Tiga Cara Menanggung Dunia
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.
Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.
Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.
---
Ada sebuah gang kecil yang tidak akan kamu temukan di peta manapun. Ia hanya ada di tempat di mana ekonomi berhenti menjadi angka dan mulai menjadi kehidupan. Di gang itu, ada tiga rumah yang berdiri berdampingan. Pagarnya berbeda, aromanya berbeda dan suaranya berbeda di malam hari.
Tapi ketiganya menghadap langit yang sama, langit yang setiap pagi menanyakan pertanyaan yang sama kepada setiap penghuninya: Bukan siapa yang kaya, Bukan siapa yang pintar, Bukan siapa yang bekerja paling keras.
Tapi siapa yang pada akhirnya menanggung beban agar roda tetap berputar, agar yang lemah tidak tenggelam, agar jarak antara yang di atas dan yang di bawah tidak menjadi jurang yang menelan segalanya.
Pertanyaan itu sudah ada sejak manusia pertama kali memutuskan untuk hidup bersama dalam satu kampung, satu kota, satu negara. Dan sampai hari ini, setelah semua teori, semua revolusi, semua konstitusi , ia masih belum terjawab dengan sempurna.
Di rumah pertama tinggal Pak Dieter orang Jerman. Di rumah kedua tinggal Mr. Chad orang Amerika. Di rumah ketiga tinggal Pak Budi. Ia, ya, kita semua tahu berasal darimana.
Ketiganya hidup di zaman yang sama, Menghadapi dunia yang sama. Tapi cara mereka menjawab pertanyaan itu, ternyata sangat berbeda. Dan perbedaan itu bukan sekadar soal kebijakan fiskal atau rezim moneter. Ia soal sejarah yang berbeda. Soal luka yang berbeda. Soal apa yang rela, dan tidak rela, yang ditanggung bersama.
Mari kita ketuk pintu mereka satu per satu. Tapi bersiaplah: di setiap rumah, ada kebenaran yang menyenangkan dan ada ironi yang menyakitkan. Karena begitulah ekonomi. Ia tidak pernah datang tanpa bayangannya.
*PAK DIETER: TERATUR, TAPI KOSONG*
Rumah Pak Dieter adalah rumah yang paling mudah dikenali di gang itu. Pagarnya lurus. Catnya tidak mengelupas. Tanamannya dipangkas pada hari yang sama setiap minggu, dan jadwal adalah sesuatu yang di rumah ini tidak pernah dilanggar.
Di dalam, segalanya pada tempatnya. Tagihan dibayar sebelum jatuh tempo, Pensiun sudah dihitung sejak usia tiga puluh. Asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi gigi, semuanya ada.
Pak Dieter bekerja sebagai insinyur di sebuah perusahaan manufaktur yang sudah berdiri sebelum ia lahir dan kemungkinan besar akan tetap berdiri setelah ia tiada. Gajinya bagus. Pajaknya tinggi hampir 45 persen dari penghasilannya berpindah tangan setiap bulan kepada negara. Dan yang mengherankan bagi banyak orang yang mendengar angka ini dari luar: ia tidak marah, tidak pernah marah, karena ia tahu ke mana uang itu pergi.
Ia melihatnya di kereta yang selalu tepat waktu, bahkan di musim dingin ketika salju turun dera. Ia melihatnya di rumah sakit yang tidak pernah menanyakan isi dompetnya ketika ia masuk dengan lutut yang sakit dua tahun lalu. Ia melihatnya di sekolah anaknya, sekolah negeri yang kualitasnya tidak kalah dari sekolah swasta manapun, karena di sini tidak ada alasan untuk membedakan keduanya.
Redistribusi di rumah Pak Dieter adalah kontrak, Bukan belas kasihan, Bukan charity. Bukan janji kampanye yang hilang setelah pemilu. Ia adalah perjanjian tertulis antara warga dan negara, aku bayar, kamu jaga yang sudah berlangsung begitu lama hingga tidak ada yang lagi mempertanyakannya.
Inflasi? Rendah, Stabil. Membosankan dalam arti yang paling menyenangkan. Mata uang? Kuat dan dapat dipercaya. Euro di dompet Pak Dieter hari ini nilainya tidak jauh berbeda dari Euro di dompetnya sepuluh tahun lalu.
Kesenjangan? Ada, tapi terkelola. Yang kaya tetap kaya, tapi yang miskin tidak jatuh terlalu dalam karena ada jarring- jaring yang nyata, yang bisa dipegang, yang tidak tiba-tiba robek ketika paling dibutuhkan.
Di atas kertas, rumah Pak Dieter adalah rumah yang paling berhasil menjawab pertanyaan itu. Siapa yang menanggung? Semua menanggung. Secara transparan, Secara proporsional, Secara beradab.
Tapi kemudian malam tiba. Dan di malam hari, ada sesuatu yang berbeda di rumah Pak Dieter. Bukan keributan, Justru sebaliknya, Sunyi. Pak Dieter duduk di kursi yang sama setiap malam. Membaca buku yang bagus. Minum teh yang tepat. Semua baik-baik saja dan itulah masalahnya. Setiap hari, tanpa pengecualian, tanpa kejutan. Tanpa momen di mana ia harus berjuang untuk sesuatu yang belum tentu berhasil.
