seorang pria tua yang duduk sendirian di sudut kasino, memandangi meja poker yang belum dimulai.

"Apa kau bermain?" tanyaku. Ia tersenyum, "Tidak lagi.", "Lalu mengapa datang?" sahutku. Dia bilang, "Aku datang untuk melihat orang-orang menghitung uang." Aku tertawa. "Semua orang di sini sedang berjudi." Ia menggeleng, "Tidak, Mereka sedang belajar."

Aku mengira ia salah tempat.Lelaki yang pernah menjaga sistem keuangan sebuah negara semestinya berada di perpustakaan, ruang kuliah, atau mungkin di balik meja kayu yang dipenuhi laporan ekonomi, bukan di depan pintu kasino.

Ia berdiri cukup lama sebelum masuk. Tangannya berada di dalam saku mantel. Tatapannya bukan kepada gedung itu, melainkan kepada orang-orang yang berjalan melewatinya. Kami memasuki kasino, suaranya seperti lautan. Denting chip, gelak tawa, orang-orang bersorak ketika kartu dibuka, Seorang pelayan membawa minuman, dan seorang pria memeluk temannya setelah memenangkan taruhan besar.

Di sudut lain, seseorang menatap kosong ke arah meja, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali. Aku memperhatikan semua itu hanya sebagai hiburan, tetapi Eccles memperhatikannya seperti seorang dokter memeriksa denyut nadi pasien.

Ia tidak melihat kartu, ia tidak melihat wajah para pemain. Matanya hanya mengikuti satu hal, Chips!. Ke mana mereka berpindah, seberapa cepat mereka berpindah, dan kepada siapa mereka akhirnya berhenti. Aku mulai merasa aneh, "Pak Eccles, memangnya apa yang sedang bapak cari?"

Ia tidak langsung menjawab. Seorang dealer baru saja membuka meja baru, delapan kursi perlahan terisi. Di depan setiap pemain diletakkan tumpukan chip yang sama tingginya. Lelaki tua itu tersenyum.

"Ini, adalah cara termudah menjelaskan ekonomi makro." Aku mengernyit, "Ekonomi?, Bukankah ini hanya permainan?" Ia menoleh kepadaku. Untuk pertama kalinya malam itu aku melihat sorot mata yang sangat tenang.

"Kesalahan terbesarmu, anak muda, adalah mereka terlalu sering melihat angka." Ia berhenti sejenak. Suara chip saling beradu memenuhi ruangan, Lalu ia melanjutkan dengan pelan. "Yang menentukan nasib sebuah bangsa bukan berapa banyak uang yang dimilikinya, melainkan bagaimana uang itu bergerak dari satu tangan ke tangan yang lain."

Dealer mulai membagikan kartu. Eccles menarik kursinya perlahan, "Lihatlah, malam ini, aku ingin menunjukkan kepadamu bagaimana sebuah resesi lahir." Di belakang mereka, seorang pemuda berusia tak lebih dari dua puluh lima tahun mencium kening istrinya sebelum duduk di meja poker.

Ia membuka dompetnya, mengeluarkan tabungan yang dibawanya malam itu. Sang istri tersenyum, menggenggam tangannya, lalu berbisik pelan, "Pulanglah sebelum terlalu larut." Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua masih percaya, malam itu hanyalah sebuah permainan.

Dealer membagikan chip, delapan orang, delapan tumpukan, sama tinggi. Mereka saling tersenyum, belum ada yang kaya, belum ada yang miskin. Eccles memandang meja itu lama. "Lihat baik-baik, Ekonomi selalu lahir seperti ini."

Aku mengangguk, "Adil." Ia tersenyum tipis, "Tidak, Hanya seimbang." Dan permainanpun dimulai. Chip mulai berpindah, satu demi satu. Tidak ada yang keberatan kalah satu putaran, karena mereka tahu, masih ada putaran berikutnya. "Selama orang masih berani kehilangan sedikit," kata Eccles, "mereka akan tetap berani bermain."

Aku mulai memperhatikan, yang bergerak bukan kartu, melainkan chip. Dan semakin cepat chip berpindah tangan, semakin hidup meja itu. Seorang pelayan mengisi kembali cangkir kopi yang sudah dingin, tip pertamanya malam itu hanya sebuah chip kecil. Ia tersenyum, "Banyak meja yang hidup malam ini."

