Menata Arah di Tengah Badai Ketidakpastian Global

Setiawan Budi Utomo,  CNBC Indonesia
13 February 2026 14:17
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo merupakan pemerhati keuangan dan kebijakan ekonomi. Ia juga menjadi dosen tamu untuk program Pascasarjana di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS)... Selengkapnya
Suasana gedung bertingkat tertutup kabut polusi usai hujan di Jakarta, Kamis (16/6/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Suasana gedung bertingkat tertutup kabut polusi usai hujan di Jakarta, beberapa waktu lalu. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Menata Arah Sejak Awal Tahun
Memasuki kuartal pertama tahun ini, dunia tidak benar-benar memulai dari garis awal. Beban ketidakpastian dari tahun-tahun sebelumnya masih terasa kuat, bahkan cenderung menebal.

Biasanya, awal tahun menjadi momentum menata harapan: pasar keuangan menyusun ekspektasi baru, dunia usaha merancang ekspansi, dan pemerintah memantapkan arah kebijakan. Namun kali ini, sinyal yang muncul justru sebaliknya. Sejak Januari, volatilitas pasar meningkat, proyeksi pertumbuhan global direvisi ke bawah, suku bunga bertahan tinggi lebih lama, sementara ketegangan geopolitik dan risiko iklim terus membayangi.

Kuartal pertama tahun ini seolah berfungsi sebagai early warning system. Ia mengirim pesan tegas bahwa ketidakpastian global bukan lagi isu yang akan datang, melainkan realitas yang sudah hadir sejak langkah awal tahun berjalan. Dunia memasuki tahun baru dengan pekerjaan rumah lama yang belum sepenuhnya selesai, sekaligus menghadapi tantangan baru yang lebih kompleks dan saling terkait.

Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukanlah kepanikan, tetapi kejernihan berpikir. Dunia perlu menata arah menentukan prioritas, memperkuat fondasi, dan memastikan bahwa setiap langkah kebijakan tidak sekadar reaktif, melainkan berjangka panjang. Ketidakpastian tidak boleh dilihat semata sebagai ancaman, melainkan sebagai konteks yang harus dihadapi dengan kebijakan yang adaptif dan berimbang.

Dunia dalam Fase "Polycrisis"
Ketidakpastian global hari ini tidak berdiri sendiri, melainkan hadir dalam bentuk polycrisis, yakni krisis yang saling bertaut dan memperkuat satu sama lain. Pandemi Covid-19 telah meninggalkan luka struktural pada rantai pasok, pasar tenaga kerja, dan kesehatan fiskal banyak negara. Belum sepenuhnya pulih, dunia kembali dihadapkan pada konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan, krisis iklim, serta normalisasi kebijakan moneter global yang ketat.

Dana Moneter Internasional (IMF, 2024) menyebut periode ini sebagai era high uncertainty, low growth. Pertumbuhan ekonomi global cenderung melambat, volatilitas pasar meningkat, dan risiko sistemik lintas negara semakin kompleks. Ketidakpastian tidak lagi bersifat temporer atau siklikal, tetapi struktural yang melekat pada cara ekonomi global berfungsi hari ini.

Bank Dunia (2023) mencatat total utang global telah menembus sekitar US% 300 triliun, dengan porsi signifikan berada di negara berkembang dan berpendapatan menengah. Beban utang yang tinggi membatasi ruang fiskal, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap guncangan eksternal, terutama di tengah suku bunga global yang masih tinggi.

Risiko Iklim dan Geopolitik sebagai Pengganda Ketidakpastian
Perubahan iklim telah bertransformasi dari isu lingkungan menjadi isu ekonomi dan keuangan. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2022) menegaskan bahwa tanpa mitigasi serius, perubahan iklim berpotensi menurunkan produk domestik bruto global secara signifikan melalui kerusakan infrastruktur, gangguan produksi pangan, dan meningkatnya konflik sosial akibat kelangkaan sumber daya.

Di sisi lain, fragmentasi geopolitik dan geoekonomi kian memperlemah tatanan global pasca-Perang Dunia II. Persaingan strategis Amerika Serikat dan China, konflik Rusia-Ukraina, serta ketegangan di Timur Tengah telah mendorong kecenderungan proteksionisme, friend-shoring, dan pelemahan sistem perdagangan multilateral. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO, 2023) mencatat perlambatan perdagangan global yang dipicu meningkatnya hambatan non-tarif dan ketidakpastian kebijakan.

Kombinasi risiko iklim, geopolitik, dan keuangan ini menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi investasi jangka panjang, sekaligus meningkatkan kecenderungan dunia usaha untuk bersikap wait and see.

Belajar dari Sejarah: Ketidakpastian sebagai Pola Berulang
Sejarah ekonomi global menunjukkan bahwa ketidakpastian bukanlah anomali. Ray Dalio (2021) pendiri Hedge Fund Bridge Water dan penasehat Danantara dalam Principles for Dealing with the Changing World Order menjelaskan bahwa setiap periode peralihan kekuatan ekonomi global hampir selalu diiringi krisis utang, konflik geopolitik, dan disrupsi teknologi.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa bangsa-bangsa yang mampu memperkuat kualitas manusia, institusi, dan inovasi justru keluar dari krisis dengan fondasi yang lebih kokoh. Pandangan ini sejalan dengan teori ekonomi kelembagaan (institutional economics) yang dikemukakan Douglass North (1990), bahwa kualitas institusi berupa aturan formal dan informal menentukan kemampuan suatu negara dalam merespons guncangan dan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan.

