Nation Branding Piala Dunia, Sebuah Pelajaran Penting buat Indonesia

Mohammad Akbar,  CNBC Indonesia
12 July 2026 05:12
Mohammad Akbar
Mohammad Akbar
Mohammad Akbar merupakan konsultan komunikasi. Ia juga menjadi salah satu penulis buku "Public Relations Crisis" yang menjadi rujukan berbagai pihak di bidang komunikasi. Sebelumnya, lulusan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Budi Luhur, bekerja seba.. Selengkapnya
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Mexico v South Africa -  Fans gather in Mexico City - Zocalo, Mexico City, Mexico - June 11, 2026 - A giant FIFA World Cup 2026 ball behind Mexico fans reacting as they watch the match REUTERS/Marian Carrasquer
Foto: Kemeriahan Piala Dunia 2026 di Meksiko. (REUTERS/Matthew Childs)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar turnamen sepak bola berdurasi 2x45 menit yang mempertemukan 48 negara demi sebuah trofi Jules Rimet. Ajang ini telah bermutasi. Penampilannya tak lagi sekadar bagaimana usaha sebuah tim nasional mendapatkan gengsi kemenangan di lapangan hijau.



Di era algoritma digital yang bergerak lewat mesin kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hadirnya Piala Dunia menyimpan peran sangat penting. Ia menjadi instrumen soft power dalam membentuk citra maupun reputasi sebuah negara.

Panggung Piala Dunia bisa menjadi pentas teatrikal, di mana sebuah negara dapat menunjukkan kepada jutaan penonton olahraga terbesar di planet bumi ini untuk melihat ulang sebuah negara. Fenomena inilah yang dalam kajian komunikasi strategis disebut sebagai nation branding.

Ketika miliaran mata manusia tertuju pada satu titik, kisah yang dihadirkannya tak hanya tersaji pada penampilan 2x11 pemain yang ada di lapangan hijau saja. Para pemain terbaik yang merumput di Piala Dunia beserta para suporternya justru menjadi representasi terhadap penguatan identitas, budaya, hingga nilai nasionalisme dari setiap negara.

Dalam lanskap komunikasi, nation branding ini dapat didefinisikan sebagai upaya strategis suatu negara untuk membangun, mengelola, dan mengomunikasikan reputasi kolektifnya kepada khalayak internasional. Simon Anholt, pakar branding negara yang tersohor, telah meletakkan dasar konsep Nation Brand Index dengan menjelaskan bahwa identitas sebuah negara tidak bisa dibeli lewat kampanye iklan instan semata.

Anholt menyatakan kebanyakan orang memperoleh reputasi dari apa yang mereka lakukan, bukan dari apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri. Apa yang disampaikan Anholt itu sesungguhnya menjadi pijakan dasar dari kerja-kerja public relations (PR).

Selanjutnya, dalam konteks komunikasi massa dan digital, nation branding ini bertindak juga sebagai manajemen persepsi. Piala Dunia menyediakan saluran komunikasi langsung tanpa filter diplomasi formal. Penampilan sebuah negara di Piala Dunia acapkali bisa mengubah stereotip penonton global menjadi daya pikat emosional melalui narasi budaya, perilaku suporter, dan performa ikonik para aktor lapangannya.

Dayung Viking Norwegia dan Efek Erling Haaland
Piala Dunia 2026 menjadi bukti nyata bagaimana nation branding ini bekerja secara organik melalui medium digital. Tim nasional Norwegia, yang akhirnya kembali ke panggung dunia setelah absen selama 28 tahun, telah mencuri perhatian global. Publik dunia melihat para pemain Norwegia itu bukan hanya lewat taktik permainan, melainkan diperkuat oleh soliditas identitas budaya mereka.

Aksi suporter dan pemain Norwegia yang mempopulerkan gerakan Viking Row (mendayung ala Viking) secara masif di luar dan di dalam stadion Amerika Serikat, telah menjadi sensasi global. Lalu gerakan Viking Row itu juga diperkuat oleh sang ujung tombak, Erling Haaland.

