Gerak Cepat dan Ketangguhan PLN Menghadapi Bencana Sumatra
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 menjadi pengingat keras tentang rapuhnya kehidupan di hadapan cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi yang berlangsung berhari-hari memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah, merusak rumah warga, memutus akses jalan, serta melumpuhkan infrastruktur vital, termasuk jaringan kelistrikan.
Dalam situasi seperti itu, listrik bukan lagi sekadar fasilitas penunjang, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan seberapa cepat masyarakat dapat bangkit dan kembali beraktivitas.
Padamnya listrik membawa dampak berlapis. Rumah sakit dan puskesmas terganggu operasionalnya, layanan publik terhenti, rumah ibadah tidak dapat difungsikan secara optimal, dan roda ekonomi rakyat berhenti mendadak.
Karena itu, pemulihan kelistrikan menjadi salah satu indikator paling nyata dari keberhasilan penanganan bencana. Di titik inilah peran PT PLN (Persero) diuji secara konkret, bukan melalui narasi di atas kertas, melainkan lewat kerja lapangan yang penuh risiko dan tekanan.
Kerusakan infrastruktur kelistrikan di Sumatra tergolong masif. Di Aceh dan sebagian Sumatra Utara, puluhan tower transmisi roboh atau mengalami kerusakan struktural berat. Jalur transmisi utama yang menghubungkan pembangkit dengan pusat-pusat beban terputus, menyebabkan ratusan megawatt beban listrik padam dan hampir satu juta pelanggan terdampak.
Kondisi ini diperparah oleh akses jalan yang terputus, medan berlumpur, serta cuaca ekstrem yang belum sepenuhnya mereda, sehingga proses pemulihan menjadi sangat menantang.
Di tengah keterbatasan tersebut, respons PLN patut diapresiasi. Di Sumatra Barat, pemulihan kelistrikan berhasil diselesaikan relatif cepat. Seluruh desa dan pelanggan terdampak telah kembali menikmati listrik sejak 23 Desember 2025. Capaian ini menjadi fondasi penting bagi pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Meski sistem telah pulih, PLN tetap menyiagakan personel di lapangan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.
Sumatra Utara dan Aceh menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Di Sumatra Utara, meskipun banjir dan longsor skala kecil masih terjadi di sejumlah lokasi, lebih dari 99 persen desa dan pelanggan berhasil dinyalakan kembali.
PLN secara konsisten memprioritaskan penyalaan listrik di objek-objek vital seperti rumah sakit dan posko bencana. Langkah ini menunjukkan bahwa pemulihan kelistrikan tidak semata mengejar target teknis, tetapi juga berpijak pada kebutuhan paling mendesak masyarakat.
Aceh menjadi wilayah dengan tingkat kesulitan tertinggi. Ribuan desa terdampak, sebagian di antaranya terisolasi karena akses jalan belum terbuka. Dalam kondisi seperti ini, PLN menunjukkan fleksibilitas dan keberanian mengambil keputusan teknis yang tidak biasa.
Penggunaan crane sebagai tower listrik darurat menjadi simbol inovasi lapangan yang lahir dari tekanan keadaan. Solusi ini memungkinkan penyambungan kembali jalur transmisi utama secara lebih cepat, sehingga sistem kelistrikan Aceh kembali terhubung dengan interkoneksi Sumatra, meskipun perbaikan permanen masih terus berjalan.
Bagi desa-desa yang belum dapat dijangkau jaringan utama, PLN mendukung pendistribusian dan pengoperasian genset bantuan pemerintah. Dengan pendekatan ini, masyarakat tetap memperoleh akses listrik untuk penerangan, pompa air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya. Langkah tersebut mencerminkan kepekaan terhadap realitas lapangan, bahwa pemulihan jaringan dan pemulihan kehidupan masyarakat tidak selalu bergerak dalam tempo yang sama.
Pemulihan kelistrikan juga dimaknai sebagai pemulihan kemanusiaan. Ratusan personel PLN diterjunkan untuk memastikan seluruh fasilitas kesehatan terdampak di Aceh kembali beroperasi. Instalasi listrik diperiksa, lumpur dibersihkan, dan bangunan diperbaiki agar rumah sakit serta puskesmas dapat kembali melayani warga dengan aman.
Perhatian serupa diberikan kepada rumah ibadah. Sejumlah masjid yang sempat lumpuh hampir satu bulan dibersihkan dan diperbaiki instalasi listriknya, sehingga kembali menjadi ruang spiritual dan sosial bagi masyarakat yang tengah berduka.
Dalam konteks inilah, apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dan jajarannya. Di tengah krisis, ia tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi terlibat aktif baik di lapangan maupun di belakang layar.
Kehadirannya di lokasi perbaikan transmisi utama memberi dorongan moril bagi para petugas sekaligus memastikan pengambilan keputusan strategis dapat dilakukan cepat dan tepat. Di balik layar, koordinasi lintas kementerian dan lembaga, mobilisasi sumber daya dari berbagai unit PLN di seluruh Indonesia, hingga penyiapan langkah-langkah penguatan sistem jangka panjang berjalan secara simultan.
Namun kepemimpinan yang kuat tidak akan bermakna tanpa kerja tim yang solid. Penghargaan yang sama pentingnya layak diberikan kepada ribuan insan PLN di berbagai lini.
Mulai dari teknisi transmisi yang bekerja di medan berlumpur dan berisiko tinggi, petugas distribusi yang menyusuri desa-desa terisolasi, operator pusat pengatur beban yang menjaga kestabilan sistem dari balik layar, hingga staf pendukung yang mengurus logistik, perencanaan, dan koordinasi. Semua bergerak dalam satu irama, saling melengkapi, dan bekerja tanpa sorotan demi satu tujuan bersama, mengembalikan terang bagi masyarakat Sumatra.
Kerja kolektif ini mencerminkan bahwa pemulihan kelistrikan bukan hasil upaya individu, melainkan buah dari sinergi organisasi yang matang. Ribuan jam kerja, pengorbanan tenaga, bahkan risiko keselamatan dihadapi dengan semangat pengabdian yang tinggi. Di sinilah wajah PLN sebagai institusi publik terlihat nyata, bukan hanya sebagai operator listrik, tetapi sebagai bagian dari sistem pendukung pemulihan kehidupan masyarakat.
Lebih dari sekadar respons darurat, PLN juga menunjukkan pandangan ke depan. Perencanaan penguatan sistem kelistrikan di Aceh melalui percepatan pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, dan sistem penyimpanan energi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan energi di wilayah rawan bencana.
Pembelajaran dari bencana ini menjadi bekal penting agar sistem kelistrikan di Sumatra dan Indonesia secara keseluruhan semakin tangguh menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Pemulihan kelistrikan pascabencana di Sumatera menegaskan bahwa listrik adalah fondasi bagi pulihnya kehidupan masyarakat. Negara hadir melalui kerja nyata. Dari gelap akibat bencana menuju terang yang kembali menyala, harapan masyarakat Sumatra perlahan dibangun kembali.
(miq/miq)