Ia ingat percakapan dengan ayahnya, dua puluh tahun lalu, seorang lelaki yang tumbuh di era pascaperang, ketika Jerman masih dalam reruntuhan dan setiap hari adalah perjuangan sungguhan. Ayahnya bercerita tentang bagaimana rasanya membangun kembali dari nol. Tentang kebanggaan yang tidak bisa dijelaskan ketika bisa memberi makan keluarga dari tangan sendiri yang tidak menyerah meski dunia sedang runtuh.
Pak Dieter mendengarkan. Tapi ia tidak bisa merasakan.Karena ia tidak pernah mengalaminya. Ia tidak pernah harus berjuang dengan cara itu. Sistem sudah memastikan bahwa ia tidak perlu. Dan sistem itu, yang seharusnya menjadi pencapaian peradaban tanpa sadar juga mencabut sesuatu yang dalam dari dirinya.
Friedrich Nietzsche, filsuf yang lahir di tanah kelahiran pak Pak Dieter pernah menulis tentang apa yang ia sebut Der letzte Mensch, Manusia terakhir. Manusia yang telah mencapai kenyamanan tertinggi dan karena itu kehilangan kehendak untuk mencapai apapun lagi. Manusia yang berkedip, "Kami telah menemukan kebahagiaan" dan dalam berkedip itu, tanpa sadar, menyerahkan segala kedalaman hidupnya.
Nietzsche tidak sedang mengutuk kemiskinan. Ia sedang memperingatkan tentang kemapanan yang membunuh makna. Dan Pak Dieter, tanpa pernah membaca Nietzsche sekalipun mulai merasakannya.
Angka bunuh diri di Jerman tidak tinggi dibanding banyak negara. Tapi angka depresi, kecemasan eksistensial, perasaan hampa di tengah kecukupan itu cerita lain. Generasi muda Jerman yang tumbuh dalam sistem yang sempurna mulai bertanya pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh sistem yang sempurna manapun: Untuk apa semua ini?
Welfare state terbaik di dunia ternyata tidak dilengkapi dengan jawaban atas pertanyaan itu. Kemapanan ekonomi memberikan segalanya, kecuali alasan untuk bangun pagi dengan denyut yang berbeda dari kemarin
Dan ada satu hal lagi yang tidak tertulis dalam kontrak itu. Pak Dieter dengan semua keteraturannya hidup dalam masyarakat yang mulai takut pada ketidakpastian. Bukan takut dalam arti pengecut. Tapi takut dalam arti yang lebih dalam: ia tidak lagi tahu bagaimana mengelola kejutan. Bagaimana merespons krisis. Bagaimana tetap berdiri ketika tanah di bawah kaki tiba-tiba bergerak.
Ketika pandemi datang, ketika perang di tetangga timur mulai mengguncang harga energi, ketika gelombang pengungsi tiba dan mengubah wajah kota-kota yang selama ini homoge, Pak Dieter dan tetangga-tetangganya tidak hanya terkejut secara ekonomi. Mereka terkejut secara jiwa.
Sistem yang selama ini melindungi mereka dari ketidakpastian ternyata juga memperlemah otot mereka untuk menghadapinya.Dan di situlah ironi paling dalam dari rumah Pak Dieter menyatakan dirinya: Sistem yang paling berhasil melindungi manusia dari penderitaan, ternyata juga yang paling rentan melupakan bahwa penderitaan, dalam dosis yang tepat, adalah bagian dari apa artinya menjadi manusia.
Di rumah Pak Dieter, malam selalu tenang. Tapi kadang, dalam ketenangan itu, ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak ada namanya dalam kamus ekonomi manapun, sesuatu yang hanya terasa ketika kamu duduk terlalu lama dalam kenyamanan yang sempurna dan bertan ya dalam hati: Apakah ini semua yang ada?
MR. CHAD: BEBAS, TAPI TIDAK BISA BERHENTI
Rumah Mr. Chad adalah rumah yang paling berisik di gang itu. Bukan berisik dalam arti yang menyebalkan. Berisik dalam arti yang hidup, dalam arti yang membuat kamu tanpa sadar memperlambat langkah ketika melewatinya, karena selalu ada sesuatu yang terjadi di sana.
Senin pagi: suara podcast ekonomi keras-keras dari dapur sambil ia membuat kopi dengan mesin espresso yang ia beli karena ulasan di YouTube bilang itu yang terbaik di kelasnya. Rabu sore: anak sulungnya pulang dengan kabar bahwa ia baru saja mendapat pekerjaan baru, gaji naik tiga puluh persen, kota berbeda, mulai bulan depan.
Jumat malam: tetangga datang untuk barbecue di halaman belakang, bir dingin, tawa keras, percakapan yang melompat dari football ke saham teknologi ke siapa yang bulan ini paling cepat lunas kartu kredit.
