Berkah Ramadhan dan Dilema Sampah: Mengelola Konsumsi di Bulan Suci

Rahmad Prasetyo,  CNBC Indonesia
15 March 2026 05:07
Rahmad Prasetyo
Rahmad Prasetyo
Rahmad Prasetyo merupakan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang saat ini menjalankan tugas sebagai Pemeriksa Pajak. Dalam pelaksanaan tugasnya, penulis memiliki fokus pada kegiatan pemeriksaan perpajakan sebagai ba.. Selengkapnya
Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (14/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, di Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Ramadhan selalu membawa atmosfer yang unik tidak hanya di Indonesia tapi juga bagi semua umat muslim di dunia. Di satu sisi, ia adalah bulan peningkatan spiritualitas dan upaya untuk menjaga kesederhanaan. Namun di sisi lain, data ekonomi secara konsisten menunjukkan adanya lonjakan drastis pada belanja konsumsi rumah tangga.

Fenomena ini menciptakan paradoks: bulan yang seharusnya melatih menahan diri justru sering kali berujung pada pola konsumsi yang tidak terkontrol dan diakhiri dengan tumpukan limbah yang lebih besar dari bulan-bulan biasanya.

Menurut data NielsenIQ (NIQ), pengeluaran rumah tangga di Indonesia selama Ramadhan 2024 mencapai 1,2 kali lebih tinggi (meningkat sekitar 20%) dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Ekonom memproyeksikan periode Ramadhan dan Idul Fitri menyumbang sekitar 0,25% hingga 0,3% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tahunan karena masifnya perputaran uang.

Bank Indonesia (BI) secara rutin meningkatkan ketersediaan uang layak edar. Sebagai contoh, untuk periode Ramadhan dan Lebaran 2025 saja, BI menyiapkan hingga Rp 190 triliun untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat.

Fenomena Lonjakan Konsumsi di Bulan Ramadhan
Peningkatan belanja selama Ramadhan dipicu oleh beberapa faktor budaya dan sosial yang kuat:

1. Budaya Buka Bersama (Bukber): Tradisi ini mendorong pembelian makanan dalam jumlah besar, sering kali melebihi kapasitas perut karena lapar mata. Padahal, kapasitas perut pada saat berbuka berpuasa tidak bisa secara otomatis mencerna makanan dalam jumlah banyak, dan cenderung lebih cepat kenyang hanya dengan sedikit makanan. Hal ini membuat jumlah makanan yang sudah dipesan tidak habis dikonsumsi, dan akhirnya terbuang secara mubazir.

2. Stok Pangan Berlebihan: Rasa khawatir akan kenaikan harga menjelang Lebaran membuat banyak rumah tangga melakukan panic buying atau menyetok bahan makanan secara berlebih. Data Survei Konsumen BI menunjukkan adanya penurunan rasio tabungan terhadap pendapatan (dari 14,7% ke 13,8%) selama bulan suci. Ini membuktikan bahwa banyak rumah tangga menggunakan dana cadangan untuk menutupi lonjakan biaya konsumsi.

3. Tren Belanja Online: Kemudahan memesan makanan dan barang lewat aplikasi meningkatkan volume pengemasan (plastik dan kardus). Belanja melalui e-commerce selama Ramadhan meningkat hingga 30%. Menariknya, aktivitas belanja online selama Ramadhan kini lebih tinggi daripada momen Harbolnas (12.12).

Dampak Nyata: Gunungan Sampah Rumah Tangga
Kenaikan konsumsi ini berbanding lurus dengan volume sampah. Menurut data dari berbagai dinas lingkungan hidup di kota-kota besar, volume sampah dapat meningkat 10% hingga 20% selama Ramadhan. Jenis sampah yang mendominasi meliputi:

1. Limbah Sisa Makanan (Food Waste): Takjil yang tidak habis dimakan atau masakan sahur yang terbuang karena basi.

2. Sampah Plastik Sekali Pakai: Wadah plastik dari jajanan buka puasa, kantong plastik belanjaan, dan botol minuman kemasan.

3. Sampah Logistik: Kardus dan plastik bubble wrap dari paket belanjaan persiapan Idul Fitri.

Alternatif Solusi: Menuju Ramadhan Minim Sampah
Mengurangi jejak sampah di bulan Ramadhan bukan berarti menghilangkan sukacita ibadah, melainkan melakukannya dengan lebih bertanggung jawab. Berikut adalah beberapa solusi praktis:

1. Belanja dengan Perencanaan (Meal Prep)
Buatlah daftar menu mingguan untuk sahur dan buka puasa. Dengan perencanaan yang matang, Anda hanya akan membeli bahan yang benar-benar dibutuhkan, sehingga meminimalisir risiko bahan makanan membusuk di kulkas.

2. Konsep "Ambil Secukupnya"
Saat berbuka, mulailah dengan porsi kecil. Rasulullah SAW mengajarkan kesederhanaan dalam makan. Menghabiskan apa yang ada di piring adalah cara paling efektif menekan angka food waste.

Mulailah dengan porsi kecil (small) dan makan secara perlahan (slow). Otak butuh waktu sekitar 20 menit untuk mengirim sinyal kenyang. Anda akan berhenti makan sebelum kekenyangan, sehingga tidak ada sisa makanan di piring yang berakhir di tempat sampah.

3. Membawa Wadah Sendiri saat Berburu Takjil
Daripada menerima kantong plastik dan styrofoam baru setiap hari, bawalah tas belanja kain atau wadah makanan sendiri dari rumah saat mencari takjil di pasar Ramadhan. Kebiasaan baik ini dapat menghindari rata-rata 4-5 plastik per hari (plastik pembungkus, plastik tenteng, dan sedotan). Jika hal ini kita lakukan setiap maka, maka kebiasaan ini sudah menyelamatkan sekitar 150 lembar plastik selama sebulan.

4. Pengelolaan Sampah Organik (Kompos)
Jika masih ada sisa makanan yang tidak terhindarkan (seperti kulit buah atau sisa sayur), siapkan satu ember tertutup untuk sampah organik. Di akhir Ramadhan, Anda akan memiliki pupuk cair atau kompos padat untuk tanaman di rumah alih-alih mengirim gas metana ke TPA. jangan langsung dibuang ke TPA. Gunakan komposter sederhana di rumah untuk mengubahnya menjadi pupuk tanaman.

Kesimpulan
Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk melakukan detoksifikasi, baik secara spiritual maupun lingkungan. Dengan menata ulang pola konsumsi, kita tidak hanya menjaga kesucian bulan ini tetapi juga menjaga keberlangsungan bumi dengan menyelamatkan lingkungan dari 15-20 kg sampah tambahan.

Penghematan konsumsi bukan berarti kikir, melainkan bentuk syukur atas rezeki yang diberikan tanpa harus menyisakan beban bagi lingkungan. Anda juga bisa mengalokasikan penghematan dana konsumsi yang berhasil anda sisihkan untuk zakat atau sedekah yang lebih produktif di bulan Ramadhan.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google