Eropa Ngeri! Supermarket 8 Negara Diserang, Berton-ton Makanan Dibuang
Jakarta, CNBC Indonesia - Supermarket-supermarket Eropa kini menjadi sasaran serangan siber. Dimuat Reuters, Senin waktu setempat, merupakan kali kedua ini terjadi.
Serangan tersebut menyebabkan suhu kulkas dan freezer meningkat. Ini membuat banyak supermarket besar bergegas memperbarui sistem mereka Selasa untuk melindungi diri dari upaya peretasan lebih lanjut.
Toko-toko di delapan negara Eropa terpaksa membuang makanan dalam jumlah besar setelah para peretas mengutak-atik kulkas mereka pada Senin. Serangan tersebut identik dengan serangan yang melanda puluhan supermarket di Prancis tiga pekan lalu.
Lalu supermarket negara mana saja yang mengalaminya? Berikut rangkuman CNBCÂ Indonesia, Rabu (4/11/2026).
1.Italia
Di Italia, sedikitnya empat supermarket Coop di Sisilia dan satu usaha di Tuscany terdampak, menurut laporan media dan badan keamanan siber nasional. Kemarin, pemerintah menggelar pertemuan keamanan siber dengan badan intelijen terkait hal ini.
"Serangan terjadi pada pukul 04.00 pagi," kata kepala Radenza Group, Giuseppe Spadaro, yang mengelola supermarket bermerek Coop, kepada kantor berita Italia ANSA.
"Serangan tersebut menargetkan sistem kendali jarak jauh kami untuk bagian makanan beku dan kini telah berhasil diatasi," tambahnya.
2.Belgia
Belgia menjadi salah satu negara yang paling parah terdampak. Puluhan toko dari sejumlah jaringan supermarket melaporkan kegagalan sistem pendingin.
"Ini adalah serangan siber, tidak ada alasan lain," kata juru bicara Carrefour Belgia, Mich Vergauwen, yang melaporkan gangguan di sekitar 15 dari total 700 tokonya.
Ikea juga mengatakan demikian. Gerainya di Mons mengalami serangan siber yang menyebabkan suhu freezer meningkat.
Perusahaan pendingin Belgia, Sabcobel, mengatakan telah mulai mengamankan instalasi sistemnya setelah serangan pada Oktober di Prancis. Namun, sejumlah sistem belum selesai diperbarui dan termasuk yang terdampak pada Senin.
Delhaize, Colruyt, dan Intermarche juga melaporkan masalah sistem pendingin di sejumlah toko mereka di Belgia. Sementara itu, empat gerai Delhaize di Luksemburg turut terdampak.
3.Irlandia
Di Irlandia, peritel Musgrave mengatakan 13 toko Supervalu terdampak insiden siber. Sejumlah kecil toko kelontongnya di Belanda juga mengalami gangguan.
4.Portugal
Di Portugal, kelompok Mosqueteiros mengonfirmasi kepada AFP adanya insiden di tujuh toko Intermarché yang terkait dengan serangan siber. Serangan tersebut "tampaknya menargetkan penyedia layanan eksternal yang bertanggung jawab mengelola sistem pendingin".
5.Swedia
Di Swedia, Coop mengonfirmasi enam dari sekitar 800 tokonya menjadi sasaran serangan. Ia mengatakan Coop tidak mengetahui siapa yang berada di balik serangan tersebut tapi mencatat bahwa toko-toko yang terdampak masih terhubung dengan jaringan seluler 4G, bukan sistem 5G yang telah diperbarui.
"Kami dapat memastikan bahwa ini merupakan insiden siber. Masalahnya kini telah diatasi dan kulkas serta freezer sudah berfungsi normal," kata juru bicara Carlos Cancino kepada AFP.
Jaringan supermarket Swedia lainnya, Ica, juga mengatakan hal sama. Sejumlah kecil tokonya mengalami masalah sistem pendingin, meskipun tidak mengonfirmasi adanya serangan siber.
