Kredibilitas adalah Kunci Penyelamatan Bursa Saham Indonesia

Fakhrul Fulvian,  CNBC Indonesia
29 January 2026 10:58
Fakhrul Fulvian
Fakhrul Fulvian
Fakhrul Fulvian adalah Chief Economist di Trimegah Sekuritas Indonesia. Titel sarjana ekonomi diraih dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 2010. Sepanjang kariernya sebagai ekonom yang berkecimpung di dunia keuangan, Fakhrul telah terlibat.. Selengkapnya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan siang hari jeda Sesi I Rabu (28/1/2026), mencatatkan pelemahan yang amat dalam mencapai ambles 7,34% di posisi 8.321. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana di Bursa Efek Indonesia, beberapa waktu lalu. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Dinamika yang terjadi selama dua hari terakhir menjadi pengingat yang keras bagi pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan tajam hingga memicu mekanisme trading halt. Kepanikan ini tidak muncul dari satu laporan keuangan atau satu emiten besar semata, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih mendasar: kekhawatiran akan hilangnya kepercayaan.

Pasar bereaksi atas munculnya keluhan dari MSCI terkait transparansi dan kualitas struktur pasar saham Indonesia, serta kemungkinan Indonesia diturunkan dari kategori Emerging Market ke Frontier Market. Bagi banyak investor global, ini bukan sekadar isu teknis indeks. Ini adalah sinyal tentang kredibilitas.

Dalam dunia pasar keuangan modern, indeks seperti MSCI bukan hanya penunjuk kinerja. Ia adalah cermin kualitas pasar. Ia merefleksikan seberapa transparan suatu bursa, seberapa adil perlakuan terhadap investor minoritas, seberapa kuat tata kelola perusahaan, serta seberapa mudah pasar tersebut diakses oleh investor global.

Ketika MSCI mempertanyakan suatu pasar, yang dipertanyakan bukanlah apakah indeks naik atau turun bulan ini. Yang dipertanyakan adalah apakah pasar tersebut layak dipercaya untuk jangka panjang.

Banyak yang mengira MSCI sekadar mengatur bobot saham dalam sebuah indeks global. Padahal, di baliknya terdapat penilaian mendalam mengenai struktur pasar. MSCI secara konsisten menyoroti empat hal utama: transparansi, corporate governance, perlindungan investor minoritas, serta aksesibilitas dan likuiditas pasar.

Pasar saham yang sehat bukanlah pasar yang selalu naik. Pasar yang sehat adalah pasar yang dapat dipercaya bahkan ketika sedang turun. Tanpa kepercayaan, modal global tidak akan bertahan lama. Ia akan datang cepat saat euforia, dan pergi lebih cepat saat ketidakpastian muncul.

Pelajaran dari India: Membangun Pasar dari Dalam

India adalah contoh bagaimana pasar saham bisa menguat bukan karena intervensi jangka pendek, melainkan karena reformasi struktural. Dalam satu dekade terakhir, India secara konsisten memperbaiki tata kelola perusahaan, memperketat keterbukaan informasi, serta memperkuat peran investor institusi domestik seperti dana pensiun dan asuransi.

Ketika volatilitas global meningkat, justru investor domestik inilah yang menjadi penyangga utama pasar. Hasilnya terlihat jelas. Bobot India dalam MSCI Emerging Markets terus meningkat. Pasarnya semakin dalam, stabil, dan dipercaya. India tidak mengejar MSCI. India membangun pasar yang kredibel. MSCI hanya mengikuti kualitas yang tercipta.

*Mengejar Indeks atau Membangun Struktur?*

Koreksi tajam IHSG hari ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Tidak ada kebijakan jangka pendek yang bisa menyelamatkan pasar yang kehilangan kredibilitas. Tidak ada stabilisasi indeks yang bisa menggantikan kepercayaan jangka panjang.

Fokus pada "bagaimana menenangkan pasar hari ini" tanpa membenahi struktur hanya akan menunda masalah. Pasar saham yang kuat dibangun dari fondasi transparansi, tata kelola yang baik, serta keadilan bagi seluruh pelaku pasar.

