Reaktor Nuklir Kecil Sebagai Solusi Energi Daerah Terpencil Indonesia

Yulian Dekri,  CNBC Indonesia
26 June 2026 09:58
Yulian Dekri
Yulian Dekri
Yulian Dekri adalah profesional dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di industri energi, migas, dan petrokimia. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Operasi PT Kilang Pertamina International (2021–2022) dan President Director & CEO PT TPPI (2019–2021)... Selengkapnya
Ilustrasi Small Modular Reactor (SMR). (Istimewa)
Foto: Ilustrasi Small Modular Reactor (SMR). (Istimewa)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Indonesia adalah negara kepulauan dengan belasan ribu pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke, dengan banyak daerah terpencil yang belum tersentuh jaringan listrik. Selama ini, kebutuhan listrik di daerah-daerah tersebut mengandalkan genset diesel dengan biaya mahal, perawatan rumit, dan emisi yang kotor. Ada opsi lain yang mulai dilirik dunia: reaktor nuklir kecil atau small modular reactor (SMR).

Apa Itu Reaktor Nuklir Kecil?
SMR adalah reaktor nuklir generasi keempat dengan kapasitas maksimum 300 megawatt listrik (MWe) per unit, jauh lebih kecil dibandingkan reaktor konvensional yang bisa mencapai 1.000 MWe atau lebih. Disebut modular karena komponen-komponen reaktor diproduksi di pabrik, kemudian dikirim ke lokasi untuk dirakit.

Pendekatan ini berbeda dengan reaktor konvensional yang dibangun seluruhnya di lokasi proyek. Dengan metode modular, kualitas komponen lebih terkontrol, waktu pembangunan lebih singkat, dan biaya lebih terprediksi. Selain itu, SMR berpotensi memainkan peran penting dalam transisi energi bersih dan mendukung pencapaian SDGS.

Keunggulan untuk Daerah Terpencil
Untuk daerah terpencil yang tidak teraliri listrik, cukup digunakan SMR berkapasitas 10-50 MWe. Tidak perlu membangun reaktor raksasa yang biayanya triliunan rupiah. SMR juga jarang membutuhkan pengisian ulang bahan bakar.

Reaktor konvensional biasanya isi ulang setiap 12-18 bulan, sementara SMR bisa beroperasi 3 hingga 7 tahun tanpa isi ulang. Bahkan beberapa desain mampu
beroperasi hingga 30 tahun tanpa pengisian ulang.

Ini keuntungan besar untuk daerah terpencil. Logistik pengiriman bahan bakar ke pedalaman atau pulau terpencil sangat sulit dan mahal. Dengan SMR, urusan pasokan bahan bakar menjadi jauh lebih simpel dan daerah terpencil bisa punya sumber listrik sendiri yang mandiri.

Lebih Aman dari Bayangan Banyak Orang
Salah satu kekhawatiran terbesar soal nuklir adalah keselamatan. SMR dirancang dengan prinsip keselamatan pasif, artinya bahkan tanpa intervensi manusia atau pasokan listrik dari luar, reaktor akan mati dengan sendirinya jika terjadi gangguan.

Ini berbeda dengan reaktor generasi lama yang sangat bergantung pada sistem pendingin aktif. Keamanan dari kecelakaan nuklir dijamin melalui penerapan safeguarding system yang dirancang dan diimplementasikan secara berkelanjutan sejak tahap awal desain. Selain itu, pengelolaan limbah radioaktif dan spent bahan bakar menjadi aspek penting dalam desain SMR.

Dunia sudah membuktikan bahwa SMR sudah bukan sebatas konsep. SMR pertama kali beroperasi secara komersial pada Mei 2020 di Rusia dengan kapasitas 35 MWe. China juga sudah mengoperasikan beberapa unit.

Sedangkan, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Argentina masih dalam tahap konstruksi dan proses perizinan. Saat ini, lebih dari 80 desain SMR sedang dikembangkan di seluruh dunia.

Indonesia Tidak Mulai dari Nol
Banyak yang tidak tahu bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman dengan teknologi nuklir. Penggunaan energi nuklir memiliki 2 tipe utama yatu daya (pembangkit listrik) dan radiasi (berbagai aplikasi industri dan medis).

Tiga reaktor non-daya (Kartini, Triga, dan GA Siwabessy) yang telah beroperasi selama bertahun-tahun untuk pemanfaatan radiasi di bidang kesehatan, pangan,
agrikultur, dan lingkungan. Artinya, sumber daya manusia dan pengetahuan dasar tentang teknologi nuklir sudah ada, meskipun yang belum dimiliki adalah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Dengan kata lain, Indonesia tidak memulai dari nol.

Tantangan Ring of Fire
Tantangan terbesar adalah kondisi geografis Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik, jalur gunung api dan gempa aktif, sehingga gempa sering terjadi. Pertanyaan yang langsung muncul: apakah aman membangun reaktor nuklir di wilayah rawan gempa?

Teknologi modern menjawab pertanyaan itu, karena SMR yang lebih kecil dan modular lebih mudah didesain dengan sistem peredaman gempa, dan karena ukurannya kecil, lokasi yang secara geologis aman lebih mudah ditemukan. Sementara itu, BRIN, BATAN, dan BAPETEN terus mengkaji aspek keselamatan ini.

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan?
Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Menurut International Atomic Energy Agency (IAEA), pembangunan SMR di negara berkembang seperti Indonesia memakan waktu sekitar 7 hingga 10 tahun, dengan perincian tahapan: perencanaan dan kajian kesiapan (2-3 tahun), desain dan produksi modular (2-3 tahun), pembangunan dan instalasi (2-3 tahun), serta uji operasional (1-2 tahun). Kabar baiknya, dengan pengalaman yang sudah dimiliki di sektor non-daya (reaktor riset), proses ini bisa dipercepat menjadi sekitar 5 tahun.

Langkah Selanjutnya
Saat ini yang dibutuhkan ialah kajian mendalam yang melibatkan semua pihak: pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. Di samping itu, sosialisasi publik yang jujur dan transparan tentang potensi sekaligus risiko reaktor nuklir kecil juga sangat penting, karena ketakutan sering lahir dari ketidaktahuan.

Perlu diingat, reaktor nuklir kecil sudah menjadi kenyataan. Rusia dan China sudah mengoperasikannya, sementara AS, Korea Selatan, dan Argentina sedang dalam proses pembangunan. Indonesia sendiri tidak perlu ragu, karena kita sudah punya pengalaman dasar lewat tiga reaktor non-daya serta SDM yang potensial. Jadi pertanyaannya apakah kita sudah mau memulai?


(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Saatnya Indonesia Melirik Nuklir