Di dapur, koki mulai menyalakan kompor, di luar kasino, sopir taksi menunggu penumpang berikutnya, tak seorang pun dari mereka memegang kartu. Namun hidup mereka, bergantung pada permainan yang baru saja dimulai.

Satu jam berlalu, kini meja itu tidak lagi seimbang. Di satu sisi, chip mulai menjulang. Di sisi lain, beberapa pemain mulai menghitung sisa chip mereka sebelum ikut taruhan. Aku menunjuk pemain yang menang besar. "Permainan mulai tidak adil, " Eccles menggeleng, "Belum, Selama chip itu masih berputar, meja ini masih hidup."

Benar saja, pemain yang menang tetap ikut bertaruh. Yang kalah masih berani melawan, Chip terus berpindah. Tawa masih terdengar, Kasino masih riuh. Lalu seorang pemain kehilangan chip terakhirnya, ia tersenyum canggung, menoleh kepada pemain di sebelahnya.

"Boleh pinjam sedikit?", pemain itu tertawa. "Tentu, Besok kau pasti balik." Eccles menatapku. "Di sinilah ekonomi berubah, Menjadi harapan." Ujarnya. Aku tidak mengerti, Ia mengambil satu chip dari meja. "Lihat baik-baik, Chip ini baru saja lahir, tadi ia tidak ada.", dan sekarang semua orang menganggapnya nyata." Aku masih diam, dan Eccles berkata, "Itulah Kredit."

Di meja sebelah, seorang pria setengah baya mengeluarkan foto kecil dari dompetnya. Seorang anak perempuan berseragam sekolah tersenyum di dalam foto itu. Ia menatapnya sebentar, Lalu memasukkan foto itu kembali. "Sedikit lagi," gumamnya, "Hanya butuh satu kartu bagus."

Dealer mulai membagikan kartu berikutnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, yang beredar bukan hanya chip. Tetapi juga harapan. Pinjaman pertama membuat meja kembali hidup, lalu datang pinjaman kedua, ketiga, keempat. Tak lama kemudian, hampir setiap pemain pernah meminjam chip, dan taruhan menjadi lebih besar. Tawa menjadi lebih keras, semua orang merasa semakin kaya.

Aku tersenyum, "Permainannya semakin menarik." Eccles menghela napas pelan, "Justru sekarang aku mulai khawatir, Karena mereka mulai bertaruh dengan chip yang belum mereka miliki."

Lalu Aku memperhatikan lagi, aneh, pemain yang chipnya tinggal sedikit justru mulai memasang taruhan lebih besar. Mereka tidak sedang mengejar kemenangan, Mereka sedang mengejar kesempatan untuk kembali utuh.

Sementara itu, pemain besar ikut menaikkan taruhan, bagi mereka, kehilangan sepuluh chip hanya goresan kecil, sementara bagi pemain kecil, kehilangan sepuluh chip adalah akhir malam.

Eccles berkata lirih, "Lihatlah...", "Semakin sedikit yang dimiliki seseorang, semakin mahal harga sebuah harapan." Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh, Chip semakin banyak, Tetapi wajah-wajah di meja justru semakin tegang.

Seorang pria menerima tumpukan chip pinjaman, tangannya gemetar. Ia memandang kartu di tangannya lama sekali, Lalu menutup mata sejenak. Entah sedang menghitung peluang, atau sedang mengingat wajah anaknya di rumah. Ia membuka mata, mendorong seluruh chip ke tengah meja. "All in", dan Untuk pertama kalinya malam itu, taruhan terbesar di meja bukanlah chip, melainkan masa depan.

Kasino semakin ramai, musik semakin intense, pelayan mulai berlari dari satu meja ke meja lain. Setiap beberapa menit terdengar sorak kemenangan. Aku tersenyum. "Sepertinya semua orang menang malam ini," kataku.

Eccles menggeleng, "Tidak, Semua orang hanya sedang merasa akan menang." Aku melihat seorang pemain baru datang, ia bahkan belum sempat duduk, Seseorang sudah menawarkan pinjaman chip. "Main saja, nanti kalau menang, baru bayar."