Setiap gerak-gerik Haaland-baik saat mencetak gol, merayakan kemenangan dengan gaya khasnya, hingga potongan video interaksinya yang jenaka seperti menjulurkan leher dengan rambut panjangnya yang menjuntai-telah berubah menjadi konten viral di platform digital seperti TikTok, X, dan Instagram.

Secara teoretis, kondisi viral ini memicu efek halo yang memberikan persepsi positif terhadap seseorang atau negaranya. Efek halo yang memikat audiens global ini dirasakan langsung oleh Norwegia sebagai negara yang menarik. Secara jangka pendek, hal ini bisa dilihat dari pergerakan algoritma digital.

Pencarian mengenai Norwegia ini telah menciptakan lonjakan drastis pada volume pencarian keyword perjalanan seperti "visit Norway" dan "fjords of Norway". Data historis menunjukkan, eksposur organik berskala masif ini bertindak sebagai iklan pariwisata gratis bernilai jutaan dolar yang umumnya diiringi dengan kenaikan angka kunjungan dalam kurun waktu enam hingga 18 bulan pasca-turnamen.

Kisah Vozinha dan Tanjung Verde
Pengaruh nation branding dari Piala Dunia ini ternyata tidak hanya dimonopoli oleh negara besar dan kaya saja. Negara kepulauan kecil di Afrika Barat, Tanjung Verde (Cabo Verde), membuktikannya melalui narasi kepahlawanan yang emosional. Keberhasilan mereka menembus fase gugur dan memaksa Argentina bermain hingga babak perpanjangan waktu dengan skor ketat 3-2 adalah cerita magis yang menggetarkan para penikmat sepak bola dunia.

Di pusat narasi tersebut berdiri sang penjaga gawang veteran, Vozinha. Penampilan heroiknya-termasuk mencatatkan 8 penyelamatan krusial saat menahan imbang raksasa Spanyol 0-0 di fase grup-membuat namanya viral secara global.

Melalui komunikasi visual di lapangan, Vozinha mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa Tanjung Verde adalah negara yang tangguh, gigih, dan tidak gentar menghadapi keterbatasan. Dunia yang sebelumnya mungkin tidak tahu di mana letak Tanjung Verde di peta, kini mengingatnya sebagai simbol determinasi.

Vozinha pun merasakan efek magis dari penampilannya di Piala Dunia kali ini. Hanya dalam 10 jam setelah laga melawan Spanyol, pengikut kiper berusia 40 tahun ini langsung melejit 5 juta dari sebelumnya hanya ratusan follower saja.

Jumlah pengikutnya kembali meroket dan mencapai angka lebih dari 28 juta setelah ia membuat delapan penyelamatan, termasuk empat kali menggagalkan peluang Lionel Messi saat melawan juara bertahan Argentina. Vozinha dan Tanjung Varde telah menunjukkan kuatnya nation branding dari perhelatan Piala Dunia 2026.

Efek Berganda Ekonomi
Meskipun sepak bola sukses mendongkrak reputasi bangsa secara soft power, data empirik menunjukkan bahwa dari sisi finansial dan pengaruh pertumbuhan ekonomi kepada para penyelenggara Piala Dunia terdahulu ternyata memberi pengaruh sangat signifikan. Afrika Selatan adalah contoh nyata. Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, hadirnya Piala Dunia telah membuat pertumbuhan ekonomi di negara tersebut melaju cepat.

