Ketika Indeks MSCI dalam Sorotan
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara luas dianggap sebagai organisasi netral dalam menentukan alokasi modal global. Indeksnya dirancang berbasis aturan, kuantitatif, dan objektif. Mereka mencerminkan pasar, bukan memengaruhinya. Bagi manajer aset, pembuat kebijakan, dan investor, otoritas MSCI bergantung pada gagasan netralitas ini.
Namun, pengalaman terbaru Indonesia menantang asumsi tersebut. MSCI memutuskan untuk membekukan seluruh peningkatan indeks untuk saham-saham Indonesia, dengan alasan kekhawatiran terkait transparansi free float. Keputusan ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang sulit.
Tidak akan ada peningkatan Foreign Inclusion Factor, tidak ada penambahan ke MSCI Investable Market Indexes, dan tidak ada perubahan naik dalam segmen ukuran, bahkan pada Peninjauan Indeks Februari 2026. Jika isu transparansi tidak terselesaikan hingga Mei 2026, Indonesia berisiko mengalami penurunan bobot atau bahkan diklasifikasikan dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Yang menarik dari keputusan ini bukan kekhawatirannya sendiri, melainkan bagaimana kekhawatiran itu diterapkan. Isu seperti kompleksitas kepemilikan dan pengaturan nominee bukanlah unik bagi Indonesia; ini merupakan fitur umum di pasar berkembang. Fitur-fitur ini muncul dari sistem hukum yang berbeda, tata sejarah korporasi, dan norma tata kelola perusahaan yang beragam.
Pasar bukanlah titik data yang kaku; mereka adalah proses dinamis yang dibentuk oleh jutaan keputusan individu. Para ekonom telah lama menekankan bahwa pasar berfungsi sebagai mekanisme penemuan, bukan mesin "ekuilibrium." Harga, likuiditas, dan valuasi muncul dari interaksi, bukan desain.
Penyusunan indeks bekerja secara berbeda. Ia mencoba memformalkan realitas pasar menjadi aturan standar yang berlaku secara global. Meskipun aturan semacam ini diperlukan untuk skala besar, aturan itu tidak bisa lepas dari penilaian. Seseorang harus memutuskan apa yang layak diinvestasikan, seperti apa free float yang valid, dan kapan penyimpangan memerlukan intervensi.
Dalam kasus Indonesia, keputusan untuk memberlakukan pembekuan menyeluruh bukanlah hasil respons otomatis algoritma. Ini adalah keputusan yang diambil dalam kerangka kuantitatif. Algoritma mengeksekusi, tetapi tidak memulai. Investasi yang terkait dengan MSCI di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$ 120 miliar.
Ketika Foreign Inclusion Factor dibekukan dan migrasi indeks dibatasi, MSCI tidak lagi sekadar mengukur pasar; ia memengaruhi aliran modal. Perusahaan yang secara alami menarik likuiditas dan minat investor tidak bisa mencerminkan realitas itu dalam bobot indeks. Sinyal pasar diakui, tetapi tidak bisa bertindak.
Di sinilah konsep investasi pasif bisa menyesatkan. Modal "pasif" hanya pasif dalam nama. Dalam kenyataannya, modal ini terpusat, berbasis aturan, dan sangat berpengaruh. Dari perspektif Austria, ini menimbulkan dua kekhawatiran: pengetahuan dan akuntabilitas.
Masalah pengetahuan menurut Friedrich Hayek menunjukkan batasan pengambilan keputusan terpusat dalam sistem yang terdesentralisasi. Informasi pasar tersebar, kontekstual, dan sering tidak diungkapkan. Investor lokal memahami struktur kepemilikan, pengaturan nominee, keterbatasan likuiditas, dan risiko tata kelola sebagai realitas konkret yang tercermin dalam setiap transaksi. Upaya terpusat untuk "mengoreksi" realitas ini berisiko menggantikan penilaian lokal dengan kepastian administratif.