Di rumah Mr. Chad, diam adalah sesuatu yang mencurigakan. Diam berarti tidak produktif. Diam berarti tertinggal, diam berarti dunia terus berputar sementara kamu berdiri di tempat dan di Amerika, berdiri di tempat bukan pilihan netral. Ia adalah pilihan untuk mundur.
Tentang pajak Mr. Chad punya pendapat yang sangat jelas. Ia tidak suka membayar pajak. Tidak sedikit pun. Bukan karena ia pelit. Bukan karena ia tidak peduli pada sesama. Tapi karena di dalam dirinya, di dalam DNA kulturalnya yang terbentuk dari ratusan tahun sejarah ada keyakinan yang mengakar sangat dalam: bahwa uang yang ia hasilkan adalah uang yang ia perjuangkan, dan tidak ada yang berhak mengambilnya lebih dari yang semestinya, termasuk negara.
Ia masih hafal kalimat yang ditulis di atas pintu masuk kantor ayahnya dulu: "The government is not the solution to our problem. The government is the problem." Reagan. 1981. Dan bagi keluarga Mr. Chad, kalimat itu bukan sekadar kutipan politi, ia adalah filosofi hidup.
Pajak penghasilan tinggi, baginya, bukan redistribusi. Itu adalah perampasan dan Ia lebih percaya pada pasar, pada kompetisi, pada meritokras, ide bahwa siapa yang terbaik, yang paling gigih, yang paling kreatif, yang paling berani mengambil risiko akan naik. Dan yang tidak, ya, itulah konsekuensi dari pilihan. Itu bukan kekejaman, itu kejujuran baginya.
Dan Amerika, dengan segala gegap gempitanya, membuktikan bahwa narasi itu tidak sepenuhnya salah. Lihat Silicon Valley lahir bukan dari subsidi negara tapi dari garasi, dari mimpi, dari keberanian. Lihat Hollywood, industri mimpi yang terjadi karena ada pasar yang lapar dan ada orang-orang gila yang mau mengisinya.
Lihat Wall Street, pusat gravitasi keuangan dunia, tempat di mana uang bergerak lebih cepat dari logika, dan kadang justru karena itu ia menciptakan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Amerika adalah peradaban yang dibangun di atas keyakinan bahwa manusia, ketika diberi kebebasan dan kompetisi, akan melampaui dirinya sendiri. Dan dalam banyak hal, mereka benar.
Anak Mr. Chad yang pindah kerja tiga kali dalam lima tahun itu bukan anomali. Ia adalah produk dari sistem yang dirancang meski tidak selalu disengaja untuk memaksa pergerakan. Ketika inflasi naik dan biaya hidup di satu kota menjadi terlalu mahal, orang pindah ke kota yang lebih murah dan lebih menjanjikan.
Ketika satu industri mati, orang berpindah ke industri yang lahir. Ketika satu perusahaan tidak membayar cukup, ada perusahaan lain yang mau karena pasar tenaga kerja yang ketat persaingan. Mobilitas, Itu kata kuncinya. American Dream bukan fiksi semata. Bagi jutaan orang yang datang dengan koper kosong dan bahasa yang patah-patah, ia terbukti nyata.
Dan inflasi (bukan pajak), ironisnya adalah salah satu mesin yang menggerakkan semua itu. Karena ketika harga naik, upah ikut bergerak. Ketika upah bergerak, pekerja punya alasan untuk berpindah ke tempat yang menawarkan lebih. Ketika pekerja berpindah, pengusaha dipaksa bersaing dan ada ruang yang terbuka bagi siapa saja yang mau masuk dan berjuang.
Mr. Chad misuh-misuh setiap pagi membaca harga telur yang naik. Tapi anaknya bisa pindah kerja tiga kali dalam lima tahun setiap kali dengan gaji yang lebih tinggi. Ia tidak sadar, bahwa yang ia kutuk di pagi hari adalah sebagian dari mesin yang membebaskan anaknya di siang hari.
Tapi malam tiba juga di rumah Mr. Chad. Dan di malam hari, ada sesuatu yang tidak bisa dimatikan di rumah itu, Notifikasi. Bukan satu atau dua. Puluhan, Ratusan. Dari aplikasi portofolio yang memberitahu pergerakan saham sejak bursa Asia dibuka. Dari berita yang tidak pernah berhenti. Mr. Chad tidak bisa benar-benar istirahat.
Bukan karena ia tidak mau. Tapi karena sistem yang membesarkannya, sistem yang ia banggakan, sistem yang ia bela dari pajak tinggi dan intervensi negara adalah sistem yang secara struktural menghukum siapa yang berhenti.
Di Amerika, diam bukan netral. Diam adalah risiko. Kalau kamu tidak menginvestasikan tabunganmu, inflasi memakannya. Kalau kamu tidak terus mengembangkan skill-mu, ada orang lain, mungkin dari kota lain, mungkin dari negara lain yang akan menggantikan posisimu.
