Q3 Belum Ada Apa-Apanya, Tekanan Ekonomi RI akan Terasa Akhir 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan terjaga pada kuartal III-2026, melanjutkan stabilitas pertumbuhan pada kuartal II-2026.
Pada periode Agustus-September 2026, ekonom Prasasti memperkirakan, laju pertumbuhan masih akan berada di kisaran 5,2%, sedikit melandai dari realisasi pada kuartal II-2026 yang mampu tumbuh 5,29%.
Dari sisi pembentuknya, pertumbuhan di atas 5% terutama ditopang konsumsi rumah tangga, penyumbang terbesar PDB, yang masih bertahan meski kehilangan momentum.
Penjualan eceran riil pun kembali tumbuh 1,3% setelah terkontraksi pada kuartal II, tetapi pertumbuhan transaksi kartu dan uang elektronik melambat dan keyakinan konsumen turun, meski masih di zona optimistis. Pembedanya pada kuartal III adalah ekspor manufaktur, yang mulai pulih dan menahan perlambatan.
"Sepanjang kuartal III, kenaikan ekspor manufaktur terutama berasal dari produk turunan sawit dan elektronik," kata Research Director Prasasti Adhi N. Saputro dikutip dari keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Meski begitu, Prasasti menegaskan, angka kuartal III yang solid belum mencerminkan tekanan sesungguhnya. Dampak terberat dari harga minyak, El Niño, dan kebakaran hutan diperkirakan baru akan terasa penuh pada kuartal IV, sementara ruang untuk stimulus tambahan terbatas karena beban subsidi energi berisiko naik dan agenda prioritas nasional turut menyerap APBN.
Dari sisi eksternal, konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi dunia mendorong harga minyak naik dan menekan Indonesia sebagai negara pengimpor energi. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) rata-rata hampir US$92 per barel pada Januari-September 2026, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70.
Dampaknya mulai terasa: pada Oktober, kelompok transportasi-terutama bensin-menyumbang 0,59 poin persentase inflasi tahunan. Imbasnya merambat ke neraca eksternal. Defisit transaksi berjalan yang melebar pada kuartal II dan rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar AS membuat kebijakan harus memprioritaskan stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin menjadi 5,75% sepanjang tahun ini.
"Angka kuartal III terlihat solid karena sebagian tekanan belum sepenuhnya merambat ke perekonomian. Ada jeda dari fluktuasi harga minyak, penurunan panen, dan karhutla. Dampaknya baru akan terasa penuh pada kuartal IV, tepat ketika ekonomi justru dituntut tumbuh lebih cepat," kata Adhi.
Berangkat dari kondisi tersebut, Prasasti menilai target APBN sebesar 5,4% sulit tercapai pada 2026, meski tidak mustahil untuk dikejar. Untuk mencapainya, ekonomi perlu tumbuh sekitar 5,5% YoY pada kuartal IV/2026, di atas basis yang tinggi (5,39% pada kuartal IV/2025).
Persoalannya, percepatan itu harus dicapai ketika tiga tekanan memuncak bersamaan. Pertama, harga minyak yang tetap tinggi merambat ke biaya produksi dan transportasi, menekan margin dunia usaha, dan memperbesar tagihan impor.
Kedua, El Niño menekan produksi padi, yang turun 18,3% pada September dan diperkirakan turun 16,3% pada Oktober-Desember 2026, sehingga berpotensi mendorong harga bahan pokok di tengah inflasi yang sudah bertahan di atas 3%. Kelompok berpendapatan rendah paling rentan, karena pangan menyumbang porsi terbesar pengeluaran mereka dan tabungan mereka sudah menipis.
Ketiga, kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung hingga Oktober di Kalimantan dan Sumatra mengganggu aktivitas ekonomi, dan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.
Tekanan tersebut sulit diredam karena ruang fiskal dan moneter terbatas. Bank Indonesia pun menurut Prasasti harus menjaga rupiah sehingga belum dapat menurunkan suku bunga.
Di sisi fiskal, harga minyak yang kembali melonjak berisiko menaikkan beban subsidi dan kompensasi energi pada kuartal IV, sementara outlook defisit sudah mendekati batas 3% PDB. Dengan demikian, memaksakan pertumbuhan lewat belanja, ekspansi kredit, atau kegiatan kuasi-fiskal berisiko menggerus bantalan fiskal dan stabilitas eksternal.
"Suku bunga bukan lagi sekadar alat pendorong pertumbuhan, melainkan jangkar kepercayaan. Pelonggaran yang terlalu dini bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal," ujar Anggota Board of Advisors Prasasti sekaligus Gubernur Bank Indonesia 2003-2008, Burhanuddin Abdullah.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]