Anehnya, tak seorang pun merasa itu berbahaya. Taruhan terus membesar, Chip di atas meja terasa semakin banyak, padahal, sebagian besar bahkan belum benar-benar dimiliki. Aku berkata, "Kasino ini pasti sangat bahagia." Eccles menatap langit-langit ruangan dan berkata, "Pada puncak setiap gelembung, selalu terdengar suara tawa"

Di luar, hujan telah berhenti. Seorang sopir taksi menghitung uang hasil mengantar tamu, malam ini lebih ramai dari biasanya. Ia tersenyum, "Semoga begini terus." Di dalam, tak seorang pun menyadari bahwa mereka sedang menghitung masa depan dengan chip yang dipinjam dari hari esok.

Malam semakin larut, tetapi tak seorang pun tampak ingin pulang. Musik terdengar lebih indah dari biasanya. Pelayan yang sejak sore berdiri tanpa senyum kini mulai bersiul kecil sambil membawa nampan. Di meja kasir, seorang perempuan muda menghitung tip yang malam itu hampir dua kali lipat dari biasanya. "Mungkin bulan depan aku bisa mulai mencicil rumah," katanya kepada temannya.

Di luar, deretan taksi mengular hingga ke ujung jalan. Restoran di seberang kasino menambah satu giliran memasak karena tamunya belum juga habis. Seorang pemain yang baru saja menang besar menelepon ibunya. "Bu, sepertinya semuanya mulai membaik." Tak ada yang berbohong malam itu. Mereka sungguh mempercayainya, kota itu tampak seperti akhirnya menemukan masa depannya.

Namun, aku mulai menyadari sesuatu, pemain yang chipnya tinggal sedikit, bertaruh seperti orang yang tidak punya pilihan dan semakin agresif, Sementara pemain yang gunungan chipnya setinggi lengan, bertaruh seperti orang yang tidak takut kalah.

Keduanya menaikkan taruhan, tetapi alasannya berbeda. Yang miskin mengejar hidup, Yang kaya mengejar bosan. Aku berkata pelan, "Lucu juga, semakin berbeda kekayaan mereka, semakin mirip cara mereka bermain."

Eccles tersenyum, "Itulah yang selalu terjadi menjelang badai." Aku memandang meja, Taruhan kini melonjak tajam. Tidak ada lagi yang menghitung peluang, Semua hanya menghitung berapa besar jika menang.

Seorang pemain kecil berulang kali berkata, "Kalau kartu berikutnya keluar, semuanya kembali, Double Up." Seorang pemain besar hanya mengangkat bahu, "Kalah seratus chip? Besok juga kembali."

Aku menoleh kepada Eccles, "Permainan ini menjadi aneh." Ia mengangguk. "Tidak, bukan aneh, hanya menjadi rapuh". Ia lanjut berkata, "Lihat baik-baik, Volatilitas bukan lahir ketika orang takut, Ia lahir ketika orang berhenti menghargai chip."

Aku terdiam, untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak lagi melihat poker, aku melihat perekonomian. Di sudut ruangan, seorang petugas kebersihan berhenti sejenak, Ia memandangi meja yang paling riuh. Orang-orang bersorak setiap beberapa detik, tumpukan chip berpindah semakin cepat. Ia menggeleng pelan, lalu kembali menyapu lantai. "Entah kenapa, kalau orang terlalu banyak tertawa, biasanya besok ada yang menangis."

Malam mulai larut, musik masih terdengar, lampu masih terang.Tetapi meja itu, tidak lagi sama. Seorang pemain kecil kembali menoleh, "Boleh pinjam lagi?" Lelaki di depannya diam, untuk pertama kalinya malam itu, ia berkata, "Tidak."

Hening, tidak ada yang marah, tetapi sesuatu berubah. Pemain yang tadi berani menaikkan taruhan, kini hanya ikut melihat kartu. Pemain yang tadi tertawa, mulai menghitung sisa chipnya.

Aku berbisik, "Hanya satu orang yang menolak meminjamkan, kenapa suasananya berubah?" Eccles menatap meja tanpa berkedip. "Karena semua ini dibangun oleh kepercayaan. Dan kepercayaan, selalu hilang lebih cepat daripada ia dibangun."

Tak lama kemudian, orang kedua berhenti memberi pinjaman, lalu orang ketiga. Dalam waktu kurang dari satu jam, tak ada lagi yang bersedia meminjamkan chip. Chip masih bertumpuk, Bahkan lebih banyak daripada awal permainan, namun tidak ada lagi yang bergerak.

