Tiada yang Terbuang dari Sepiring Tilapia Indonesia
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Regal Springs Indonesia sebagai salah satu produsen utama ikan tilapia di Indonesia berhasil mencatatkan pencapaian signifikan di pasar internasional. Perusahaan ini sukses memasok jaringan pub terkemuka di Inggris bernama Greene King.
Greene King mengoperasikan salah satu ekosistem pub terbesar di Inggris dengan mengelola lebih dari 2.700 hingga 3.100 lokasi yang mencakup pub, restoran, dan hotel di Inggris, Wales, dan Skotlandia. Regal Springs Indonesia berhasil meraih kepercayaan dari jaringan pub Greene King menggunakan fillet tilapia premium bebas duri (boneless) sebagai alternatif berkualitas tinggi untuk menu legendaris Inggris, fish and chips.
Foto: Filet tilapia produksi Regal Springs. (Dokumentasi Istimewa) |
Tentunya kabar menggembirakan ini layak dirayakan bagi pelaku usaha di sektor perikanan lokal. Ikan yang selama ini akrab sebagai lauk rumahan masyarakat Indonesia, kini bertransformasi menjadi komoditas premium yang menembus pasar paling selektif di dunia.
Bagi saya inilah momentum yang tepat untuk membingkai ulang cara kita memandang tilapia tak lagi sebagai ikan murah yang mudah dibudidayakan, melainkan sebuah komoditas lengkap bernilai tinggi yang nyaris tidak menyisakan bagian yang terbuang.
Potensi Besar
Permintaan tilapia global terus tumbuh. Pada tahun 2024, total nilai impor tilapia dunia mencapai USD 1,71 miliar - naik 29,6% dibanding tahun sebelumnya - dengan volume 0,54 juta ton dan tren pertumbuhan tahunan 9% selama periode 2020-2024. Amerika Serikat memimpin sebagai importir terbesar dengan nilai USD 802,23 juta atau 46,8% pangsa pasar dunia, disusul Meksiko (14,7%) dan Uni Eropa (7,5%).
Di tengah derasnya permintaan ini, Indonesia berdiri sebagai pemain ketiga terbesar dunia dalam ekspor tilapia dengan nilai USD 93,51 juta pada 2024 - tumbuh 14,4% secara year-on-year - hanya kalah dari China (USD 366 juta) dan Kolombia (USD 95 juta). Hampir seluruh ekspor Indonesia (98,7%) berbentuk filet beku, dan 99,5%-nya berasal dari Sumatra Utara, khususnya dari budidaya di Danau Toba.
Hal perlu dicatat, pasar tidak hanya besar, tetapi ia juga semakin peduli pada kualitas dan keberlanjutan. Inilah celah yang sedang diisi Indonesia dengan sangat baik.
Zero Waste
Tilapia dijuluki aquatic chicken bukan tanpa alasan. Kandungan proteinnya mencapai 20-29 gram per 100 gram sajian, hampir setara dengan dada ayam, sekaligus rendah lemak jenuh dan kaya Omega-3, 6, 9, vitamin B12, serta berbagai mineral penting. Dalam lanskap konsumen global yang semakin berorientasi pada wellness, profil gizi ini adalah nilai jual yang sesungguhnya.
Namun keunggulan tilapia tidak berhenti di meja makan. Ia adalah komoditas zero waste yang hampir sempurna. Dari satu ekor tilapia utuh, setiap bagian memiliki nilai ekonomi tersendiri.
Filet dan loins yang membentuk 30% bobot ikan menjadi produk utama ekspor yang menyasar restoran dan jaringan ritel premium. Kepala (23%) menjadi kuliner lokal favorit. Fish frame (15%) diolah menjadi minyak dan tepung ikan.
Trimming meat (13%) diproses lebih lanjut. Usus (7%) menjadi pakan ikan. Belly meat (6%) diolah menjadi Belly Kabayaki, sajian populer di pasar Taiwan. Kulit (4%) menjadi bahan baku gelatin. Dan sisik - yang hanya 2% dari bobot ikan - menjadi bahan baku kolagen premium untuk industri kosmetik dan farmasi.
Bayangkan nilai rantai produksi yang tercipta ketika satu ekor ikan dimanfaatkan hingga 100%. Pada saat industri pangan global sedang berbicara tentang circular economy dan keberlanjutan, tilapia Indonesia sudah memiliki fondasi biologis yang mendukung konsep itu secara alami.