Menurut juru bicara Ica, Helena Johansson, seluruh toko yang terdampak terhubung dengan sistem kendali pendingin eksternal yang disediakan produsen asal Denmark, Danfoss. Pemasok yang sama juga menjadi sasaran dalam serangan siber terhadap peritel Prancis pada 12 Oktober.
Johansson mengarahkan seluruh pertanyaan kepada Danfoss. Namun, perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar wartawan.
6.Finlandia
Di Finlandia kejadian serupa juga terjadi. Suhu yang tidak normal juga terdeteksi di sejumlah kecil toko bahan makanan berukuran lebih kecil milik kelompok Kesko.
"Kami saat ini sedang menyelidiki penyebabnya dan belum mengesampingkan kemungkinan adanya gangguan melalui jaringan," kata Petri Kayhko, kepala keamanan perusahaan Kesko, kepada AFP.
Roni Kokkola, spesialis keamanan informasi di Pusat Keamanan Siber Nasional yang berada di bawah Badan Transportasi dan Komunikasi Finlandia (Traficom), juga tidak mengesampingkan kemungkinan adanya gangguan siber.
"Kami telah melihat kejadian seperti ini di Eropa dalam beberapa bulan terakhir. Jadi, penyebarannya dari Prancis ke negara-negara lain sebenarnya sudah diperkirakan," katanya lagi.
"Saat ini, sangat lazim berbagai jenis kerentanan dieksploitasi secara semakin aktif dan cepat," tambahnya.
7.Estonia
Di Estonia, sedikitnya satu supermarket diserang peretas yang menaikkan suhu unit pendingin hingga mencapai 50 derajat Celsius. Laporan dimuat lembaga penyiaran publik ERR.
"Unit pendingin tersebut merupakan model lama yang dipasok oleh Danfoss, serupa dengan perangkat yang menjadi sasaran serangan di Prancis," kata Direktur Kitman Coldtech, Jann Mutso, produsen dan distributor sistem pendingin canggih.
Sementara itu, direktur jenderal asosiasi peralatan rumah tangga Eropa APPLiA, Paolo Falcioni, mengatakan kepada Euronews bahwa ketahanan siber di supermarket memiliki pengujian yang sangat praktis.
"Jika akses jarak jauh terganggu, apakah staf masih dapat memeriksa suhu dan mengambil tindakan untuk melindungi rantai pendingin? Produsen dan peritel sama-sama memiliki peran untuk memastikan jawabannya adalah ya," ujarnya.
"APPLiA mendukung kerangka kerja bersama di tingkat Eropa untuk keamanan siber produk-produk yang terhubung ke internet. Keamanan harus dimulai sejak tahap desain dan terus dijaga sepanjang masa pakai produk, melalui pembaruan keamanan serta prosedur yang jelas dalam menangani kerentanan," jelasnya.
"Seiring Eropa menerapkan Undang-Undang Ketahanan Siber (Cyber Resilience Act), kita membutuhkan standar praktis yang mencerminkan bagaimana produk digunakan dan apa yang dapat terjadi jika produk tersebut diretas," tambahnya.
8.Inggris
Di Inggris, para peretas mencoba menargetkan perusahaan pengolahan daging berskala kecil. Namun Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) menegaskan dampaknya minimal.
"NCSC bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk mendeteksi kerentanan dan menutupnya sebelum seseorang mengeksploitasi kelemahan tersebut," kata Kepala Eksekutif NCSC Richard Horne dimuat Reuters.
"Kami jelas berada dalam kondisi kewaspadaan tinggi," tegasnya.
"Serangan terhadap kulkas supermarket hanyalah tanda awal dari gangguan yang kemungkinan akan semakin sering terjadi, seiring teknologi lama yang tidak mampu mengimbangi perkembangan kemampuan para peretas."