Refleksi Menjelang Setahun Danantara Indonesia

Rayhan Murtaza,  CNBC Indonesia
07 January 2026 09:20
Rayhan Murtaza
Rayhan Murtaza
Sebagai lulusan studi Sarjana Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan dan magister di bidang yang sama di Universitas Paramadina, Rayhan Murtaza memiliki ketertarikan pada kebijakan publik dan diplomasi ekonomi. Di luar dunia akademik, Ra.. Selengkapnya
Danantara Indonesia. (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Foto: Logo Danantara Indonesia. (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pada awal tahun 1972, Roger Waters menulis lagu yang berjudul "Money". Lagu ini kemudian menjadi salah satu trek pada album fenomenal "The Dark Side of the Moon" dari Pink Floyd.

Dimulai dengan dering mesin kasir dan dentingan koin yang terus menerus, "Money" kemudian mengajak pendengar untuk memahami bahwa uang bukan hanya sekadar pertukaran, tetapi juga memengaruhi pikiran, hubungan, dan struktur yang diciptakan manusia. "Money" merangkum perjalanan menjelang setahun Danantara Indonesia sebagai pengelola kekayaan negara.

Menjelang setahun berdiri, Danantara telah menjalin kemitraan dengan beberapa pengelola kekayaan negara besar seperti Qatar Investment Authority, China Investment Corporation, dan Future Fund Australia. Danantara juga terlibat dalam pengembangan pengelolaan sampah menjadi energi, hilirisasi nikel, serta investasi berkelanjutan. Catatan ini penting agar refleksi memiliki konteks sejarah yang kuat.

Konstruktivisme dan Makna Institusi
Namun refleksi tetap diperlukan, sebab institusi publik tidak hanya bekerja melalui struktur dan proyek, melainkan melalui makna yang dilekatkan padanya. Dalam perspektif konstruktivisme dari Alexander Wendt, sebagaimana dijelaskan dalam buku Social Theory of International Politics (1999), bahwa kepentingan negara dibentuk oleh ide, norma, dan identitas. Negara bertindak dengan cara ia memahami dirinya sendiri dan lingkungannya.

Dalam konteks ini, sejarah pendirian Kuwait Investment Authority (KIA) pada tahun 1953 berfungsi sebagai referensi yang penting. Lembaga ini didirikan atas perintah Sheikh Abdullah Al-Salem Al-Sabah, jauh sebelum kemerdekaan Kuwait.

Tujuan utamanya bukan semata-mata teknokratis; tetapi ada kekhawatiran bahwa pendapatan minyak pada akhirnya mungkin akan habis. Kekhawatiran ini mengarah pada konsep pencadangan dan pengelolaan kekayaan secara independen dari politik sehari-hari.

Sejarah KIA menunjukkan bahwa kekayaan negara sejak awal bukan hanya alat ekonomi, tetapi manifestasi dari pandangan jauh negara tentang masa depan. Dari sudut pandang konstruktivis, pembentukan KIA mewakili identitas negara karena mulai memandang dirinya sebagai pengelola kepentingan antar generasi.

DAM, DIM, dan Identitas Pasar
Pengalaman ini relevan untuk memahami Danantara saat ini. Perkembangannya dapat dilihat sebagai inisiatif untuk menciptakan identitas baru dalam tata kelola ekonomi Indonesia: lebih profesional, tidak terlalu terjerat dalam politik sehari-hari, dan lebih selaras dengan standar global. Namun, seperti yang dikemukakan Wendt, institusi tidak secara inheren mendikte perilaku; institusi hanya berfungsi efektif ketika norma-normanya benar-benar dianut.

Di sinilah Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM) memainkan peran penting. Mereka bukan hanya entitas teknis; sebaliknya, mereka berfungsi sebagai lingkungan tempat norma-norma ini dinilai dalam praktik pasar.

Dari sudut pandang konstruktivis, DAM dan DIM berfungsi sebagai barometer kredibilitas mengenai fungsi negara di pasar modal. Keputusan investasi, strategi portofolio, dan bahkan cara berinteraksi dengan investor membentuk persepsi bersama tentang identitas Indonesia sebagai pengelola aset.

Di tahun 2026 ini, ketika fluktuasi saham semakin dipengaruhi oleh ekspektasi dan sentimen, DAM dan DIM dapat bertindak sebagai pemicu psikologis bagi pasar. Mereka bukan hanya peserta, tetapi juga pencipta narasi. Dalam logika konstruktivis, praktik investasi menciptakan makna: apakah negara dipersepsikan profesional, disiplin, dan kredibel, atau justru politis dan oportunistik. Persepsi inilah yang kemudian memengaruhi aliran modal dan valuasi saham.

Uang, Norma, dan Etos Pengawasan
Pada titik ini, "Money" kembali memperoleh maknanya. Waters menggunakan satire untuk membahas bagaimana uang memengaruhi dinamika kekuasaan. Lirik "Money, it's a crime" tidak menolak uang itu sendiri, tetapi mengkritik hubungan sosial yang menyertainya. Uang bertindak sebagai bentuk komunikasi: ia menentukan siapa yang bersuara dan siapa yang memegang otoritas.

Dalam konteks Danantara, bahasa itu hadir melalui istilah seperti tata kelola, efisiensi, dan profesionalisme. Semuanya tidak otomatis bermakna jika tidak menjadi norma hidup yang dipraktikkan. Tanpa internalisasi, institusi hanya akan mewakili perubahan dan bukan berfungsi sebagai katalisator sejati untuk transformasi.

Gagasan ini terkait erat dengan hubungan Danantara dengan BP BUMN, di mana pengawasan yang lebih ketat harus berfokus pada etos keberanian yang bertujuan untuk mengekang kekuasaan. Tanpa etos ini, pengawasan akan berubah menjadi prosedur administratif yang rapi namun sia-sia.

Dalam "Money," ironi yang diungkapkan dalam lirik "Share it fairly, but don't take a slice of my pie" menggarisbawahi paradoks keadilan: meskipun ada kesepakatan tentang prinsip kesetaraan, tetap ada keengganan untuk melepaskan hak istimewa. Pengamatan ini penting untuk pengelolaan sumber daya publik, di mana transparansi sering dianggap sebagai prinsip fundamental namun secara konsisten ditantang oleh realitas dinamika kekuasaan.

Saat Danantara mendekati ulang tahun pertamanya, penting untuk berkonsentrasi bukan pada kesimpulan cepat tetapi pada penetapan jalan yang jelas ke depan. Apakah organisasi ini mendefinisikan dirinya sebagai pengelola kekayaan antar generasi, serupa dengan aspirasi Kuwait sejak tahun 1953?

Ataukah hanya platform modern yang beroperasi dalam sistem yang sudah usang? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan statistik, tetapi melalui tindakan, komitmen terhadap nilai-nilai inti, dan keberanian untuk menetapkan standar.

Pada akhirnya, suara kekuasaan akan selalu ada seperti denting koin dalam "Money". Pada tahun keduanya, Danantara menghadapi tantangan yang lebih dari sekadar membangun kerangka kerja; kini mereka harus menunjukkan kemampuan untuk melindungi kekayaan negara tanpa menyerah pada tekanan politik.

Mulai saat ini, kesuksesan Danantara akan bergantung pada satu faktor: kemampuannya untuk mempertahankan profesionalisme di tengah kekacauan politik yang ada. Jika tercapai, kepercayaan investor akan berkembang dari sekadar ide menjadi aset nyata yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.


(miq/miq)