Secara jangka pendek, hadirnya Piala Dunia telah mendatangkan 350 ribu tamu khusus untuk berkunjung ke negara tersebut. Lalu penjualan ritel Juni 2010 naik 7,4% dibandingkan Juni 2009. Sementara, grup restoran Afrika Selatan Famous Brands mencatat peningkatan penjualan sebesar 24% pada Juni 2010 dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Manfaat lebih besar lagi dengan hadirnya Piala Dunia di Afrika Selatan itu ternyata memberi manfaat besar bagi keseluruhan benua. Dalam beberapa tahun setelahnya, Afrika telah menarik minat besar dari investor internasional dan perusahaan multinasional. Perkembangan lain pasca-Piala Dunia adalah undangan bagi Afrika Selatan untuk bergabung dengan Brasil, Rusia, India, dan China ke dalam kelompok ekonomi BRIC - sebuah kekuatan baru ekonomi di pentas global.

Hal serupa juga terjadi kepada Qatar sebagai penyelenggara Piala Dunia 2022. Acara tersebut sukses menjadikan Qatar sebagai destinasi internasional baru, di mana jumlah wisatawan asing melonjak drastis hingga ratusan persen setelah turnamen berakhir. Media barat juga menjadikan penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar itu sebagai bentuk diplomasi budaya, dengan mengubah stigma negara Islam yang puritan menjadi negara terbuka secara global.

Studi dari konsultan Redseer yang berbasis di Dubai mengungkap penyelenggaraan Piala Dunia telah menjadi batu loncatan yang mendorong pertumbuhan pariwisata Qatar, dengan lebih dari 50% wisatawan asing tahunan selama turnamen berlangsung.

Tercatat ada sekitar 1,2 juta pengunjung yang hadir di Piala Dunia pertama yang diadakan di kawasan Teluk ini. Bahkan, Qatar telah menempatkan ambisinya sebagai tuan rumah Piala Dunia itu ke dalam visi Rencana Nasional 2030 dengan mendorong sektor pariwisata bisa menyumbangkan pemasukannya bagi PDB negara sebanyak 35 miliar dolar AS pada 2030.

Semua deretan efek berganda yang dihadirkan dari Piala Dunia itu, tentunya harus diselaraskan dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Tentunya, investasi akan mengucur, pertumbuhan ekonomi akan bergerak cepat usai Piala Dunia jika orang-orang yang mengelola negara tersebut bisa menjalankan tugasnya secara baik dan bertanggungjawab.

Artinya, menguatnya nation branding yang diberikan dari Piala Dunia itu harus dibarengi dengan penguatan individu pengelola negara dan warga negaranya untuk maju dan tumbuh. Tanpa itu semuanya, rasanya sangat musykil terjadi.

Prasyarat ini tentunya menjadi tugas besar buat Indonesia yang kini tengah mengikuti proses bidding menjadi tuan rumah Piala Dunia 2042. Masih telanjangnya praktik korupsi, kolusi dan nepostisme (KKN) yang dipertontonkan elite-elite negeri ini tentunya hanya akan memberikan efek fatamorgana untuk menyaksikan Indonesia tumbuh dan maju. Namun ikhtiar tak boleh berhenti, asa harus terus dijaga.

Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 ini telah menegaskan kembali bahwa sepak bola adalah bahasa universal yang paling efektif dalam komunikasi antar-bangsa. Baik melalui modernitas kultur pop ala Erling Haaland di Norwegia, maupun heroisme penuh determinasi dari Vozinha bersama Tanjung Verde.

Lapangan hijau Piala Dunia pada akhirnya telah bertransformasi menjadi papan reklame ideologis yang bisa memberi dampak secara ekonomi bagi negara yang terlibat. Negara yang cerdas tentunya tidak hanya menghitung skor akhir pertandingan di papan digital saja, melainkan bagaimana mereka menghitung seberapa dalam identitas budaya mereka tertanam di hati dan benak masyarakat dunia.

Pertanyaan lanjutannya, kapankah kita bisa melihat sebelas anak muda Indonesia merumput di Piala Dunia? Atau, mampukah Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia di tengah masih miskinnya budaya jujur para elite negeri ini?


(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Siapa yang Diuntungkan dari Pariwisata Indonesia?