*Apa yang Perlu Dilakukan Indonesia*

Pertama, transparansi harus menjadi prioritas utama. Keterbukaan informasi emiten harus konsisten, tepat waktu, dan dapat dipercaya. Data kepemilikan saham dan transparansinya harus sesuai dengan standar internasional. Pengawasan terhadap manipulasi dan pelanggaran disclosure harus ditegakkan dengan tegas.

Kedua, perlindungan investor minoritas perlu diperkuat secara nyata. Praktik transaksi afiliasi, corporate action, dan struktur kepemilikan harus transparan dan adil. Pasar tidak bisa kredibel jika hanya menguntungkan pemegang saham pengendali.

Ketiga, likuiditas dan aksesibilitas pasar harus diperdalam. Mekanisme perdagangan perlu semakin efisien, market making diperkuat, dan hambatan administratif bagi investor global diminimalkan dan keterbukaan informasi harus kuat . Ini bukan tuntutan asing. Ini adalah standar pasar modern.

Terkait dengan koreksi dalam pasar beberapa hari terakhir, pemerintah sebaiknya langsung turun tangan bersama Bursa Efek, OJK dan pihak terkait lainnya, untuk memastikan berjalannya pasar yang baik dan kepercayaan bisa kembali.

*Pernyataan dari mereka sangat dibutuhkan secepatnya.* Selain itu, kejelasan tentang berjalannya pasar yang sesuai dengan mekanisme yang berlaku umum, harus dijelaskan dan dipastikan langsung kepada pelaku pasar dalam dan luar negeri.

*Stabilisasi Jangka Pendek: Peran Institusi Domestik*

Di tengah volatilitas tinggi, peran investor institusi domestik menjadi sangat penting. Dana pensiun, asuransi, BPJS, serta institusi keuangan nasional dapat berfungsi sebagai pembeli counter-cyclical, menyerap tekanan jual ketika investor asing keluar. India telah membuktikan efektivitas pendekatan ini.

Namun peran ini harus dilakukan secara terukur, transparan, dan berbasis fundamental, bukan sebagai intervensi harga semata. Di tengah volatilitas yang semakin sering terjadi, Indonesia juga perlu mulai membangun kerangka systematic investment yang kuat melalui investor institusi domestik.

Skema alokasi jangka panjang yang teratur dan berbasis fundamental, seperti yang dilakukan dana pensiun dan asuransi di banyak negara, akan menciptakan permintaan pasar yang stabil dan mengurangi ketergantungan pada arus modal jangka pendek.

Investasi yang dilakukan secara disiplin, bukan reaktif terhadap gejolak harian, akan berperan sebagai penyangga alami ketika pasar terkoreksi. Dalam jangka panjang, sistem ini tidak hanya menstabilkan bursa saham, tetapi juga memperkuat kedalaman pasar dan meningkatkan kepercayaan investor global terhadap ketahanan struktur pasar Indonesia.

Koreksi dalam pasar kali ini seharusnya tidak dilihat sebagai kegagalan semata, tetapi sebagai alarm struktural. Ia menunjukkan bahwa kepercayaan adalah aset paling mahal dalam pasar keuangan. Momentum ini bisa menjadi titik balik untuk membangun bursa saham Indonesia yang lebih kredibel, lebih transparan, dan lebih kuat menghadapi gejolak global.

*Penutup: Bursa Saham Dibangun oleh Kepercayaan*

Bursa saham bisa dibangun dengan modal besar, teknologi canggih, dan regulasi lengkap. Namun tanpa kredibilitas, semua itu rapuh. Pasar yang dipercaya akan menarik modal jangka panjang. Pasar yang diragukan akan selalu rentan terhadap gejolak. Dua hari terakhir telah mengajarkan satu hal penting: yang runtuh bukan sekadar indeks, tetapi kepercayaan.

Dan yang mampu menyelamatkan bursa saham Indonesia ke depan bukanlah stabilisasi jangka pendek, melainkan pembangunan kredibilitas jangka panjang. Karena pada akhirnya, pasar saham bukan hanya tempat transaksi. Ia adalah institusi kepercayaan.


(miq/miq)