FOMO bukan sekadar gejala generasi media sosial. Ia adalah respons rasional terhadap sistem yang tidak punya jaring pengaman yang cukup kuat. Kebangkrutan pribadi, tagihan rumah sakit yang menghancurkan, kehilangan pekerjaan tanpa pesangon yang memadai. semua itu bukan cerita langka. Mereka adalah risiko nyata yang hidup berdampingan dengan semua kemilau dan kemungkinan itu.
Maka Mr. Chad selalu waspada. Bukan karena paranoid. Tapi karena kewaspadaan, di sistem ini, adalah kebijaksanaan. Ia menyimpan tiga bulan dana darurat, dan ia memastikan anak-anaknya punya skill yang marketable, bukan karena ia tidak menghargai seni atau filsafat, tapi karena ia tahu bahwa di dunia ini, yang tidak bisa dijual kemampuannya akan sangat kesulitan.
Ia selalu punya side hustle, pekerjaan sampingan, proyek kecil, sumber penghasilan alternatif, karena satu sumber penghasilan terasa terlalu rentan untuk dunia yang bergerak secepat ini. Kompetisi adalah nafasnya. Tapi nafas yang terlalu cepat, terlalu dalam, terlalu lama pada akhirnya juga melelahkan paru-paru.
Ada cerita yang Mr. Chad tidak sering ceritakan di barbecue. Ia punya teman lama, Dave Namanya, yang dulu kerja di pabrik baja di Ohio. Pabrik itu tutup ketika mereka berusia tiga puluh lima. Otomatisasi, Globalisasi, semua kata-kata besar yang terasa abstrak sampai tiba-tiba sangat konkret dalam bentuk surat pemutusan kerja.
Dave mencoba beradaptasi. Ikut pelatihan, Pindah kota, Mencoba memulai bisnis kecil yang tidak berhasil. Dan sekarang, di usia lima puluh, ia bekerja di gudang distribusi dengan gaji yang lebih rendah dari yang ia terima dua puluh tahun lalu secara real, setelah inflasi diperhitungkan. American Dream bekerja untuk Mr. Chad. Untuk Dave, ia terasa seperti janji yang tidak ditepati.
Dan inilah yang tidak pernah benar-benar diselesaikan oleh sistem Mr. Chad: mobilitas yang tinggi itu tidak merata. Inflasi yang melumasi perpindahan itu tidak melumasi semua orang dengan cara yang sama. Yang punya modal uang, pendidikan, jaringan, privilege yang tidak selalu diakui bergerak ke atas. Yang tidak punya modal yang cukup, kadang hanya bergerak ke samping. Atau ke bawah.
Redistribusi via inflasi itu nyata, tapi ia messy, tidak adil. Tidak bisa dikontrol. Ia memberikan lebih kepada yang sudah punya lebih, karena mereka punya aset yang nilainya ikut naik dan memberikan lebih sedikit kepada yang hanya punya tenaga dan waktu.
Pajak yang Mr. Chad benci itu, ironinya, mungkin bisa menambal lubang yang ditinggalkan oleh inflasi yang ia terima sebagai konsekuensi tak terelakkan dari kebebasan. Tapi untuk mengakui itu untuk mengatakan bahwa negara mungkin perlu hadir lebih terasa seperti mengkhianati sesuatu yang sangat fundamental dalam dirinya.
Maka ia tetap waspada, tetap kompetitif, yetap berlari. Karena berhenti, di dalam sistem ini, terasa seperti kalah. Dan di sinilah ironi paling dalam dari rumah Mr. Chad menyatakan dirinya.Ia membangun hidupnya di atas kebebasan. Kebebasan dari negara yang terlalu besar, kebebasan dari pajak yang terlalu tinggi dan kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dan kebebasan itu nyata. Ia bisa menciumnya, menyentuhnya, membuktikannya dengan karier anaknya yang terus menanjak. Bagi yang lain, bagi Dave, bagi jutaan Dave di seluruh penjuru Amerika, kebebasan itu terasa seperti sayap yang diberikan tanpa pelajaran terbang.
Di rumah Mr. Chad, lampu tidak pernah benar-benar mati. Selalu ada sesuatu yang menyala, layar, notifikasi, alarm, rencana untuk besok dan lusa dan tahun depan. Hidup di sini adalah hidup yang penuh dan keras, berwarna dan tidak pernah membosankan.
Tapi kadang, di antara semua kebisingan itu, Mr. Chad duduk sebentar di teras belakang, setelah barbecue selesai, setelah semua tamu pulang, setelah anak-anak tidur dan menatap langit yang gelap.
Ia memikirkan Dave. Ia memikirkan apakah semua ini, semua kompetisi, semua kewaspadaan, semua kecepatan apakah ini cara hidup yang bisa bertahan selamanya.
"Aku ingin berhenti sebentar. Bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku manusia. Dan manusia butuh lebih dari sekadar menang", katanya. Tapi besok pagi, alarm berbunyi. Dan Mr. Chad, seperti biasa, bangun lebih awal dari semua orang di gang itu. Karena begitulah cara ia tahu dirinya masih hidup.