Permintaan MSCI terhadap data KSEI yang lebih perinci untuk memperbaiki perhitungan free float masuk akal secara teori. Transparansi adalah tujuan yang wajar, dan data yang lebih jelas bisa meningkatkan kepercayaan investor. Tantangannya ada pada interpretasi data tersebut. Menentukan akun nominee mana yang mewakili free float nyata dan mana yang tidak, bukan semata teknis. Ini melibatkan asumsi tentang kontrol, niat, dan perilaku-yang mungkin tidak berlaku sama di setiap yurisdiksi.
Lebih jauh, jika data semacam ini tersedia secara selektif atau tidak merata, hal itu dapat menciptakan kesenjangan informasi di pasar. Transparansi yang ditangani buruk justru berisiko merusak keadilan yang ingin ditegakkan.
Kekhawatiran kedua adalah akuntabilitas. Ludwig von Mises menekankan bahwa pengambilan keputusan yang terlepas dari keuntungan dan kerugian bisa menghasilkan kesalahan. Penyedia indeks terlindung dari konsekuensi langsung dari klasifikasi mereka. Jika pasar diturunkan terlalu cepat atau alokasi modal menyesatkan karena metode yang kaku, MSCI tidak menanggung dampaknya. Dampak jatuh pada penerbit dengan likuiditas rendah, investor yang terpaksa melakukan rebalancing mekanis, dan pasar yang menjadi lebih rapuh.
Pergerakan pasar terbaru menunjukkan bahwa dinamika ini sudah diperhitungkan. Rupiah melemah terhadap dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah naik, dan premi risiko disesuaikan. Pergeseran ini bukan ideologis; ini respons pasar terhadap ketidakpastian. Pasar mata uang dan obligasi sering bereaksi cepat terhadap perubahan kepercayaan, kadang sebelum pasar saham menyesuaikan diri.
Arah kebijakan menambah ketidakpastian ini. Fokus Presiden Prabowo Subianto pada tema ekonomi "kiri" mungkin mendapat daya tarik politik, tetapi belum memberikan manfaat ekonomi nyata dan kemungkinan tidak akan mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5,5% pada periode kepresidenannya yang pertama.
Pasar tidak menentang kebijakan sosial secara inheren. Mereka menuntut deregulasi, pengurangan birokrasi, dan batasan jelas antara intervensi negara dan mekanisme pasar. Kurangnya kepercayaan investor lokal maupun asing terhadap kondisi ekonomi saat ini memicu capital flight, tercermin dari melemahnya USD/IDR dan naiknya imbal hasil obligasi.
Dalam konteks ini, tindakan MSCI saling terkait. Keputusan indeks, narasi kebijakan, pergeseran mata uang, dan pasar obligasi berinteraksi dalam siklus kepercayaan yang sama. Penegak eksternal yang mengetatkan standar, sementara kebijakan domestik condong pada populisme, bisa saling memperkuat, mendorong penilaian ulang risiko secara bertahap namun konsisten.
Ini bukan berarti MSCI bertindak dengan iktikad buruk. Penyedia indeks menghadapi tekanan nyata untuk menjaga kredibilitas, konsistensi, dan kepercayaan investor. Namun, menjaga kredibilitas berarti mengakui pengaruh. Sistem pasif tidak netral secara otomatis. Kerangka kuantitatif tidak menghapus kebijakan; ia memindahkannya ke komite, metode, dan kalender review yang jauh dari pasar yang mereka pengaruhi.
Pengalaman Indonesia mengingatkan kita bahwa begitu penyedia indeks bergeser dari pengamatan ke intervensi, mereka terlibat dalam proses pasar. Pilihan mereka memiliki konsekuensi ekonomi yang melampaui metode teknis.
Realitas ini layak diakui dan diperiksa dengan seksama. Dalam sistem keuangan saat ini, modal "pasif" sama sekali tidak pasif, dan keputusan yang tertanam dalam penyusunan indeks semakin menentukan hasil yang seharusnya ditemukan pasar.
(miq/miq)