Indonesia di Tengah Arus Ketidakpastian Global
Bagi Indonesia, badai ketidakpastian global bukan sekadar tantangan eksternal, melainkan ujian atas ketahanan nasional. Sebagai negara dengan perekonomian terbuka dan populasi besar, Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap gejolak global. Namun pengalaman melewati berbagai krisis mulai dari krisis Asia hingga pandemi menunjukkan bahwa fondasi makroekonomi yang relatif terjaga memberikan ruang untuk bernapas.

Disiplin fiskal, pengelolaan utang yang hati-hati, serta reformasi struktural yang terus berjalan menjadi modal penting. Namun stabilitas tidak boleh dipahami sebagai tujuan akhir. Di tengah ketidakpastian global, stabilitas justru harus menjadi landasan untuk melangkah lebih jauh.

Indonesia menghadapi momentum penting untuk memperkuat kualitas pertumbuhan. Hilirisasi bernilai tambah, percepatan transformasi hijau dan digital, serta perluasan inklusi ekonomi dan keuangan bukan sekadar agenda pembangunan, melainkan kebutuhan strategis. Ketidakpastian global justru menegaskan urgensi untuk menata arah pembangunan secara lebih berani dan terukur.

Ketahanan yang Bersifat Transformatif
Dalam konteks ketidakpastian global, ketahanan (resilience) tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan bertahan. Ketahanan harus bersifat transformatif yang menjadikan krisis sebagai momentum perbaikan struktural.

Pertama, ketahanan sumber daya manusia. Pendidikan dan peningkatan keterampilan menjadi fondasi utama. UNESCO (2022) menegaskan bahwa negara dengan kualitas pendidikan yang baik lebih cepat pulih pasca-krisis dan lebih adaptif terhadap perubahan teknologi.

Kedua, ketahanan ekonomi dan keuangan. Diversifikasi struktur ekonomi, pendalaman pasar keuangan, serta sistem keuangan yang sehat dan inklusif menjadi prasyarat penting. Krisis global berulang kali menunjukkan bahwa sistem keuangan yang rapuh memperbesar dampak guncangan eksternal.

Ketiga, ketahanan kebijakan publik. OECD (2023) menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang kredibel, adaptif, dan bersifat countercyclical agar negara memiliki ruang manuver saat krisis.

Keempat, ketahanan terhadap risiko iklim dan teknologi. Transisi menuju ekonomi hijau dan digital bukan pilihan, melainkan keniscayaan. McKinsey (2023) memperkirakan bahwa transformasi hijau dan digital dapat menjadi sumber pertumbuhan baru jika dikelola secara inklusif dan terkoordinasi.

Ketimpangan dan Polarisasi sebagai Risiko Senyap
Ketidakpastian global akan semakin sulit dikelola jika ketimpangan sosial terus melebar. Ketimpangan bukan hanya persoalan keadilan, tetapi juga persoalan stabilitas. Ketika manfaat pertumbuhan hanya dinikmati segelintir pihak, kohesi sosial melemah dan kepercayaan terhadap institusi publik terkikis.

Polarisasi yang menyertainya berpotensi melumpuhkan pengambilan keputusan strategis. Dalam jangka panjang, ketimpangan dan polarisasi menjadi risiko senyap yang menggerogoti ketahanan ekonomi dan sosial.

Laporan Oxfam (2023) menunjukkan bahwa 1 persen populasi terkaya dunia menguasai hampir separuh kekayaan global. Ketimpangan yang ekstrem tidak hanya mencederai rasa keadilan, tetapi juga menggerus kohesi sosial dan stabilitas politik.

Polarisasi politik yang menyertainya sering kali melumpuhkan proses pengambilan keputusan strategis. Dalam jangka panjang, ketimpangan dan polarisasi menjadi silent risk yang melemahkan daya tahan negara menghadapi krisis global berikutnya.

Menata Arah ke Depan: Realistis, Konstruktif, dan Visioner
Bangkit melewati badai ketidakpastian global memerlukan strategi menata arah ke depan yang konsisten dan visioner berjangka panjang. Pertama, memperkuat kualitas pertumbuhan, bukan sekadar mengejar angka. Pertumbuhan harus inklusif, hijau, dan berbasis produktivitas.

Kedua, mendorong inovasi dan transformasi struktural melalui kebijakan yang mendukung riset, teknologi, dan kewirausahaan produktif. Ketiga, memperdalam kerja sama internasional yang pragmatis dan saling menguntungkan, tanpa mengabaikan kepentingan nasional.

Keempat, menjaga keseimbangan antara stabilitas dan keberanian bertransformasi. Stabilitas makroekonomi penting, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk menunda reformasi struktural yang diperlukan.

Penutup: Optimisme yang Berpijak pada Realitas
Ketidakpastian global adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun sejarah menunjukkan bahwa krisis sering kali menjadi katalis bagi lahirnya tatanan yang lebih kuat dan berkeadilan. Dengan kepemimpinan yang jernih, kebijakan yang adaptif, serta investasi berkelanjutan pada manusia dan institusi, badai ketidakpastian dapat dilalui bahkan dimanfaatkan sebagai momentum lompatan kemajuan.

Menata arah di tengah badai bukan perkara mudah. Tetapi justru di situlah letak ujian kepemimpinan dan kebijakan. Bangkit bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan melangkah ke masa depan dengan fondasi yang lebih kokoh, inklusif, dan berkelanjutan.


(miq/miq)