Menang Bersama atau Gagal Total: Jalan Realistis Perdamaian Iran-AS
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Setelah lebih dari 40 hari perang terbuka dan lebih dari sebulan gencatan senjata yang rapuh, perundingan tidak langsung Iran-AS yang dimediasi Pakistan menunjukkan satu kenyataan penting: konflik ini tidak dapat diselesaikan dengan asumsi bahwa Iran akan menyerah total. Posisi AS, yang juga dipengaruhi kepentingan keamanan Israel, masih bertumpu pada tuntutan maksimalis: pembongkaran penuh fasilitas nuklir Iran dan pelemahan signifikan kapabilitas rudalnya.
Bagi Teheran, tuntutan seperti itu bukan sekadar isu teknis nuklir, melainkan menyangkut kedaulatan, legitimasi rezim, dan jaminan pencegahan strategis. Karena itu, Iran menolak proposal yang dinilainya sama dengan penyerahan. Sebaliknya, Iran mendorong agar pembicaraan dimulai dari penghentian perang, pembukaan jalur pelayaran, dan keringanan sanksi, sebelum masuk ke pembatasan pengayaan uranium.
Karena itu, kerangka pembahasan perundingan ke depan harus dapat menggunakan pendekatan realistis yang memisahkan isu menjadi tiga kategori: yang langsung dapat disepakati, yang masih dapat dinegosiasikan, dan yang hampir pasti ditolak.
Kesepakatan damai Iran-AS yang doable bukanlah kesepakatan penyerahan Iran, melainkan kesepakatan verifikasi: Iran dicegah memperoleh senjata nuklir, sementara AS memberi ruang bagi de-eskalasi, keringanan sanksi, dan stabilisasi kawasan.
Pendekatan ini juga dapat menjadi kompromi dua ekstrem, yaitu strategi AS yang bersikeras untuk membatasi pembahasan awal hanya terkait pembatasan pengayaan uranium, dan strategi Iran yang hanya mau menjadikan isu itu di bagian akhir setelah isu-isu lainnya dibahas. Pendekatan tiga kategori ini menggabungkan berbagai isu utama menjadi satu bagian, namun memprioritaskannya berdasarkan probabilitas penyelesaian yang dapat dicapai.
Paket satu: yang langsung dapat disepakati (doable)
Bagian pertama adalah yang paling mungkin disetujui oleh Iran, yaitu pengembalian akses penuh Badan Energi Nuklir Internasional (IAEA). Iran diperkirakan akan dapat menyetujui:
• inspeksi segera oleh IAEA;
• verifikasi stok uranium yang diperkaya;
• pemantauan fasilitas nuklir utama;
• komitmen tidak mengembangkan senjata nuklir;
• mekanisme pelaporan berkala.
Namun sebagai imbalannya, Iran akan menuntut AS untuk memberikan:
• pelonggaran sanksi secara bertahap;
• pembukaan jalur transaksi kemanusiaan dan perdagangan terbatas;
• pelepasan sebagian aset Iran yang dibekukan;
• jaminan bahwa inspeksi tidak otomatis menjadi dasar serangan baru.
Ini adalah titik temu paling masuk akal. AS mendapatkan kepastian bahwa Iran tidak bergerak ke arah senjata nuklir. Sebaliknya, Iran mendapatkan insentif ekonomi tanpa harus terlihat menyerah. Proses perundingan harus dimulai dari verifikasi, bukan dari penghinaan politik terhadap salah satu pihak.
Paket dua: yang masih dapat dinegosiasikan (negotiable)
Bagian kedua lebih sulit daripada pertama, tetapi masih dapat dinegosiasikan, meskipun tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. Iran dapat ditawar untuk:
• menyerahkan, mengekspor, atau melarutkan kembali sekitar 440 kg uranium yang telah diperkaya 60%;
• membatasi tingkat pengayaan uranium lebih lanjut;
• menerima mekanisme penyimpanan atau pengawasan internasional;
• memperpanjang akses verifikasi IAEA.
Sebagai imbalannya, Iran dapat meminta:
• pencairan asetnya dalam jumlah lebih besar;
• paket pemulihan ekonomi, bantuan rekonstruksi sipil, atau pembiayaan kemanusiaan melalui mekanisme internasional;
• bantuan rekonstruksi fasilitas sipil;
• jaminan keamanan terbatas;
• normalisasi bertahap ekspor energi.
Untuk pengelolaan Selat Hormuz perlu dirumuskan hati-hati untuk tidak melanggar UNCLOS atau bertentangan dengan prinsip kebebasan pelayaran internasional. Pilihan yang lebih realistis adalah mekanisme internasional di bawah organisasi multilateral terkait untuk mengelola keamanan maritim, asuransi risiko, pemulihan biaya patroli, dan stabilisasi pelayaran. Dengan begitu, Iran tetap mendapat pengakuan atas peran strategisnya di Hormuz.
Paket ini disusun dengan pemahaman bahwa Uranium adalah kartu tawar utama Iran. Sedangkan Selat Hormuz adalah kartu geopolitik Iran. Tetapi keduanya harus dikemas sebagai bagian dari stabilisasi bukan pemerasan. Dalam Paket "mungkin", Iran tidak menjual kedaulatannya, tetapi menukar risiko nuklir dan risiko Hormuz dengan kompensasi ekonomi serta pengakuan keamanan.
Paket tiga: yang hampir pasti ditolak (non-starter)
Bagian ketiga adalah batas yang hampir pasti ditolak oleh Iran:
• pembongkaran penuh seluruh fasilitas nuklir;
• penghentian permanen seluruh kapasitas pengayaan uranium;
• pelucutan penuh program rudal balistik.
Bagi Iran, program rudal bukan hanya alat militer, tetapi jaminan kelangsungan rezim dan deterrence terhadap Israel, AS, dan rival regionalnya. Meminta Iran menyerahkan rudal sama dengan meminta Iran kehilangan perlindungan strategisnya. Begitu pula pembongkaran penuh fasilitas nuklir akan dianggap sebagai penyerahan, bukan kesepakatan damai.
Tidak ada pemerintah yang baru saja berperang, dan tidak kalah, yang akan menerima kesepakatan yang membuatnya kehilangan seluruh alat deterrence dan tampil menyerah di depan rakyatnya sendiri.
Jalan Realistis
Pada akhirnya, perdamaian Iran-AS tidak akan lahir dari ilusi bahwa salah satu pihak dapat dipaksa berlutut. Perdamaian yang realistis harus membuat perang tidak lagi menjadi pilihan rasional bagi kedua pihak.
Karena itu, kerangka tiga paket-verifikasi segera, kompensasi bertahap, dan pengakuan atas batas kedaulatan-menjadi jalan paling masuk akal: Iran tidak menjadi negara bersenjata nuklir, AS tetap dapat mengklaim keberhasilan strategis, dan dunia memperoleh kembali stabilitas energi serta geopolitik.
Dalam konflik sebesar ini, menyelamatkan muka bukan kelemahan diplomasi. Justru itulah syarat agar kesepakatan dapat diterima, dipertahankan, dan tidak langsung runtuh oleh tekanan politik domestik masing-masing pihak.
(miq/miq) Add
source on Google