MARKET DATA

RI Punya Sumur Panas Bumi yang Usianya 100 Tahun, Ini Lokasinya

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
05 November 2026 12:05
Sumur Panas Bumi Peninggalan Belanda di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)
Foto: Sumur Panas Bumi Peninggalan Belanda di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membeberkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam pengembangan energi panas bumi (geothermal) dalam negeri. Tak ayal, pengembangan panas bumi di Indonesia yang kini hampir memasuki usia 100 tahun.

Sejarah panjang itu dibuktikan dengan adanya sumur panas bumi pertama di tanah air, yakni Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Sumur Kamojang 3 yang terletak di area Kamojang, Jawa Barat.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengungkapkan bahwa Sumur Kamojang 3 pertama kali dibor pada zaman kolonial Belanda dan hingga saat ini masih terus aktif mengeluarkan uap alami setelah satu abad.

"Tahun ini merupakan tahun yang spesial buat PGE di mana geothermal Indonesia itu masuk ke dalam 100 tahun. Ceritanya berdasarkan time frame ada satu sumur di lapangan pertama Indonesia yaitu lapangan di area Kamojang, Sumur Kamojang 3. Sumur Kamojang 3 ini sudah 100 tahun, dibor di zaman Belanda dulu ya, sampai saat ini masih mengeluarkan uap," ujarnya dalam Media Briefing PGE, di Jakarta, dikutip Kamis (5/11/2026).

Dia menjelaskan bahwa keaktifan Sumur Kamojang 3 yang bertahan selama satu abad menjadi bukti dari sifat energi panas bumi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable). Sementara itu, fasilitas pembangkit di Lapangan Kamojang sendiri telah beroperasi secara komersial sejak tahun 1983 atau sekitar 43 tahun.

"Nah ini bentuk dari bahwasannya geothermal itu sustainable, berkelanjutan. Jadi kalau di Kamojang itu sendiri beroperasi sejak 1983, berarti sekitar 43 tahun saat ini. Ini memperlihatkan dia sustainable, bahkan kalau kita bandingkan lagi yang di luar negeri itu ada yang sudah 100 tahun seperti Larderello di Italia, atau Wairakei di New Zealand yang sudah 60 tahun," paparnya.

Saat ini, Kamojang menjadi generator produksi dan kontributor terbesar bagi PGE dengan total kapasitas terpasang mencapai 235 Mega Watt (MW). Hingga September 2026, WKP Kamojang mencatatkan porsi produksi listrik sebesar 1.438 Gigawatt-hour (GWh), atau tumbuh sebesar 8,4% secara tahunan (year-on-year).

Dia menilai, jejak panjang pengelolaan di Kamojang menjadi kunci bagi perusahaan untuk mengejar target peningkatan kapasitas terpasang menjadi 1 Giga Watt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034 mendatang.

"Momen 100 tahun ini bukan hanya sebagai momen sejarah, tapi saatnya kita memperlihatkan kepada dunia bahwasannya kita itu bisa menjadi leaders dalam pengembangan panas bumi," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tidak Cuma Soal Cuan, Panas Bumi Juga Membangun Ekonomi Masyarakat


Most Popular
Features