Ramalan Keynes dan Kita yang Masih Lapar

Fakhrul Fulvian,  CNBC Indonesia
06 January 2026 18:25
Fakhrul Fulvian
Fakhrul Fulvian
Fakhrul Fulvian adalah Chief Economist di Trimegah Sekuritas Indonesia. Titel sarjana ekonomi diraih dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 2010. Sepanjang kariernya sebagai ekonom yang berkecimpung di dunia keuangan, Fakhrul telah terlibat.. Selengkapnya
Pedagang kopi keliling menyiapkan minuman di kawasan Pedestrian Sudirman, Jakarta, Rabu, 11/1/2023. Pedagang kopi keliling atau kerap disebut starling sering terluhat hilir mudik setiap hari di jalan-jalan trotoar Jakarta. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Pedagang kopi keliling di pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.

Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.

Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.

Adapun Episode Ke-13 ini kami beri judul: "Ramalan Keynes dan Kita Yang Masih Lapar". Semoga bermanfaat, Selamat Menikmati.

---

Sejarah penuh dengan ramalan besar yang seringkali berbelok, entah itu tragis atau malah jadi berujung kegembiraan. Thomas Malthus meramalkan bahwa manusia akan binasa karena populasi tumbuh lebih cepat daripada pangan.

Namun, Tuhan mengizinkan revolusi pertanian, pupuk, dan teknologi untuk menghindari kelaparan massal, umat manusia pun tumbuh pesat. Lalu Keynes, seabad setelah Malthus, menulis esai singkat pada 1930: Economic Possibilities for Our Grandchildren, di tengah-tengah dunia yang sedang mengalami kemerosotan ekonomi.

Isinya bukan angka teknis, bukan pula rekomendasi kebijakan fiskal, melainkan sebuah nubuat utopis: bahwa seratus tahun ke depan, manusia akan mengatasi masalah kelangkaan. Mesin akan bekerja untuk kita, produktivitas akan berlipat ganda, dan kebutuhan dasar manusia, pangan, pakaian, rumah akan terpenuhi dengan mudah.

Keynes membayangkan generasi cucu-nya hanya perlu bekerja 15 jam seminggu. Selebihnya adalah leisure, waktu untuk bersenang-senang, berfilsafat, bersahabat, mencipta seni, dan hidup "wisely and agreeably and well."

Ramalan ini ditulis jauh sebelum buku dan teorinya yang masyhur, The General Theory muncul. Di tengah Great Depression, esai pendek ini terdengar menggelikan dan aneh. Dunia sedang struggling dengan krisis multidimensi, mana bisa muncul ramalan indah seperti itu. Tapi di situlah uniknya suatu ramalan, ketika kenyataan akhirnya datang menyambangi dengan segala keindahan dan kegetiran.

Ramalan Keynes soal pertumbuhan benar adanya. Hari ini, GDP per kapita dunia memang naik 6-8 kali lipat dibanding zaman Keynes. Teknologi menciptakan kelimpahan, rak supermarket penuh, gudang digital melimpah, pabrik tak berhenti berdetak. Secara teknis, scarcity sudah dikalahkan. Tetapi, ironinya, jutaan orang masih kelaparan, dan miliaran hidup dalam kecemasan finansial.

Keynes bermimpi bahwa mesin akan membebaskan manusia dari kerja kasar. Tetapi realitas 2025 justru terbalik: sebagian orang bekerja lebih panjang dari sebelumnya, mengejar target yang tak kunjung selesai; sebagian lain kehilangan pekerjaan karena mesin menggantikan mereka, masuk dalam jurang pengangguran digital. Waktu luang memang ada, tetapi tidak lahir sebagai "wisdom time", melainkan doomscrolling time, diserap oleh layar yang tak memberi makna.

Di dalam Economic Possibilities of our Grandchildren, Keynes percaya bahwa "cinta pada uang sebagai harta" akan suatu hari dianggap penyakit (The love of money as a possession, as distinguished from the love of money as a means to the enjoyments and realities of life will be recognised for what it is, a somewhat disgusting morbidity).

Tetapi hari ini, uang bukan sekadar alat; ia menjadi agama baru. Dari crypto, kapital finansial, saham meme, hingga obsesi pada valuasi unicorn, ekonomi global dipacu bukan oleh kebutuhan nyata, melainkan oleh mimpi semu akan kekayaan cepat. Uang bukan lagi sekadar medium tukar, tapi simbol harga diri, status, dan bahkan identitas.

Manusia tak lagi kelaparan karena kurang makan, tapi tetap lapar karena kehilangan makna. Scarcity sudah dikalahkan, tetapi loneliness, depresi, nihilisme membengkak. Pemerintah pun jatuh ke dalam perangkap. Mereka berbicara tentang PDB, inflasi, defisit, seolah-olah manusia hanyalah angka. Target fiskal menjadi lebih suci daripada waktu ibu yang hilang, atau anak yang ditinggal bekerja oleh orang tuanya.

Keynes membayangkan ekonomi sebagai alat sementara, tapi pemerintah hari ini menjadikannya tujuan akhir. Kita sibuk membanggakan pertumbuhan , tapi lupa bertanya: pertumbuhan itu menghidupi siapa? Membahagiakan siapa?