Aku memandang Eccles, "Uangnya masih ada." Ia mengangguk, "Ya, Tetapi sekarang, semua orang lebih mencintai chipnya daripada permainannya." Aku tidak pernah mendengar kalimat yang lebih sunyi dari itu.

Seorang pelayan berdiri membawa nampan, tak ada lagi yang memesan minuman. Ia menunggu beberapa saat, lalu berjalan kembali ke dapur. Cangkir-cangkir kopi yang tadi hangat, perlahan dingin. Kasino masih penuh, namun entah mengapa... malam itu terasa seperti ada sesuatu yang telah pulang lebih dulu.

Dealer berdiri, Ia memandang seluruh meja. Tak seorang pun lagi menaikkan taruhan, tak seorang pun lagi berani meminjam. Permainan belum selesai, Namun tak ada lagi yang benar-benar bermain.

Dealer menghilang beberapa menit, Lalu kembali, membawa sebuah kotak kayu. Ia membukanya perlahan, Isinya... Chip, Banyak sekali chip. Dealer berkata pelan, "Kasino memutuskan, permainan ini harus tetap berjalan." Ia mulai membagikan chip, bukan kepada semua orang, tetapi kepada mereka yang masih dipercaya mampu mengembalikannya.

Aku tersenyum, "Permainan akan hidup lagi." Eccles tidak menjawab. Aku melihat pemain besar menerima chip tambahan, gunungannya semakin tinggi. Ia kembali menaikkan taruhan, berkali-kali, dengan jumlah yang fantastis, apapun kartu yang dimilikinya.

Tetapi, tak ada yang menjawab. Pemain kecil hanya melihat kartunya, Lalu melipatnya. Dealer kembali membagikan chip, Permainan tetap sunyi. Aku mulai bingung, "Chip sudah bertambah, mengapa meja ini tetap terasa kosong?"

Eccles mengambil satu chip, Meletakkannya di telapak tanganku. "Anak muda, Chip bisa dicetak, Ia menatap seluruh meja, tetapi keberanian tidak."
Seorang pemain kecil berdiri, ia masih memiliki chip, tidak banyak. Masih cukup untuk beberapa putaran, Ia memasukkannya kembali ke dalam kantong.

Lalu mengenakan mantelnya. Aku bertanya, "Kenapa dia pulang? Dia belum bangkrut." Eccles menjawab pelan, "Karena kehilangan uang tidak selalu membuat seseorang berhenti bermain." Ia memandang pintu yang perlahan tertutup. "Kadang, yang lebih dulu habis adalah harapan."

Esok malam kami kembali, Kasino itu masih menyala. Lampunya tetap terang, dealer yang sama, meja yang sama, Tetapi... ada satu kursi kosong. "Dia tidak datang?" tanyaku. Eccles menggeleng, "Ia sudah tidak punya chip." Aku menyahut, "Tapi semalam masih ada.". Tapi Eccles mengangkat bahu, "Ya, tidak cukup untuk kembali berharap." Permainan dimulai, tujuh orang, bukan delapan.

Anehnya, taruhan justru jauh lebih kecil. Orang-orang lebih lama memegang kartunya, lebih sering melipat, lebih sedikit tersenyum, dan chip tidak lagi berpindah cepat. Mereka hanya berpindah, di antara orang-orang yang sudah memilikinya banyak.

Aku berkata,"Masih banyak uang disini." Eccles mengangguk, "Lalu mengapa terasa miskin?" Ia memandang kursi kosong itu. "Karena kekayaan sebuah meja, tidak diukur dari banyaknya chip, tetapi dari banyaknya orang yang masih percaya permainan ini layak dimainkan."

Aku terdiam. Malam berikutnya, kursi kosong menjadi dua, Seminggu kemudian empat. Dealer masih membagikan kartu, tetapi kini ia melakukannya tanpa semangat. Tidak ada lagi sorak kemenangan, tidak ada lagi pemain baru yang datang dengan mata berbinar. Kasino masih berdiri. Namun, ia kehilangan alasan untuk hidup.

Seorang lelaki tua duduk sendirian di bangku luar kasino. Di tangannya ada sekeping chip tua. Mungkin chip terakhir yang ia simpan, Ia memutarnya perlahan di antara jari-jarinya, lalu tersenyum kecil. "Bukan chip ini yang kurindukan, tetapi malam ketika kami semua masih percaya besok bisa lebih baik."

