MARKET DATA

Sagu di RI Bakal Naik Kelas, Dipakai untuk Industri Migas dan Farmasi

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
05 November 2026 16:35
Tanaman Sagu. (Dok. kemdikbud)
Foto: Tanaman Sagu. (Dok. kemdikbud)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji akan mendorong pengembangan industri sagu hingga produk turunannya. Bahkan, Sarmuji akan mendorong penggunaan sagu di industri minyak dan gas (migas) serta farmasi.

"Ternyata yang kita concern tentang sagu, sudah kita mulai dan industri sagu kita juga sudah mulai melangkah sebagai sebuah industri beserta turunannya. Tadi saya melihat ada mie dari sagu, bahkan ada pasta dari sagu, dan banyak lagi produk-produk sagu yang menurut saya sudah advance," kata Sarmuji di kantornya, Kamis (5/11/2026).

Namun, Dia menilai pengembangan industri sagu masih membutuhkan dukungan regulasi dan teknologi agar produk turunan dari sagu bisa semakin banyak dan memiliki nilai jual tinggi.

"Tinggal butuh dukungan kita semua, terutama pada regulasi, pada teknologi, dan dukungan-dukungan yang lain," terang Sarmuji.

Sarmuji melanjutkan, industri sagu kini tak hanya untuk memenuhi sektor makanan dan minuman, melainkan sudah mulai bisa bergerak di sektor migas, terutama untuk kebutuhan pengeboran (driling).

Apalagi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah mulai melakukan uji coba pemanfaatan tepung sagu untuk aktivitas pengeboran.

Menurutnya, kebutuhan tepung sagu untuk pengeboran bisa mencapai 10 ton per sumur. Dengan jumlah sumur migas yang mencapai ratusan, sektor ini dinilai dapat menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri sagu nasional.

"Dengan memanfaatkan untuk drilling itu, saya tanya tadi ada berapa kebutuhannya per sumur, ternyata per sumur itu 10 ton. Kalau di Pertamina memakai 10.000 ton per sumur, dan ada sekitar 900 sumur, itu saja sudah captive market yang luar biasa," jelas Sarmuji.

Pemerintah pun tengah mempertimbangkan penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) serta kebijakan yang mendorong penggunaan sagu sebagai bahan baku industri.

"Kita lagi berpikir bagaimana kita meng-SNI-kan, lalu kita meng-endorse ini sebagai bagian yang seperti sebuah mandatore bagi industri, terutama tadi drilling tadi itu, dan industri-industri yang lain yang bisa memanfaatkan sagu sebagai bahan baku," ujarnya.

Selain migas, sagu juga berpotensi dimanfaatkan dalam industri farmasi, di mana sagu dapat mempercepat proses penyerapan obat di dalam tubuh.

"Ada juga sagu yang bisa dimanfaatkan untuk penyerapan obat. Kalau tanpa tepung sagu, dia harus sampai sekitar 29 menit, tapi dengan campuran sagu ini, penyerapan dalam tubuh untuk obat itu enggak sampai 1 menit," ungkapnya.

Tak hanya di dalam negeri, potensi ekspor sagu juga cukup menjanjikan, di mana pada 2025, nilai impor pati sagu Jepang secara keseluruhan mencapai US$ 10,5 juta, meningkat 35% dibandingkan 2021.

Meski Malaysia masih menjadi pemasok utama, pemerintah berupaya memperluas akses pasar Indonesia melalui kemitraan dengan pihak Jepang.

"Ekspor ke Jepang, memang belum maksimal ekspor kita. Data 2025, baru 14% kebutuhan sagu Jepang itu kita supply dari Indonesia. Tapi itu sudah menunjukkan peningkatan, karena 2021 kalau nggak salah hanya 2%," katanya lagi.

(chd/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Waspada! Ini Efek Buruk Anjloknya Produksi Minyak Kayu Putih RI


Most Popular
Features