Heboh Transit Ekspor SDA RI, Bos Freeport: Kami Langsung ke Pembeli
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) angkat suara soal isu pengiriman ekspor sumber daya alam (SDA) Indonesia yang melalui negara transit. Perusahaan menegaskan bahwa proses pengiriman komoditas tambang milik PTFI selama ini dilakukan secara langsung kepada pihak pembeli tanpa melalui negara transit.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan bahwa mekanisme penjualan dan pengapalan komoditas ekspor perusahaan selama ini telah berjalan secara langsung dan transparan (straight forward).
"Kalau kita sih straight forward ya, kita kirim kepada yang beli," ujar Tony saat ditemui di Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026, di Jiexpo, dikutip Rabu (4/11/2026).
Tony menjelaskan bahwa transparansi penjualan komoditas tembaga PTFI ditopang oleh standar kualitas produk sebesar 99,99% yang sudah pasti, serta patokan harga yang merujuk pada standar London Metal Exchange (LME). Hal itu membuat seluruh proses transaksi dengan pembeli akhir berjalan jelas tanpa hambatan.
"Kan harga pricing kita juga LME price. Jadi very straight forward lah. Karena kita jualnya 99,99. Kualitasnya udah jelas, four nines. Jadi enggak ada pertanyaan untuk kualitasnya di bawah atau di atas. Kemudian harga LME price udah jelas gitu kan, apa lagi yang mau dipertanyakan," katanya.
Terkait wacana penataan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), perusahaan menyambut baik kebijakan tersebut sepanjang bertindak sebagai agen ekspor yang tidak memperpanjang mata rantai birokrasi perdagangan.
"Ya kalau itu emang baik, ya baik untuk negara ini kan. Selama tidak memperpanjang mata rantai, dan DSI tidak memperpanjang mata rantai birokrasi, kan itu sebagai agent of export," tandasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisadsi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memerintahkan agar kegiatan ekspor sumber daya alam (SDA), termasuk batu bara, langsung dikirim ke negara tujuan. Bukan lagi transit atau ke negara tetangga.
"Tidak boleh lagi SDA kita sekarang ESDM, kalau kirim barang ke China, ya dari Jakarta langsung ke China, tidak boleh dari Jakarta mampir ke negara 'yang itu'. (Negara itu) hanya stample kemudian dia bilang by ekspor dari negara dia. Dari mana barang kau!" ungkap Bahlil dalam Minerba Convex 2026, Jakarta, Senin (2/11/2026).
"Langsung saja, sudah lama barang kita diolah begini terus, saya nggak bisa diolah olah mereka, nggak bisa, saya sudah perintahkan Dirjen Migas," tegasnya.
Tak cuma soal SDA pertambangan, Bahlil juga memerintahkan soal ekspor gas dalam hal ini Liquefied Natural Gas (LNG) yang biasanya diekspor ke Jepang maupun Korea.
"Langsung saja, kenapa harus pakai negara lain. mereka dapat pajak, mereka dapat neraca perdagangan. Baru ada bencana sedikit saja sudah gopoh-gopoh kayak apa aja. jangan kirim lagi kesana. Indonesia berdaulat jangan diatur-atur," tegas Bahlil.
Meskipun Bahlil tak menyebut negara transit tersebut. Namun ia menyatakan, bahwa apa yang dipikirkan para audience di acara Minerba Convex 2026 ini sama dengan isi hatinya.
"Kalian juga tau itu negara, sesuai hati kalian aja. Itu negara jangan mau senangnya saja," tegas Bahlil.
Adapun, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyambut larangan itu, dia juga mempertanyakan Singapura yang tidak memiliki kawasan tambang namun memiliki pencatatan ekspor batu bara yang tinggi.
"Jadi coba yang pembelian dari Singapura ada nggak di data. Pasti ada kan? Yang lewat sana (total ekspor Singapura) itu batu bara mungkin sekitar 50 - 60 (juta ton) gitu lah. Kan nggak ada batu bara di sana, kan nggak mungkin juga kalau misalnya dari sana (Singapura) ke China atau kemana gitu. Pasti dari kita," kata Tri, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (2/11/2026).
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]