Insurance Leadership

Menjaga Kepercayaan, Membangun Kepemimpinan (Bagian II)

Marah Kerma Mardame Manurung,  CNBC Indonesia
24 July 2026 12:50
Marah Kerma Mardame Manurung
Marah Kerma Mardame Manurung
Memiliki pengalaman lebih dari 26 tahun di industri asuransi di Indonesia, dengan bekerja di beberapa perusahaan asuransi baik lokal maupun asuransi patungan. Saat ini bekerja di SedanaRe dan juga tercatat sebagai Mahasiswa Doktoral Manajemen Keberlanjutan.. Selengkapnya
foto : Freepik
Foto: Freepik

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Jika kepercayaan merupakan fondasi industri perasuransian, maka kepemimpinan adalah mekanisme yang memastikan fondasi tersebut tetap kokoh menghadapi perubahan zaman. Namun selama ini, pembahasan mengenai kepemimpinan di industri perasuransian sering kali berhenti pada figur.

Kita berbicara tentang siapa yang memimpin, bukan bagaimana organisasi memastikan kepemimpinan itu terus hidup ketika figur tersebut telah berganti. Dan di sinilah, terdapat satu kekosongan yang perlu segera diisi.

Selama bertahun-tahun, perhatian industri lebih banyak diarahkan pada penguatan permodalan, kepatuhan terhadap regulasi, transformasi digital, inovasi produk, dan peningkatan tata kelola. Semua agenda tersebut memang tidak dapat ditawar. Bahkan menjadi prasyarat bagi industri untuk tetap sehat, kredibel, dan kompetitif di tengah perubahan yang semakin cepat.

Namun terdapat satu investasi yang nilainya jauh lebih menentukan dalam jangka panjang, tetapi justru paling jarang menjadi agenda utama dalam ruang-ruang strategis industri. Investasi itu adalah mempersiapkan kepemimpinan.

Banyak organisasi berhasil melahirkan pemimpin yang hebat. Akan tetapi jauh lebih sedikit organisasi yang berhasil membangun sistem yang secara konsisten melahirkan pemimpin-pemimpin hebat. Perbedaan keduanya sangat mendasar. Organisasi yang bergantung pada figur akan ikut melemah ketika figur tersebut pergi. Sebaliknya, organisasi yang membangun sistem regenerasi akan terus bertumbuh karena kekuatannya tidak lagi berada pada individu, melainkan pada institusi. Inilah sistem yang saat ini perlu dibangun!

Dalam berbagai kajian mengenai sustainable leadership, organisasi yang mampu bertahan menghadapi perubahan bukanlah organisasi yang memiliki pemimpin paling cerdas atau paling karismatik. Organisasi yang bertahan adalah organisasi yang mampu menjaga kesinambungan nilai, budaya, proses pengambilan keputusan, serta regenerasi kepemimpinan secara sistematis. Kepemimpinan dalam perspektif ini tidak lagi dipahami sebagai kualitas personal semata, melainkan sebagai kapasitas organisasi untuk menjaga keberlangsungan institusi.

Pemikiran tersebut menjadi semakin relevan bagi industri perasuransian Indonesia. Industri ini bekerja dalam horizon waktu yang panjang. Risiko yang dijamin hari ini dapat baru terealisasi bertahun-tahun kemudian. Perubahan iklim meningkatkan frekuensi bencana.

Perkembangan teknologi melahirkan risiko-risiko baru, mulai dari serangan siber hingga pemanfaatan kecerdasan buatan. Dinamika geopolitik dan ekonomi global menghadirkan ketidakpastian yang semakin sulit diprediksi. Pada saat yang sama, masyarakat juga semakin menuntut transparansi, akuntabilitas, serta tata kelola yang lebih baik.

Dalam situasi seperti itu, pengalaman masa lalu tetap penting, tetapi tidak lagi cukup. Industri membutuhkan pemimpin yang mampu membaca perubahan sebelum perubahan itu benar-benar terjadi. Pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola bisnis hari ini, tetapi juga menyiapkan organisasi menghadapi risiko-risiko yang bahkan belum sepenuhnya kita kenal saat ini. Kepemimpinan seperti itu tidak lahir secara kebetulan. Ia tidak muncul hanya karena masa kerja yang panjang ataupun promosi jabatan. Ia harus dipersiapkan.

Indonesia Insurance Talent Roadmap 2045

Kesadaran inilah yang kini mulai memperoleh bentuk yang lebih konkret di Indonesia. Dalam perhelatan Insurance Summit 2026, Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara, memperkenalkan Indonesia Insurance Talent Roadmap 2045 sebagai kerangka besar pengembangan sumber daya manusia industri. Roadmap tersebut dibangun di atas tiga pilar yang saling melengkapi, yaitu knowledge development, skill development, dan leadership development.

Sejatinya, makna terbesar dari roadmap tersebut bukan semata-mata pada program pelatihannya. Yang jauh lebih penting adalah perubahan cara pandang yang dibawanya.

Selama ini, pengembangan sumber daya manusia sering kali berhenti pada peningkatan kompetensi teknis. Padahal kompetensi teknis hanyalah fondasi. Pengetahuan dan keterampilan baru akan menghasilkan nilai strategis apabila diterjemahkan menjadi keputusan, integritas, keberanian mengambil arah, serta kemampuan menjaga kepercayaan publik. Di sinilah leadership development menjadi titik temu antara kompetensi individu dan keberlanjutan institusi.

Inilah momentum yang perlu dijaga oleh seluruh ekosistem industri saat ini. Pengembangan kepemimpinan tidak boleh lagi diperlakukan sebagai program pelatihan yang berdiri sendiri ataupun sekadar bagian dari fungsi sumber daya manusia. Ia harus menjadi strategi bersama yang melibatkan regulator, asosiasi, perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, pialang asuransi, pialang reasuransi, lembaga pendidikan, hingga para pemimpin yang saat ini memegang amanah di industri kita.

Sebab pada akhirnya, yang sedang dipersiapkan bukan sekadar CEO berikutnya. Yang sedang dipersiapkan adalah penjaga kepercayaan berikutnya. Di sinilah ukuran keberhasilan kepemimpinan menemukan maknanya yang sesungguhnya. Adanya keberlanjutan!

Pemimpin yang baik mampu membawa organisasinya mencapai target. Namun pemimpin yang besar meninggalkan organisasi yang tetap mampu bertumbuh, bahkan setelah ia tidak lagi memimpin organisasinya.

Warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah gedung yang lebih megah, aset yang lebih besar, ataupun laba yang lebih tinggi. Warisan terbesar seorang pemimpin adalah lahirnya generasi pemimpin berikutnya yang mampu menjaga kepercayaan itu lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Dan ketika hal itu terjadi, kepemimpinan tidak lagi menjadi kisah tentang seorang individu. Ia telah berubah menjadi budaya. Ia telah berubah menjadi sistem. Dan pada saat itulah, kepercayaan benar-benar memiliki kesempatan untuk hidup lintas generasi.


Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Ketika Kepercayaan Menjadi Aset Paling Berharga (Bagian I)