BUMN Tambang Ini Mulai Gali 'Harta Karun Langka', Bisa untuk Alutsista
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertambangan RI telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk menggali "harta karun langka" yang kini tengah diperebutkan dunia. "Harta karun langka" yang dimaksud ini yaitu Logam Tanah Jarang (LTJ).
Seperti diketahui, dunia kini berebut mineral kritis ini. Bukan tanpa alasan, jumlahnya yang terbatas, serta pemanfaatannya untuk industri berteknologi canggih membuat dunia berlomba-lomba mencari Logam Tanah Jarang ini. Hasil pengolahan mineral kritis ini bahkan bisa digunakan untuk bahan baku modernisasi alat sistem pertahanan atau alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Adapun BUMN tambang yang mengantongi IUP Eksplorasi LTJ dari Kementerian ESDM yakni PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).
Perminas kini tengah melakukan eksplorasi tambang LTJ di Mamuju, Sulawesi Barat. BUMN pertambangan tersebut mulai menjalankan kegiatan eksplorasi untuk menghitung kembali potensi sumber daya dan cadangan di wilayah konsesi tersebut.
Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas La Ode Tarfin Jaya mengatakan bahwa IUP Eksplorasi tersebut telah terbit pada Juli 2026, disusul dengan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) eksplorasi pada Agustus 2026.
Saat ini, kegiatan eksplorasi difokuskan pada dua blok dengan area masing-masing seluas 100 hektare atau total 200 hektare.
"Jadi Mamuju itu kan kita sudah mendapatkan dari pemerintah dalam hal ini dari Kementerian ESDM cq Ditjen Minerba itu IUP Eksplorasi. Nah eksplorasi itu kita sudah terbit di bulan Juli tapi kemudian RKAB-nya itu di bulan Agustus. RKAB untuk eksplorasi. Nah kami eksplorasi di kisaran kurang lebih di dua blok itu masing-masing 100 hektare, total 200 hektare," katanya saat ditemui di sela acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026 di Jiexpo, Selasa (3/11/2026).
Progres pengeboran in-fill di Mamuju saat ini baru mencapai sekitar 10% atau telah merambah 72 titik dari total target 200 titik bor dengan kerapatan 50x50 meter. Pengeboran dengan kerapatan tinggi tersebut ditujukan untuk mendetailkan serta merapatkan hasil scout drilling yang telah dilakukan oleh Badan Geologi sebelumnya.
"Sekarang kami lagi melakukan drilling rapat in-fill di 200 hektar itu saat ini baru di 10%, di 72 titik ya yang kami lakukan dengan kerapatan 50 50, 50x50. Ini perlu kami lakukan karena untuk mendetailkan apa-apa yang sudah dilakukan oleh Badan Geologi sebelumnya," tambahnya.
Perhitungan resmi mengenai estimasi jumlah sumber daya dan cadangan LTJ ditargetkan rampung pada tahun depan setelah seluruh 200 titik pengeboran diselesaikan dan dievaluasi. Potensi komoditas LTJ di Mamuju tersebut memiliki karakteristik tipe ion-adsorption clay primer, serupa dengan deposit di Bayan Obo China, Myanmar, serta Caldeira Brasil.
"Nah LTJ kalau di Mamuju itu tipikalnya ion-adsorption clay. Jadi dia tipikal yang sama dengan misalnya Bayan Obo di China atau yang di Myanmar, atau di Caldeira Brazil, itu adalah tipe logam tanah jarang yang primer," terangnya.
Lebih lanjut, dia menyebut, Perminas mengelola wilayah konsesi LTJ di Mamuju dengan total luas mencapai 7.300 hektare yang terbagi dalam dua blok.
Selain proyek di Mamuju, Perminas yang berada di bawah BPI Danantara juga melakukan koordinasi intensif dan riset bersama PT Timah untuk pemanfaatan Sisa Hasil Pengolahan (SHP) serta tin slag menjadi LTJ.
"Kita menunggu, menunggu, menunggu. Yang jelasnya sekarang kan Mamuju 7.300 hektare di dua blok. Jadi kalau misalnya pemerintah misalnya memberi tugas lagi ya kita siap timnya, prinsipnya itu," tandasnya.
Didukung Prabowo
Penambangan dan pengolahan LTJ ini didukung oleh Presiden Prabowo Subianto. Presiden Prabowo dalam sejumlah kesempatan kerap menyampaikan bahwa Indonesia patut bersyukur karena memiliki mineral kritis yang menjadi rebutan dunia.
Salah satunya saat Pidato RUU APBN 2026 dan Nota Keuangan dalam Rapat Paripurna DPR RI, Jumat, 15 Agustus 2025 lalu.
Presiden Prabowo Subianto mengaku bersyukur bahwa Indonesia dikaruniai "harta karun super langka" alias Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth element (REE). Pasalnya, mineral kritis ini bisa digunakan untuk memodernisasi alat sistem pertahanan bangsa ini.