Keynes pada 1930 membayangkan mesin membebaskan manusia dan seratus tahun kemudian, kita mendengar ramalan baru: AI akan menggantikan pekerjaan, blockchain akan menghapus perantara, dan manusia tak perlu lagi "memiliki". Narasi ini terdengar familiar: utopia, surplus, hidup ringan.

Hari ini banyak yang berkata: "AI akan membebaskan manusia dari kerja repetitif, dari beban administratif, dari produksi yang melelahkan." Tapi kita ingat Keynes: janji 15 jam kerja tidak pernah tiba. Yang tiba justru target lebih tinggi, produktivitas lebih kejam, dan ketakutan kehilangan kerja. AI mungkin melahirkan surplus, tapi ia juga melahirkan kecemasan eksistensial: jika kerja hilang, siapa kita?

Ada pula ramalan: "Di masa depan, kamu tidak perlu memiliki. Semuanya disewa, semuanya diakses, semuanya decentralized." Mirip Keynes yang membayangkan kebutuhan dasar terpenuhi, ini janji "post-scarcity society." Tapi kenyataan awal blockchain menunjukkan hal sebaliknya: yang lahir justru spekulasi liar, dan konsentrasi kekayaan. Decentralized sering hanya jargon, sementara manusia tetap terjebak dalam hunger for control.

Ramalan baru kini bergaung dalam bahasa Silicon Valley. Bedanya, dulu Keynes bicara dengan gaya ekonom-filosof, kini janji itu dibungkus jargon teknologis: disruption, singularity, tokenization, post-work. Namun pola getir tetap sama: janji kebebasan berubah jadi jerat baru.

Seperti Marx yang bermimpi hilangnya kelas, atau Keynes yang bermimpi waktu luang, hari ini kita bermimpi AI dan blockchain akan memerdekakan kita. Terkait fenomena ini, bisa jadi yang lahir hanyalah pengawasan yang lebih halus, kepemilikan yang lebih samar, dan alienasi yang lebih dalam.

Dan inilah tragedi sejati: Keynes benar soal barang, salah soal jiwa. Kita memang tidak lagi kelaparan roti, tapi lapar akan makna. Kita punya leisure, tapi leisure kita habis di scrolling tak berujung, bukan dalam pencarian kebijaksanaan. Kita punya pekerjaan, tapi pekerjaan kita jadi penjara identitas, "siapa dirimu?" dijawab dengan "apa kerjamu?", bukan "apa cintamu?".

Namun jangan kira semua ramalan ini buruk. Tetap ada alasan kuat untuk berharap. AI, blockchain, dan jaringan terdesentralisasi tidak mesti menjadi mesin pengasingan; mereka juga bisa menjadi infrastruktur pembebasan bila dibingkai oleh etika, kebijakan, dan iman yang benar.

Bayangkan skenario yang realistis dan penuh rahmat: Daripada sekadar menggantikan pekerja, AI dapat mengambil alih pekerjaan berbahaya, repetitif, dan memakan waktu sehingga manusia, ayah, ibu, guru punya ruang waktu nyata untuk keluarga dan komunitas. Dengan kebijakan pelatihan ulang (reskilling) yang ambisius dan program jaminan pendapatan transisional, penggantian teknologi menjadi transisi bermartabat, bukan pengusiran.

Model akses (sharing, subscription) bisa melengkapi kepemilikan tradisional bila aturan menjamin fair share; misalnya, platform energi komunitas, perpustakaan alat produksi, atau koperasi data yang mengembalikan nilai ke pembuat konten. Teknologi memfasilitasi akses tanpa otomatis menghapus hak-hak dasar.

Pemerintah dapat menjadi penjamin transisi: investasi besar pada pendidikan lifelong, pajak progresif atas produktivitas mesin (robot tax) yang dialokasikan untuk layanan publik, dan regulasi platform yang memaksa aturan main adil. Negara yang berperan seperti ini menunaikan janji politik: mengarahkan teknologi agar tetap melayani manusia.

Di atas semua itu, spiritualitas, pengakuan bahwa manusia bukan komoditas memberi bingkai moral. Komunitas agama, ormas, dan lembaga pendidikan punya peran aktif menumbuhkan narasi bahwa kerja bukan hanya penghasilan, melainkan panggilan; bahwa teknologi adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Mungkin Tuhan sengaja membiarkan ramalan Keynes keliru di bagian paling manusiawi. Agar kita sadar: hidup bukan sekadar cukup, tapi harus berarti. Ilmu ekonomi berhasil memberi supermarket yang penuh, marketplace yang tak pernah tidur, gudang digital yang melimpah.

Namun kita masih bergumam dalam hati: "Kami kenyang, tapi lapar jiwa. Kami sibuk, tapi kehilangan waktu. Kami produktif, tapi kehilangan arah." "Pertanyaannya kini bukan lagi apa yang bisa dilakukan mesin, melainkan apa yang ingin kita lakukan sebagai manusia."


(miq/miq)