PAK BUDI: BANGGA, DILAMUR, DAN TETAP BERSYUKUR
Rumah Pak Budi adalah rumah yang paling sulit dijelaskan kepada orang asing. Bukan karena ia berantakan. Bukan karena ia miskin. Tapi karena ia adalah rumah yang penuh dengan hal-hal yang tidak seharusnya bisa berdampingan, tapi entah bagaimana, berdampingan juga.
Di ruang tamu ada sofa plastik yang dilapisi kain batik. Di dinding ada kalender dari bank yang sudah lewat dua tahun tapi tidak dibuang karena gambarnya bagus. Di meja makan ada nasi yang selalu lebih dari cukup, karena di rumah ini, tamu yang datang selalu diberi makan, dan itu bukan pilihan, itu kewajiban tak tertulis.
Di halaman belakang ada tanaman cabai yang ditanam bukan karena Pak Budi petani, tapi karena harga cabai naik lagi dan ia sudah cukup kreatif untuk tidak selalu mengeluh pada pasar.
Pak Budi bekerja keras. Sejak kecil ia diajarkan bahwa rezeki harus dijemput, bukan ditunggu dan ia percaya itu dengan sepenuh hati. Ia bangun sebelum subuh, berangkat sebelum macet, pulang setelah langit gelap, dan melakukan itu semua bukan karena ia tidak punya pilihan, tapi karena ia percaya bahwa kerja keras adalah bentuk doa yang paling jujur
Tentang pajak, Pak Budi punya hubungan yang rumit. Ia membayar pajak. Tapi tidak selalu dengan senang hati. Dan tidak selalu dengan lengkap. Bukan karena ia kriminal. Bukan karena ia tidak cinta negara.
Tapi karena di suatu titik dalam hidupnya, mungkin ketika ia melihat jalan yang tetap berlubang selama tiga tahun, ia membaca berita tentang pejabat yang tertangkap dengan uang cash dalam koper, dan ia antri berjam-jam di kantor pelayanan publik hanya untuk selembar dokumen. Ia mengambil keputusan diam-diam yang jutaan orang ambil tanpa berkoordinasi: Kalau uangnya tidak kembali, kenapa harus diberikan penuh?
Dan di warung kopi, di grup WhatsApp keluarga, di obrolan setelah Jumat-an, keputusan itu tidak terasa seperti penggelapan. Ia terasa seperti kecerdasan. Seperti cara bertahan dalam sistem yang tidak selalu adil. Seperti kemenangan kecil atas birokrasi yang besar dan lamban.
"Gue berhasil ngurangin pajaknya, bro." Kalimat itu diucapkan dengan senyum, dengan bangga. Dengan nada orang yang baru saja mengalahkan sesuatu. Dan tidak ada yang menyanggah. Karena semua orang di meja itu, diam-diam, melakukan hal yang sama.
Tapi rupiah mendengarkan semuanya. Rupiah tidak pernah marah secara terbuka. Ia tidak mengirim surat peringatan. Tidak ada sidang. Tidak ada hukuman yang tercatat dalam berita. Rupiah hanya melemah. Pelan-pelan. Setiap tahun. Dengan konsistensi yang hampir terasa seperti kesabaran.
Dari sepuluh ribu ke tiga belas ribu. Dari tiga belas ribu ke enam belas ribu. Dari enam belas ribu mendekati tujuh belas ribu. Setiap perjalanan itu membawa cerita yang sama: harga barang naik, bukan karena tiba-tiba semua orang rakus, tapi karena mata uang yang menopang harga itu semakin ringan bebannya.
Uang yang berhasil "diselamatkan" dari pajak yang disimpan di rekening, yang ditumpuk di deposito dengan bunga yang hampir tidak mengalahkan inflasi, yang dibanggakan sebagai kemenangan kecil, pelan-pelan dilamur. Bukan oleh negara, bukan oleh pajak. Tapi oleh waktu dan oleh rupiah yang tidak bisa terus berpura-pura kuat sendirian. Ironi itu datang diam-diam, seperti air yang masuk lewat retakan kecil di dinding rumah.
Pajak yang berhasil dihindari itu, pada akhirnya, tetap dibayar. Hanya dengan nama yang berbeda. Dengan cara yang lebih tidak adil. Dan tanpa kuitansi yang bisa ditunjukkan kepada siapapun.
Tapi kemudian, sesuatu yang tidak ada dalam buku teks manapun terjadi. Rezeki yang tidak disangka-sangka. Pak Budi punya saudara yang bekerja di luar negeri, mengirim dolar setiap bulan. Dulu, ketika rupiah masih empat belas ribu per dolar, kiriman itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga yang ditinggal. Sekarang, ketika rupiah mendekati tujuh belas ribu kiriman yang nominalnya sama dalam dolar tiba-tiba terasa lebih besar dalam rupiah. Lebih dari cukup. Bahkan bisa ditabung.
Pak Budi juga punya tanah warisan di pinggir kota, tanah yang dulu dibeli kakeknya dengan harga yang sekarang terasa seperti lelucon. Tanah itu tidak dikerjakan, tidak produktif, hanya ada. Tapi setiap tahun, ketika rupiah melemah dan harga properti dalam rupiah ikut menyesuaikan, nilai tanah itu dalam rupiah terus naik. Tanpa usaha, tanpa keringat, tanpa rencana.