Eccles berdiri, Mengancingkan mantelnya. "Anak muda, orang menyebut ini depresi, Aku menyebutnya, sebuah masyarakat yang kehilangan keberanian untuk bermimpi bersama."

Kami berdiri di depan pintu kasino ketika fajar mulai datang. Para petugas kebersihan masuk, lampu satu per satu dipadamkan, dan malam itu perlahan menjadi sejarah. "Pak Eccles..." aku mulai. "Kalau begitu... selama ini Bapak tidak sedang mengajar poker?"

"Tidak." Ia memandang pintu kasino yang perlahan ditutup dengan tatapan seseorang yang menyimpan terlalu banyak malam seperti ini. "Aku sedang mengajar ekonomi. Dan lebih dari itu... aku sedang mengingat."

"Mengingat apa?" Ia tidak langsung menjawab. Di luar, seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri trotoar basah, mantel tipis, langkah yang berat, tangan di dalam saku. Aku mengenalinya: pemuda yang all-in semalam. Yang foto anak perempuannya ada di dompetnya. Yang istrinya menunggu di rumah.

Ia berjalan tanpa menoleh ke kasino. Tanpa ekspresi menang atau kalah. Hanya berjalan, seperti seseorang yang baru saja belajar bahwa beberapa hal tidak bisa diulang. Di kejauhan, satu jendela masih menyala. Mungkin seseorang masih menunggu pemuda itu.. "Di ujung jalan yang lain, lampu sebuah kafe baru saja mati. Seorang perempuan dalam seragam kasino berjalan ke halte bus, menghitung sesuatu dalam diam."

Eccles memandangnya lama. "Pada tahun 1933," katanya pelan, "aku duduk di depan Kongres Amerika Serikat. Jutaan orang menganggur, kredit lesu. Uang ada banyak, tetapi tidak bergerak. Kepercayaan ada, tetapi tidak mau berpindah."

Ia berhenti. "Aku bisa membuat kebijakan, aku bisa mencetak chip, tetapi yang tidak bisa aku lakukan adalah memaksa orang untuk kembali percaya bahwa hari esok layak dipertaruhkan." "Aku sudah tahu ini akan terjadi sejak awal malam. Tapi aku tidak bisa menghentikannya. Tidak pernah bisa."

"Anak muda, tidak ada gunanya memiliki institusi terbaik di dunia, jika tidak ada lagi orang yang mampu bertransaksi dan memiliki harapan." Ia meletakkan chip itu di telapak tanganku, "Tidak ada gunanya bunga rendah, tidak ada gunanya uang berlimpah dan Tidak ada gunanya bank-bank yang sehat...", jika keberanian masyarakat telah bangkrut."

Aku menatap chip itu lama, baru saat itulah aku mengerti. Yang dijaga bank sentral bukan sekadar uang, bukan sekadar bunga, bukan sekadar inflasi, yang dijaga adalah kepercayaan bahwa permainan masih layak diteruskan esok pagi dan membuat orang-orang tetap mau duduk di mejanya.

Eccles mulai berjalan meninggalkanku. Beberapa langkah kemudian ia berhenti, Tanpa menoleh, ia berkata pelan, "Ingatlah satu hal, Resesi terjadi ketika uang berhenti berputar, dan tadi malam, Dealer bisa memperbaikinya" Ia melangkah lagi, lalu melanjutkan,

"Tetapi depresi, terjadi ketika harapan berhenti berpindah dari satu manusia kepada manusia yang lain." Aku berdiri sendiri, menggenggam chip tua itu. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melihatnya sebagai alat untuk berjudi. Melainkan sebagai janji kecil, bahwa selama manusia masih percaya pada hari esok, permainan selalu bisa dimulai kembali.

The United States economy is like a poker game where the chips have become concentrated in fewer and fewer hands, and where the other fellows can stay in the game only by borrowing. When their credit runs out the game will stop.

_(Marriner Eccles Memoirs, Beckoning Frontiers, 1951)_

_A Macroeconomic Cycle in One Room, Fin _


(miq/miq)
Next Article Family Office Indonesia: Membangun Kepercayaan, Bukan Cuma Tarik Modal