Mayoritas Aluminum RI Masih Impor, AI Sampai Turun Tangan?
Bogor, CNBC Indonesia - Industri peleburan dan pengolahan alumunium RI tengah berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas produksi aluminium. Pasalnya Indonesia masih mencatat ketergantungan pada impor aluminium sekitar 54% dari total kebutuhan domestik (yang mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun), sementara produsen lokaldidominasi oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), baru mampu memasok sekitar 46%.
Berbagai pembaruan dilakukan industri alumunium RI, mulai dari penyempurnaan proses peleburan hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengelolaan bisnis perusahaan.
Salah satu fokus yang dilakukan Inalum yakni pada proses peleburan aluminium yang menjadi tahapan penting dalam kegiatan produksi. Perusahaan mengembangkan metode pengaturan parameter bath untuk membantu mengendalikan proses peleburan agar berjalan lebih optimal.
Selain itu, saat ini tengah dikembangkan teknologi untuk mengatasi persoalan keretakan anoda, yakni salah satu komponen penting dalam proses produksi aluminium. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi sudut eccentric counterweight guna memperbaiki kinerja komponen tersebut.
Selain kegiatan di area pabrik, teknologi digital juga digunakan untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan pengelolaan perusahaan, termasuk penggunaan AI dalam pemodelan keuangan.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menekankan bahwa pengembangan teknologi tidak boleh berhenti pada munculnya gagasan atau konsep baru. Setiap inovasi harus bisa diterapkan dan memberikan dampak terhadap kegiatan perusahaan dalam jangka panjang.
"Keberhasilan inovasi yang sesungguhnya bukan ketika inovasi tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan," ujar Melati dalam Media Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Jumat (6/11/26).
Di tengah kebutuhan industri aluminium dan perlunya untuk meningkatkan daya saing, perbaikan proses produksi, pemanfaatan teknologi digital, hingga efisiensi penggunaan sumber daya menjadi sejumlah aspek yang dapat menentukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan produk secara lebih kompetitif.
Inalum juga melibatkan berbagai unit usaha dalam pengembangan inovasi, termasuk PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) dan PT Indonesia Aluminium Alloy (IAA). Keterlibatan anak perusahaan ini memperluas penerapan perbaikan operasional agar tidak hanya terpusat di fasilitas produksi utama.
"Jangan sampai ide terbaik kita hanya tersimpan sebagai dokumen," ujar Melati.