Ada tetangganya yang punya usaha ekspor kerajinan tangan kecil-kecilan, anyaman, batik, produk lokal yang dijual ke pembeli asing. Ketika rupiah melemah, produknya tiba-tiba laku keras di luar negeri. Pesanan naik, Pendapatan naik. Ia tidak mengubah apapun, hanya rupiah yang berubah, tapi hidupnya berubah juga karenanya.
Dan petani kopi di Flores yang tidak pernah sekalipun mendengar kata exchange rate dalam hidupnya, ia hanya tahu bahwa tahun ini harga kopinya dibeli lebih tinggi oleh eksportir, dan dengan uang itu ia bisa memperbaiki atap rumahnya yang bocor sejak dua musim lalu. Namun, buruh di pinggiran Jakarta semakin semakin tercekat hidupnya, dan kelas menengah pun misuh-misuh. Redistribusi terjadi dengan cara yang tak terkatakan.
Depresiasi rupiah, dengan segala permasalahannya, ternyata juga membawa pintu-pintu yang tiba-tiba terbuka di tempat yang tidak pernah direncanakan. Bukan keadilan, dan jauh dari sempurna.
Tapi itulah cara rezeki bekerja di rumah Pak Budi, ia tidak selalu datang dari arah yang kamu siapkan. Kadang ia datang dari arah yang kamu tidak pernah duga. Dari kelemahan yang ternyata menjadi kekuatan. Dari kekacauan yang ternyata tetiba jadi berkah.
"Rezeki itu ajaib," kata Pak Budi kepada anaknya suatu malam. "Jangan dikira kamu yang mengaturnya. Kamu hanya perlu jalan terus, sisanya bukan urusanmu."
Dan di sinilah sesuatu yang tidak dimiliki Pak Dieter maupun Mr. Chad, sesuatu yang tidak bisa diprediksi dan dimodelkan. Ia punya keikhlasan yang lahir dari pengalaman bahwa hidup tidak pernah bisa sepenuhnya dikontrol.
Pak Dieter mengontrol segalanya, jadwal, pajak, pensiun, taman depan rumah. Ketika sesuatu di luar kontrol terjadi, ia goyah. Mr. Chad mengontrol dengan cara lain, portofolio, skill, side hustle, kewaspadaan yang tidak pernah tidur. Ketika sesuatu di luar kontrol terjadi, ia berlari lebih cepat, bekerja lebih keras, karena berhenti terasa seperti menyerah.
Tapi Pak Budi sudah lama tahu bahwa tidak semua hal bisa dikontrol. Dan bukan karena ia pasrah. Bukan karena ia menyerah. Tapi karena ia sudah cukup lama hidup di sistem yang tidak selalu adil, di tengah ketidakpastian yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Masih di sini, masih memasak, masih menyambut tamu. Masih menanam cabai di halaman belakang. Ada sesuatu yang dalam bahasa ekonomi tidak ada Namanya, tapi dalam bahasa yang lebih tua, yang lebih dalam, yang lebih jujur, ia disebut dengan satu kata: Syukur.
Bukan syukur yang naif. Bukan syukur yang menutup mata pada ketidakadilan. Bukan syukur yang menyuruh orang diam ketika sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi syukur yang lahir dari kesadaran bahwa di antara semua kekacauan itu, di antara pajak yang bocor, rupiah yang melemah, depresiasi yang tidak pernah meminta izin masih ada meja makan yang penuh, masih ada anak yang sehat.
- Dua kata yang tidak ada padanannya dalam bahasa Jerman maupun bahasa Inggris. Dua kata yang bukan sekadar ungkapan terima kasih kepada Tuhan, tapi pengakuan bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari semua sistem ekonomi yang pernah dirancang manusia. Bahwa ada pengatur yang lebih teliti dari bank sentral mana pun. Bahwa rezeki dalam arti yang paling luas, yang paling manusiawi, tidak pernah bisa sepenuhnya dimodelkan, diprediksi, atau dikontrol. Dan justru karena itu, ia selalu bisa mengejutkan.
Di malam hari, rumah Pak Budi selalu ada suaranya. Bukan notifikasi seperti di rumah Mr. Chad. Bukan kesunyian seperti di rumah Pak Dieter.Tapi suara yang lebih tua dari semua itu.
Suara adzan dari masjid di ujung gang yang mengalun tepat ketika langit mulai gelap. Suara anak-anak yang belum mau tidur. Suara ibu yang memanggil dari dapur. Suara televisi yang tidak ada yang benar-benar menonton tapi tidak ada yang mematikan karena kehadirannya saja sudah menghangatkan ruangan.
Pak Budi duduk di teras, minum teh manis yang terlalu manis. Ia melihat ke langit. Ia tidak memikirkan rupiah malam ini, ia tidak memikirkan pajak, ia tidak memikirkan depresiasi atau redistribusi maupun kontrak sosial. Ia memikirkan bahwa besok anaknya ada ujian. Bahwa minggu depan ada pernikahan keponakan di kampung, dan bahwa bulan depan ia harus mengganti ban motornya yang mulai botak.