Dengan adanya potensi logam tanah jarang di negeri ini, dia pun menegaskan sumber daya alam ini harus dikelola sebaik-baiknya.
"Kita harus kuasai kendalikan membela dan mengelola semua kekayaan bangsa Indonesia. Untuk itu, kita harus modernisasi alat sistem pertahanan, memperkuat komponen cadangan kita. Kita berdayakan industri strategis nasional, serta kesejahteraan prajurit bangsa. Alhamdulillah yang Maha Kuasa telah memberi karunia kita, kita memiliki mineral-mineral, yang disebut tanah jarang, rare earth kita punya semua rare earth di dunia kita miliki," tuturnya saat pada Pidato RUU APBN 2026 dan Nota Keuangan dalam Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (15/08/2025).
"Dan rare earth ini vital untuk kehidupan teknologi tinggi untuk kehidupan modern dan juga pertahanan modern," ujarnya.
"Saudara-Saudara, kita harus menciptakan SDM unggul agar semua SDA kita bisa manfaatkan secepatnya," tandasnya.
Perlu diketahui, Logam Tanah Jarang (LTJ) ini merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk "critical mineral" yang terdiri dari 17 unsur, antara lain scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).
Beberapa material alutsista menggunakan unsur LTJ sebagai unsur paduan, antara lain material Terfenol-D, paduan tiga logam terdiri dari Terbium (Te), Iron (Fe), dan Dysprosium (Dy) sebagai material peredam gelombang sonar pada teropong bidik senapan malam (TBSM) untuk material optic Yttrium aluminium garnet (YAG) dan lainnya.
Potensi LTJ RI
Mengutip Booklet Logam Tanah Jarang yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2020, potensi mineral tanah jarang di Indonesia berasal dari beberapa produk turunan dari hasil pengolahan sejumlah mineral, seperti timah, emas, alumina, pasir zircon hingga nikel.
Adapun lokasinya mayoritas berada di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.
Dari total 28 lokasi mineralisasi LTJ yang terungkap, baru sekitar 9 lokasi mineralisasi LTJ (30%) telah dieksplorasi awal, namun 19 lokasi mineralisasi LTJ (70%) belum dilakukan/ belum optimal dilakukan eksplorasi.
Berikut beberapa jenis mineral tanah jarang di Indonesia:
- Monasit dan Xenotime, merupakan by-product atau hasil ikutan dari pengolahan bijih timah. Potensinya terdapat di tambang timah di Bangka Belitung.
- Monasit:
Indonesia telah memiliki sumber daya monasit sebesar 185.179 ton logam yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. Hasil analisa konsentrat monasit dalam timah antara lain 31,5% CeO2, 13,2% La2O3, 11% Nd2O3, 3,9% Y2O3, 2,98% Pr6O11, 1,98% Gd2O3, 1,96% Sm2O3.
Ada 3 provinsi yang memiliki potensi logam tanah jarang, antara lain:
1. Kepulauan Riau, sumber daya LTJ 2.268 ton.
2. Kepulauan Bangka Belitung, sumber daya LTJ 181.735 ton.
3. Kalimantan Barat, sumber daya LTJ 1.175 ton.
- Xenotime:
Indonesia telah memiliki sumber daya xenotime sebesar 20.734 ton logam yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. Adapun lokasinya berada di Kepulauan Bangka Belitung.
- Zirconium silicate, merupakan by-product atau hasil ikutan dari pengolahan bijih timah dan emas, serta di dalam pasir zircon. Potensinya terdapat di tambang pasir zirkon di Kalimantan. Adapun unsur LTJ di dalamnya antara lain Y (Yttrium) dan Ce (cerium).
- Ferrotitanates, merupakan residu hasil pengolahan bauksit menjadi alumina. Potensinya terdapat di lumpur merah (red mud) di Kalimantan Barat.
- Bijih nikel laterit, merupakan by-product atau hasil ikutan dari pengolahan bijih nikel laterit melalui proses hidrometalurgi yaitu smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) nikel-cobalt. Potensinya terdapat di tambang nikel (limonit) di Sulawesi. Unsur LTJ antara lain Sc (scandium), Nd (neodymium), Pr (praseodymium), Dy (disprosium))
- Batuan granit
- Abu batu bara/FABA (monasit).
Sumber Daya LTJ per Daerah:
1. Sumatra
Jenis endapan LTJ pelapukan. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 19.917 ton.
2. Bangka Belitung
Jenis endapan LTJ tailing. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 383.239,8 ton.
3. Kalimantan
Jenis endapan LTJ laterit. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 219 ton.
4. Sulawesi
Jenis endapan LTJ laterit. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 443 ton.
5. IUP Timah Bangka Belitung dan Kepulauan Riau (darat dan laut)
Jenis endapan aluvial. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 180.323 ton.