Transformasi
Keberhasilan tilapia Indonesia masuk ke Eropa - termasuk memenuhi standar 37 sertifikasi yang dipersyaratkan oleh mitra seperti Greene King - bukan keberuntungan semata. Ini adalah hasil dari transformasi sistematis cara kita memproduksi dan memproses ikan.
Pasar premium menuntut lebih dari sekadar kesegaran produk. Amerika Serikat bahkan memiliki program sertifikasi kualitas five-star berbasis uji Geosmin dan Methylisoborneal - dua senyawa penyebab bau lumpur yang kerap menjadi keluhan konsumen terhadap ikan air tawar.
Untuk ekspor, tilapia yang diterima pasar internasional adalah yang bebas dari bau tersebut, dihasilkan dari ikan berukuran lebih dari 1.000 gram, dan diproses dengan standar HACCP, GMP-SSOP, serta dilengkapi sertifikasi pihak ketiga seperti ASC, BAP, atau GLOBALG.A.P.
Indonesia hari ini sudah membuktikan dapat memenuhi standar tersebut. Data yang dimiliki Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan tilapia Indonesia bebas dari penolakan ekspor di seluruh pasar tujuannya, sebuah rekam jejak yang menjadi modal kepercayaan luar biasa di mata pembeli internasional.
Namun tantangan masih ada. Terutama masalah tarif di negara-negara tujuan ekspor. Ini adalah pekerjaan rumah kebijakan yang perlu diselesaikan paralel dengan peningkatan daya saing produk.
Pasar Wellness
Ceruk pasar lain yang bisa dibidik oleh komoditas Tilapia adalah wellness. Saat ini wellness bukan lagi sekadar tren, melainkan gaya hidup yang mengubah keputusan pembelian. Konsumen di pasar maju rela membayar lebih untuk produk yang bisa mereka percaya - baik dari sisi nutrisi, proses produksi, maupun dampak lingkungannya. Di sinilah komunikasi pemasaran memegang kunci penting bagi tilapia Indonesia agar memiliki narasi yang sangat kuat, bila dikemas dengan tepat.
Pertama, komunikasikan keunggulan gizi secara spesifik. Bukan sekadar "ikan bergizi," tetapi sampaikan kandungan omega-3, rasio protein-lemak yang unggul, dan ketiadaan merkuri seperti pada ikan predator laut dalam. Tilapia adalah pilihan ideal bagi konsumen yang sadar kalori sekaligus ingin memenuhi kebutuhan protein harian.
Kedua, jadikan sertifikasi sebagai cerita, bukan sekadar label. ASC bukan hanya stiker di kemasan. Ia adalah jaminan bahwa ikan yang dikonsumsi dibesarkan dalam sistem yang terukur, tidak merusak ekosistem danau, dan mensejahterakan komunitas pembudidaya di sekitar Danau Toba. Konsumen wellness di London, Amsterdam, atau Tokyo membeli nilai ini, bukan hanya proteinnya.
Ketiga, eksplorasi produk turunan bernilai tinggi. Kolagen dari sisik tilapia adalah peluang yang masih sangat terbuka. Industri kecantikan global yang berorientasi clean beauty dan marine collagen sedang tumbuh pesat. Sisik ikan yang selama ini menjadi limbah pengolahan dapat menjadi produk bernilai ratusan dolar per kilogram di segmen kosmetik premium.
Keempat, perkuat ekosistem pembudidaya lokal. Kapasitas ekspor premium yang berkelanjutan hanya bisa dibangun jika petani tambak mendapat akses terhadap benih unggul, teknologi pakan efisien, dan sistem sertifikasi yang terjangkau.
Strain impor seperti Manit, Genomar, dan AIT memang tumbuh lebih cepat - mencapai ukuran 1.000 gram dalam 5-5,5 bulan - dibanding strain lokal yang membutuhkan 6,5-7,5 bulan. Namun pengembangan strain lokal yang setara tetap penting untuk kedaulatan benih jangka panjang.
Indonesia sudah berada di jalur yang benar dalam mengembangkan Tilapia dimana ekspor tumbuh konsisten, zero penolakan di pasar internasional, dan kini mulai menembus segmen premium Eropa.
Target pemerintah untuk menjadi eksportir tilapia nomor dua dunia pada 2029 - dengan nilai ekspor USD 223 juta, lebih dari dua kali lipat kondisi 2024 - adalah ambisi yang realistis, asalkan strategi hulu berjalan seiring dengan strategi hilir.
Karena, ketika kita serius mengelola tilapia dari hulu ke hilir, tidak ada yang terbuang, termasuk peluangnya.
(miq/miq) Add
source on Google
Foto: Filet tilapia produksi Regal Springs. (Dokumentasi Istimewa)