Hal-hal kecil, Hal-hal konkret. Hal-hal yang terasa sangat jauh dari semua teori ekonomi yang pernah ditulis di jurnal manapun. Tapi justru dalam hal-hal kecil itulah, dalam teh manis yang terlalu manis, dalam suara adzan yang datang tepat waktu, dalam ban motor yang harus diganti bulan depan hidup menemukan beratnya yang sesungguhnya.
Bukan di grafik. Bukan di angka. Bukan di persamaan dan model. Pada akhirnya, ekonomi adalah tentang orang-orang seperti Pak Budi yang duduk di teras dan minum teh dan berserah. "Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang Engkau berikan. Dan berkahilah apa yang Engkau berikan itu."
Doa yang sederhana, Doa yang tidak meminta lebih dari yang dibutuhkan, Doa yang mengakui bahwa ada batas dari apa yang bisa dikontrol manusia, dan dalam pengakuan itu, ada ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh sistem mana pun.
Pak Budi menutup matanya sebentar. Di luar, gang itu sunyi. Tiga rumah, Tiga lampu, Tiga cara menanggung. Dan malam yang sama menaungi semuanya, tanpa memihak, tanpa menghakimi, tanpa meminta penjelasan tentang pajak atau inflasi atau depresiasi dari siapapun yang tinggal di bawahnya.
DI GANG YANG SAMA, DI BAWAH LANGIT YANG SAMA, malam sudah larut . Pak Dieter sudah mematikan lampu baca jam sepuluh tepat, seperti biasa. Mr. Chad masih menatap layar, tapi matanya sudah tidak benar-benar membaca. Pak Budi masih di teras, teh manisnya sudah dingin, tapi ia tidak beranjak.Tiga rumah, tiga lampu yang pelan-pelan meredup.
Kita sudah mengetuk tiga pintu malam ini. Di rumah pertama, kita menemukan sistem yang paling rapi, dan di balik kerapiannya, kita menemukan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh efisiensi apapun. Pak Dieter sudah menjawab pertanyaan siapa yang menanggung dengan cara yang paling jujur, paling transparan, paling beradab. Pajak yang tinggi, welfare state yang solid, inflasi yang rendah, redistribusi yang berjalan.
Tapi Nietzsche, yang tidak pernah diundang ke meja makan Pak Dieter selalu duduk di sudut ruangan. Berbisik tentang manusia yang telah mencapai segalanya dan karena itu kehilangan alasan untuk mencapai apapun lagi. Tentang kehidupan yang terlalu aman untuk mengajarkan apa artinya berjuang.
Pak Dieter bahagia. Tapi kadang ia lupa bagaimana rasanya lapar, bukan lapar perut, tapi lapar jiwa. Lapar akan sesuatu yang belum tentu berhasil. Lapar akan perjuangan yang tidak ada jaminannya. Dan itu, ternyata, adalah harga dari sistem yang terlalu sempurna.
Di rumah kedua, kita menemukan kebebasan yang paling keras dan paling berwarna yang pernah ada, dan di balik kebisingannya, kita menemukan kelelahan yang tidak berani mengakui dirinya sendiri. Mr. Chad sudah menjawab pertanyaan itu dengan cara yang paling Amerika: biarkan pasar yang memutuskan, biarkan kompetisi yang menyaring, biarkan inflasi yang menggerakkan dan dari semua pergerakan itu, mobilitas lahir, kemungkinan terbuka, mimpi tetap hidup, Tapi pasar tidak pernah tidur.
Mr. Chad bebas. Tapi kebebasannya adalah kebebasan yang harus terus diperjuangkan setiap hari, karena sistem ini tidak menyimpan cadangan kebaikan untuk hari-hari ketika kamu tidak cukup kuat. Dave tahu itu, Jutaan Dave tahu itu.
Dan kebebasan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tidak pernah jatuh terlalu jauh, apakah itu benar-benar kebebasan? Atau hanya kebebasan bagi mereka yang sudah cukup beruntung untuk tidak perlu mengujinya? Itu pertanyaan yang terus berdenyut di dada Mr. Chad setiap kali ia duduk di teras setelah semua tamu pulang.
Di rumah ketiga, kita menemukan sesuatu yang paling sulit dijelaskan tapi paling mudah dirasakan, ironi yang berlapis, kekacauan yang penuh berkah tersembunyi, dan di ujungnya, sebuah kedamaian yang tidak lahir dari sistem tapi dari sesuatu yang jauh lebih tua dari sistem apapun.
Pak Budi tidak menjawab pertanyaan siapa yang menanggung dengan cara yang rapi. Jawabannya berlubang-lubang, pajaknya bocor, rupiah menanggung sendirian. Redistribusinya terjadi tapi ke arah yang sering salah. Dan ia bangga pada hal yang, kalau ditelusuri sampai ke ujungnya, justru merugikan diri sendiri.
Tapi di antara semua kekacauan itu, di antara depresiasi yang menggerogoti dan pajak yang tak jarang kembali dalam bentuk yang semestinya, ada pintu-pintu yang tiba-tiba terbuka. Kiriman dolar yang tiba-tiba lebih berharga, tanah warisan yang nilainya naik tanpa diminta serta petani kopi yang atap rumahnya akhirnya bisa diperbaiki. Rezeki yang datang dari arah yang tidak pernah direncanakan oleh model ekonomi mana pun.
Dan Pak Budi dengan teh manisnya yang sudah dingin, dengan doa yang sederhana, dengan berserah yang bukan kelemahan tapi kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang menemukan sesuatu yang tidak ada di rumah Pak Dieter maupun di rumah Mr. Chad: Ketenangan yang tidak bergantung pada apakah sistem sedang berjalan baik atau tidak.
Lalu pertanyaan itu datang lagi. Sistem mana yang benar? Pajak yang tinggi dan redistribusi yang transparan seperti Pak Dieter? Inflasi yang melumasi mobilitas dan kebebasan seperti Mr. Chad? Atau depresiasi yang menanggung sendirian sambil menyimpan berkah tersembunyi seperti Pak Budi?
Dan jawabannya setelah semua cerita ini, setelah semua kebanggaan dan kekosongan, kecemasan dan Syukur adalah: tidak ada yang sepenuhnya salah ataupun benar.
Pak Dieter benar bahwa kontrak sosial yang jujur adalah fondasi peradaban yang tidak tergantikan. Mr. Chad benar bahwa kebebasan dan kompetisi menggerakkan sesuatu dalam diri manusia yang tidak bisa digerakkan oleh sistem apapun. Pak Budi benar bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari semua sistem yang pernah dirancang manusia bahwa rezeki bergerak dengan cara yang tidak selalu bisa diprediksi, bahwa syukur bukan kelemahan tapi ketangguhan.
Tapi Pak Budi juga harus jujur: bahwa keikhlasan tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menuntut sistem yang lebih baik, bahwa syukur yang sejati juga mencakup kerja keras untuk mengubah apa yang bisa diubah. Dan di sinilah, di titik di mana tidak ada yang benar dan tidak ada yang sepenuhnya salah, kemanusiaan menang. Bukan karena manusia menemukan sistem yang sempurna.
Ia ada di dalam ketidaksempurnaan yang terus diperjuangkan. Di dalam pertanyaan yang tidak berhenti diajukan. Di dalam kepedulian yang tidak padam meski sistem sering mengecewakan. Di dalam doa yang dipanjatkan bukan karena semua baik-baik saja.
Sebelum tidur, sesuatu yang aneh terjadi di gang itu. Pak Dieter membuka jendela kamarnya, sesuatu yang jarang ia lakukan karena sistem ventilasi rumahnya sudah diatur otomatis. Ia menghirup udara malam. Dingin, tidak terencana. Tidak efisien, Tapi untuk sesaat, ia merasa hidup dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Mr. Chad meletakkan ponselnya menghadap bawah. Pertama kali dalam berbulan-bulan ia tidak tahu apa yang terjadi di bursa Asia malam ini. Dan alih-alih cemas, ia mendengar suara jangkrik di halaman belakang yang tidak pernah ia sadari selama ini.
Pak Budi memandang langit. Bintang-bintang yang sama yang dilihat kakeknya dulu. Yang dilihat anaknya nanti. Yang tidak peduli pada kurs rupiah atau defiait fiskal atau apapun yang membuat kepala ekonom-ekonom besar di seluruh dunia pusing malam ini. Bintang yang hanya ada, seperti selalu.
Pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang mencari efisiensi. Ia adalah makhluk yang mencari makna. Yang mencari koneksi. Yang mencari sesuatu untuk dipercayai, entah itu kontrak sosial, entah itu pasar bebas, entah itu Tuhan yang Maha Mengatur rezeki dengan cara yang melampaui semua model dan semua prediksi.
Dan selama masih ada Pak Dieter yang membuka jendela, Mr. Chad yang meletakkan ponselnya, Pak Budi yang menatap bintang dan berbisik alhamdulillah, maka ekonomi akan hidup.
Ia tentang manusia yang mencoba, dengan segala keterbatasannya, untuk hidup bersama dengan cara yang lebih baik dari kemarin.
Selamat beristirahat, Pak Dieter, Semoga besok kamu menemukan sesuatu yang membuat harimu terasa berbeda. Selamat beristirahat, Mr. Chad, Semoga besok kamu bisa duduk sebentar lebih lama di teras sebelum alarm berbunyi.
Selamat beristirahat, Pak Budi, Semoga teh manismu selalu ada. Semoga cabai di halaman belakangmu tumbuh lebat. Dan semoga rezeki yang tidak disangka-sangka itu, yang datang dari arah yang tidak pernah kamu rencanakan, terus datang, seperti selalu, seperti janji yang tidak pernah ingkar.
Di gang itu, lampu terakhir akhirnya mati. Tapi bintang-bintang tetap menyala.
(miq/miq) Add
source on Google